Bullying merupakan permasalahan sosial yang kompleks dengan dampak buruk yang signifikan terhadap korban, pelaku, dan lingkungan sekolah secara keseluruhan . Bullying didefinisikan sebagai perilaku agresif yang disengaja dan berulang yang melibatkan ketidakseimbangan kekuatan. Bullying terwujud dalam berbagai bentuk, termasuk bullying fisik, verbal, sosial, dan cyberbullying yang semakin marak.
Menurut riset dari Program for International Students Assessment (PISA), 41% siswa di Indonesia mengalami bullying. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh LSM Plan International dan International Center for Research on Women (ICRW) pada tahun 2015 menunjukkan bahwa di tingkat Asia, kasus bullying yang terjadi pada siswa di sekolah mencapai angka 70% Di Surabaya, fenomena ini juga terlihat jelas, terutama di sekolah-sekolah dasar, di mana perilaku bullying sering kali muncul dalam bentuk verbal seperti ejekan dan pengucilan sosial [3].
\Dampak dari bullying sangat signifikan, termasuk penurunan prestasi akademik, gangguan mental seperti depresi, dan dalam kasus ekstrem, dapat menyebabkan korban melakukan tindakan bunuh diri. Oleh karena itu, diperlukan peran aktif dari sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat untuk mencegah dan menangani kasus bullying. Langkah-langkah yang dapat diambil meliputi edukasi mengenai bullying, penerapan kebijakan anti-bullying di sekolah, serta pemberian sanksi tegas kepada pelaku bullying [4][5].
Penelitian ini menggunakan desain pra- dan pasca-intervensi untuk menilai dampak program kewaspadaan terhadap bullying pada siswa kelas tiga di sekolah dasar di Surabaya. Seluruh 121 siswa kelas tiga diundang untuk berpartisipasi; 112 siswa hadir pada hari intervensi dan memberikan persetujuan untuk berpartisipasi. Pemilihan sekolah dasar ini didasarkan pada data sebelumnya yang menunjukkan potensi tekanan emosional di antara siswa, yang mungkin terkait dengan pengalaman bullying. Mereka mengisi Revised Olweus Bullying Questionnaire, yang terdiri dari 22 pernyataan.
Program kesadaran terhadap perundungan dilaksanakan pada tanggal 12 Februari 2025, dan terdiri dari satu sesi luring. Sesi tersebut disusun sebagai berikut:
• Penyuluhan Edukasi: Presentasi yang membahas definisi bullying, berbagai jenis bullying (verbal, fisik, sosial), dan strategi mengatasinya.
• Pemberian Kuesioner: Siswa melengkapi Revised Olweus Bullying Questionnaire untuk menilai pengalaman mereka dengan bullying. Kuesioner diberikan setelah presentasi edukasi untuk memastikan siswa memiliki pemahaman yang jelas tentang konsep bullying.mengatasi situasi bullying.
• Sesi Tanya Jawab: Sesi tanya jawab memberikan kesempatan siswa untuk mengajukan pertanyaan dan mengklarifikasi ketidakpastian terkait perundungan.
• Dokumentasi: Sesi didokumentasikan dengan foto-foto untuk tujuan pendidikan dan pelaporan.
Dari pengisian kuesioner, didapatkan murid laki-laki sebanyak 63 orang dan perempuan sebanyak 49 anak. Dari 112 orang, terdapat 15 anak (13.4%) yang mempunyai pengalaman bullying sedang, dan sebanyak 4 anak (3.6%) yang mempunyai pengalaman bullying berat. Dari 15 anak yang mengalami bullying sedang, 11 diantaranya adalah laki-laki, sisanya perempuan. Dari 4 anak yang mempunyai pengalaman bullying berat, 3 anak adalah laki-laki. Sebagian besar murid-murid kelas 3 tidak mengalami bullying.
Tabel 1. Jenis kelamin dan jumlah peserta
| Jenis Kelamin | |
| Laki-laki | 63 (56.25%) |
| Perempuan | 49 943.75%) |
Hasil dari Revised Olweus Bullying Questionnaire menunjukkan bahwa 15 siswa (13,4%) melaporkan mengalami bullying sedang, dan 4 siswa (3,6%) melaporkan mengalami bullying berat (Gambar 2). Di antara mereka yang melaporkan bullying sedang, 11 adalah laki-laki dan 4 adalah perempuan. Dari siswa yang melaporkan bullying berat, 3 adalah laki-laki dan 1 adalah perempuan.
Tabel 2. Hasil pengisian Revised Olweus Bullying Questionnaire
| Normal | Sedang | Berat | |
| Pengalaman Bullying | 93 (83%) | 15 (13.4%) | 4 (3.6%) |
Siswa berpartisipasi aktif dalam sesi edukasi dan sesi tanya jawab. Mereka berpartisipasi dengan mendengarkan dan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh presenter. Mereka menunjukkan sikap antusias selama sesi berlangsung. Pertanyaan yang diajukan oleh siswa antara lain: “Mengapa kita harus melaporkan bullying kepada guru?” dan “Bagaimana jika melaporkan kepada guru justru memperburuk bullying?”
Temuan penelitian ini mengungkap bahwa bullying menjadi perhatian di kalangan siswa sekolah dasar di SDN Klampis Ngasem 1 Surabaya. Prevalensi pengalaman bullying sedang (13,4%) dan berat (3,6%) menyoroti perlunya intervensi proaktif dan strategi pencegahan.
Prevalensi pengalaman bullying yang lebih tinggi di kalangan siswa laki-laki sejalan dengan beberapa penelitian sebelumnya yang menunjukkan adanya perbedaan gender dalam keterlibatan dalam bullying. Hal ini mungkin disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk ekspektasi masyarakat dan perbedaan dalam cara anak laki-laki dan perempuan mengekspresikan agresi [6].
Pertanyaan terbuka yang diajukan oleh siswa selama sesi tanya jawab menunjukkan keterlibatan mereka dengan topik tersebut dan kebutuhan mereka akan bimbingan tentang cara menangani situasi bullying secara efektif. Pertanyaan mengenai pelaporan kepada guru dan potensi pembalasan menggarisbawahi pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan mendukung di mana siswa merasa nyaman melaporkan bullying tanpa takut akan bahaya lebih lanjut. Pertanyaan ‘mengapa kita harus melaporkan bullying ke sekolah?’ menunjukkan pikiran sederhana mereka dan ketidaktahuan mereka bahwa guru harus tahu apa yang terjadi di lingkungan sekolah. Selain itu, pertanyaan kedua ‘bagaimana jika melaporkan kepada guru memperburuk bullying?’ menunjukkan bahwa anak-anak ini telah mengalami bullying sebelum sesi ini, yang membuat mereka ingin tahu bagaimana mereka dapat menangani situasi ini di sekolah.
Temuan ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang menekankan dampak buruk dari bullying. Konsekuensi bullying tidak hanya berupa kerusakan fisik langsung, tetapi juga dapat menyebabkan masalah psikologis jangka panjang seperti kecemasan, depresi, dan bahkan keinginan bunuh diri. Korban sering melaporkan gejala fisik seperti sakit kepala dan sakit perut, yang dapat memengaruhi kehadiran di sekolah dan prestasi akademis mereka [7][8]. Bullying di sekolah dasar sering kali berupa ejekan verbal dan agresi fisik. Bullying sosial, seperti pengucilan, juga dapat berdampak negatif, yang menyebabkan perasaan kesepian [9] [10].
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya bullying di sekolah, antara lain kurangnya keterlibatan orang tua, paparan kekerasan melalui media sosial, dan kurangnya perhatian di rumah [11]. Faktor psikologis berperan penting dalam perilaku bullying. Penelitian menunjukkan bahwa sifat-sifat seperti harga diri yang rendah, agresi, dan gangguan kejiwaan tertentu dapat membuat anak-anak cenderung melakukan bullying. Misalnya, anak-anak dengan masalah perilaku sering kali lebih mungkin terlibat dalam melakukan dan mengalami bullying [12].
Dinamika keluarga dan gaya pengasuhan sangat penting dalam membentuk perilaku anak. Pola asuh otoriter, yang dicirikan oleh tuntutan tinggi dan respons yang rendah, telah dikaitkan dengan meningkatnya perilaku bullying pada anak. Anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang sering terjadi hukuman fisik atau agresi verbal dapat menginternalisasi perilaku ini sebagai cara yang dapat diterima untuk berinteraksi dengan teman sebaya. Lebih jauh lagi, paparan terhadap kekerasan dalam keluarga dapat menormalkan perilaku agresif pada anak-anak, sehingga mereka lebih mungkin untuk melakukan bullying pada orang lain di sekolah [13].
Suasana sekolah sangat memengaruhi dinamika bullying. Sekolah yang tidak memiliki pengawasan yang efektif dan memiliki budaya ketidakpedulian terhadap bullying cenderung memiliki tingkat perilaku tersebut yang lebih tinggi. Penelitian menunjukkan bahwa ruang kelas yang penuh sesak dan sekolah dengan sumber daya yang tidak memadai berkontribusi pada lingkungan tempat bullying dapat bertambah [12].
Status sosial ekonomi (SES) merupakan faktor penting lain yang memengaruhi bullying. Anak-anak dari latar belakang SES yang lebih rendah mungkin mengalami tingkat stres dan ketidakstabilan yang lebih tinggi di rumah, yang dapat bermanifestasi sebagai perilaku agresif di sekolah [14]. Selain itu, kesulitan ekonomi dapat membatasi akses ke sumber daya yang mendukung interaksi sosial yang sehat, seperti kegiatan ekstrakurikuler atau layanan konseling. Disimpulkan bahwa siswa dari latar belakang miskin lebih rentan melakukan dan menjadi korban bullying karena tantangan lingkungan sosial mereka [15].
Hubungan dengan teman sebaya sangat penting dalam konteks bullying. Keinginan untuk diterima dan diakui oleh teman sebaya dapat menyebabkan beberapa anak terlibat dalam perilaku bullying sebagai cara untuk menyesuaikan diri atau mendapatkan status dalam kelompok sosial mereka. Sebaliknya, kurangnya persahabatan yang mendukung dapat meningkatkan kemungkinan menjadi korban [16] [17].
Pencegahan perundungan memerlukan pendekatan komprehensif yang mencakup pendidikan siswa dan guru, mempromosikan perilaku positif di rumah dan sekolah, serta menumbuhkan budaya rasa hormat dan empati [18]. Suasana sekolah memainkan peran penting dalam mengurangi atau memperparah perilaku bullying. Iklim sekolah yang positif yang ditandai dengan hubungan yang mendukung antara siswa dan staf dapat mengurangi kejadian bullying. Sebaliknya, lingkungan yang tidak sehat berkontribusi pada tingkat viktimisasi yang lebih tinggi [19]. Orang tua memiliki peran penting di rumah, di mana sebagian besar waktu anak dihabiskan. Penting bagi orang tua untuk menumbuhkan empati terhadap orang lain, sehingga anak-anak menyadari konsekuensi tindakan mereka terhadap orang lain [19]. Dengan memahami prinsip ini, anak-anak dapat memperoleh wawasan dan pengetahuan bahwa tindakan mereka, secara langsung atau tidak langsung, berdampak pada orang lain [20]
Studi ini menunjukkan bahwa bullying terjadi di kalangan siswa sekolah dasar di Surabaya, Indonesia. Program kesadaran berbasis sekolah dapat menjadi alat yang berharga untuk mendidik siswa tentang bullying dan mengidentifikasi mereka yang membutuhkan dukungan. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya upaya pencegahan dan intervensi bullying yang berkelanjutan di sekolah dasar, termasuk menciptakan lingkungan pelaporan yang aman dan menangani faktor-faktor mendasar yang berkontribusi terhadap bullying. Strategi yang efektif harus melibatkan kolaborasi antara orang tua, pendidik, dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi semua siswa.
Penulis: Dr. Yunias Setiawati, dr.,Sp.K.J(K)
Untuk lebih detail terkait A School-Based Intervention to Raise Bullying Awareness
Among Primary School Students in Surabaya, Indonesia dapat diakses di DOI: 10.51542/ijscia.v6i2.3





