Universitas Airlangga Official Website

Intervensi Mindfulness terhadap Agresivitas pada Remaja dengan Gejala ADHD

Attention Deficit-Hyperactivity Disorder (ADHD) merupakan gangguan neurodevelopmental yang dapat muncul di awal masa anak, gejala seringkali tampak saat anak masuk sekolah dasar. Kasus ADHD dapat menimbulkan dampak besar, seperti kesulitan berprestasi di sekolah, kesulitan interaksi sosial, peningkatan perilaku berisiko akibat agresivitas, serta kesulitan tidur yang dapat memengaruhi kemampuan anak berfungsi secara pribadi, sosial, dan akademik (Abdelnour, et al., 2022; Ayu et al., 2017; Bush, 2010).

Kualitas tidur yang buruk memengaruhi suasana hati, perhatian, perilaku, prestasi di sekolah, dan kualitas hidup sehari-hari. Komorbid gangguan tidur sangat umum pada individu dengan ADHD, namun seringkali tidak mendapat perhatian ataupun diobati. Gangguan tidur dapat menjadi pemicu perilaku agresif (Wajszilber, Santiseban and Gruber, 2018). Perilaku agresif dianggap sebagai pola perilaku yang tidak sehat. Remaja dengan ADHD cenderung mengelola situasi stres dengan penghindaran dan perilaku agresif karena tidak mampu mengelola emosi dan perilaku (Yuldasheva and Ergashova, 2021). Mindfulness merupakan cara praktis untuk mengelola emosi dan perilaku sehingga remaja lebih mengenal diri melalui observasi diri, bertanya pada diri, serta bertindak dengan kesadaran penuh (Kabat-Zinn, 2015).

Prevalensi kasus ADHD selama kurun waktu 2 dekade yaitu tahun 1997 sampai 2016 mengalami peningkatan dari 6,1% menjadi 10,2% berdasarkan hasil survei populasi nasional di United State America (USA). Prevalensi ADHD secara global memengaruhi 5% – 7,2% remaja dan 2,5% – 6,7% dewasa. Sebagian besar kasus remaja dengan gejala ADHD (50 – 60%) memperlihatkan gejala sisa di masa dewasa (Abdelnour, Jansen and Gold, 2022). Problema yang muncul kemudian akibat ADHD cenderung menjadi tren penelitian karena tingginya tingkat komorbiditas dengan gangguan onset masa kanak dan remaja (Gnanavel et al., 2019). Kualitas tidur yang buruk pada remaja dengan gejala ADHD dilaporkan sekitar 25%–50% di Kanada (Wajszilber, Santiseban and Gruber, 2018).

Penilaian kualitas tidur dan penerapan sleep hygiene yang baik pada remaja dengan gejala ADHD dapat dilakukan sebelum memulai terapi (Tsai, Hsu and Huang, 2016). Beberapa penelitian menunjukkan intervensi terhadap gangguan tidur dapat mengurangi perilaku agresivitas (Kamphuis et al., 2012). Remaja dengan gejala ADHD memiliki disregulasi emosi yang membutuhkan intervensi psikososial, tetapi intervensi tersebut masih kurang dipahami dibandingkan dengan tatalaksana farmakologis. Penelitian (Peters, Saunders and Jackson, 2022) menunjukkan intervensi mindfulness memperbaiki gejala klinis pada remaja dengan gejala ADHD. Penelitian (Santonastaso et al., 2020) membuktikan mindfulness memberikan hasil positif pada kualitas tidur dan perilaku remaja dengan gejala ADHD. Penelitian (Muratori et al., 2021) menunjukkan mindfulness terbukti menurunkan perilaku hiperaktif dan meningkatkan atensi berkelanjutan pada anak laki-laki dengan ADHD (Muratori et al., 2021).

Penelitian yang menguji efektivitas intervensi mindfulness sebagai terapi tunggal maupun kombinasi dalam memperbaiki kualitas tidur dan agresivitas pada remaja dengan gejala ADHD di Indonesia belum pernah dilakukan. Hal ini mendorong peneliti melakukan penelitian ini dan menghasilkan satu modul mindfulness berbahasa Indonesia untuk penanganan remaja dengan gejala ADHD. Kabupaten Krian merupakan salah satu kabupaten yang masuk wilayah kerja “Pengabdian Masyarakat” yang diselenggarakan Program Studi Psikiatri Anak dan Remaja Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Peneliti memilih melakukan penelitian di SMP 3 Krian yang merupakan SMP Inklusi. Sekolah ini bukan merupakan sekolah favorit di wilayah kabupaten tersebut. Sekolah-sekolah favorit pada umumnya menyaring anak-anak yang memerlukan perhatian khusus seperti halnya ADHD.

Remaja dengan gejala ADHD dengan predominan inatensi akan menunjukkan gejala kurang mampu memusatkan perhatian, tampak sebagai anak yang melamun, pasif dan sulit beraktivitas dengan teman – teman sebayanya. Sedangkan remaja dengan gejala ADHD predominan hiperaktivitas atau impulsivitas akan memperlihatkan gejala nakal, agresif, usil, suka menentang, kualitas tidur yang buruk, serta konflik dalam lingkungan sekolah dan keluarga. Mereka akan cenderung memiliki gangguan psikiatri, seperti: ketergantungan alkohol, gangguan kepribadian antisosial, penyalahgunaan zat, gangguan cemas menyeluruh, dan episode depresi mayor (Laporta et al., 2020).

Mindfulness memiliki makna ganda dalam bahasa Inggris. Oxford English Dictionary Online mendefinisikan mindfulness dalam arti umum di luar konteks meditatif sebagai “Kualitas atau keadaan sadar atau sadar akan sesuatu.” Terapi yang berbasis mindfulness menggunakan konsep dari ajaran Buddhist, di mana mindfulness didefinisikan sebagai suatu kesadaran tanpa menghakimi suatu kejadian yang dirasakan saat ini (Academic Mindfulness Interest Group and Academic Mindfulness Interest Group, 2006).

Kabat-Zinn (2015) menyebutkan mindfulness sebagai seni hidup secara sadar atau mawas diri. Mindfulness merupakan suatu cara praktis untuk lebih mengenal diri secara sepenuhnya, melalui satu cara sistematis berupa observasi diri, bertanya pada diri, dan bertindak secara mindful atau dengan kesadaran penuh, semua itu dilakukan tidak dengan cara yang dingin, penuh analisis ataupun dengan tanpa perasaan, melainkan dengan lembut dan penuh apresiasi terhadap diri sendiri.

Penulis: Dr. Yunias Setiawati, dr.,Sp.K.J(K)

Untuk lebih detail terkait Mindfulness intervention on aggressiveness of attention deficit hyperactivity disorder adolescent  

dapat dibaca di    DOI: 10.48309/JMPCR.2025.492539.1533