Diabetes Ttipe 2 (T2DM) merupakan penyakit metabolic kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar gula darah karena kekurangan atau resistesi insulin. Ketika gula darah tidak terkontrol, maka akan muncul banyak komplikasi, diantaranya penyakit ginjal diabetik. Telah banyak intervensi yang dilakukan oleh petugas kesehatan dalam upaya meningkatkan control glikemik pasien, namun insiden diabetes semakin tinggi dengan peningkatan komplikasi penyakit ginjal kronik yang tak dapat dicegah.
Tim peneliti Universitas Airlangga mencoba menjawab pertanyaan penting dari upaya tersebut yaitu intervensi apakah yang tepat untuk dilakukan perawat dalam upaya mengobtrol gula darah pasien sehingga penyakit ginjal dapat dicegah? Studi ini berfokus pada membangun program interbensi yang terintegrasi dengan pendekatan teknologi untuk menningkatkan kemampuan pasien dalam mengobtrol kadar gula darahnya. Dipahami bahwa penggabungan antara edukasi, monitoring, dan manajemen risiko menjadi kunci dasar pencegahan komplikasi dengan berbasis teknologi terintegrasi. Selain itu, pendekatan multidisiplin, support psikologis dan sosial, serta digitalisasi diyakini dapat meningkatkan efektifitas pencegahan komplikasi ginjal karena diabetes.
Berbasis pada teori self-Care Deficit, Chronic Care Model, Trans Theoretical Model, dan Nephroprotection Theory, tim peneliti melakukan penelitian quasi-experimental pada 110 pasien diabetes berusia 40-65 tahun, dengan HbA1c ³7%. Pasien diwawancara dan diukur kadar HbA1c, creatinine dan GFRnya sebelum dan sesudah dilakukan intervensi. Intervensi yang diberikan Adalah edukasi, manajemen diet, Latihan Gerak, dan monitoring kadar gula darah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar HbA1c, creatinine dan GFR berubah membaik. HbA1c menurun yang mengindikasikan peningkatan control glikemik yang signifikan. Begitu juga creatinine dan GFR. Penurunan ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan yang diberikan menolong pasien untuk mengatur kadar glukosanya jauh lebih baik, di mana hal ini merupakan kunci utama pencegahan komplikasi diabetes jangka panjang. Disamping itu, penurunan GFR dan creatinine mengindikasikan peningkatan fungsi ginjal yang memberikan dampak positif pada pencegahan penyakit ginjal. Perubahan pengetahuan pasien memberikan dampak positif pula pada perilaku menjaga dan mengontrol kadar glukosa darah dan fungsi ginjalnya.
Intervensi keperawatan yang efektif sangat penting dalam mengelola kadar gula darah dan mencegah perkembangan penyakit ginjal diabetes pada pasien dengan diabetes tipe 2. Pelaksanaan intervensi seperti pendidikan pasien tentang pengelolaan diet sehat, pemantauan rutin kadar gula darah, dan peningkatan kepatuhan terhadap obat dapat secara signifikan mengurangi risiko komplikasi ginjal. Selain itu, memberikan dukungan emosional dan psikososial kepada pasien dalam menghadapi tantangan jangka panjang penyakit juga memainkan peran penting. Dengan pendekatan komprehensif dan terkoordinasi antara tenaga medis dan pasien, diharapkan kualitas hidup pasien dapat dijaga, perkembangan penyakit ginjal dapat ditekan, meningkatkan harapan hidup, dan mencegah komplikasi yang lebih serius.
Penulis: Dr. Hafna Ilmy Muhalla, S. Kep., Ns., M. Kep., Sp. Kep. M. B.
Informasi lengkap dapat merujuk pada https://posthumanism.co.uk/jp/article/view/447





