Universitas Airlangga Official Website

Intestinal Metaplasia Derajat Rendah di Indonesia

IL by Hello Sehat

Helicobacter pylori adalah bakteri spiral gram negatif yang menginfeksi sekitar 50% dari populasi dunia dan merupakan penyebab utama dari Intestinal Metaplasia (IM), yang berkaitan erat dengan perkembangan kanker lambung. Patogenesis dari Infeksi H. pylori melibatkan infiltrasi sel inflamasi, seperti neutrofil, monosit, limfosit, dan sel plasma, ke dalam lambung mukosa. Migrasi awal dan aktivasi sel inflamasi ini tergantung pada produksi sitokin proinflamasi, terutama neutrofil-kemotaktik yang kuat dan mengaktifkan peptida, yaitu interleukin (IL)-8. Ekspresi IL-8 dipengaruhi oleh sitokin lain seperti: tumor necrosis factor-α (TNF-α) dan IL-17A. Ekspresi dari ketiga sitokin ini meningkat ketika H. pylori berkolonisasi di mukosa lambung. Masing-masing sitokin ini bertindak sebagai respons terhadap infeksi bakteri; misalnya, IL-17A bekerja secara sinergis dengan sitokin lain untuk menginduksi ekspresi antimikroba dan kemokin, komponen calprotectin, lipocalin, dan beberapa β-defensin pada manusia dan primer sel epitel lambung tikus dan gastroid. Selain perannya dalam infeks i, TNF-α dan IL-17A penting untuk perkembangan IM di kanker lambung. TNF-α terlibat dalam inflamasi, regulasi imun, perbaikan jaringan, dan tumorigenesis pada mukosa lambung, sedangkan IL-17A memainkan peran penting dalam menarik neutrofil di patogenesis penyakit lambung, terutama dalam perkembangan kanker.

Indonesia merupakan negara kepulauan di Asia Tenggara dengan jumlah penduduk 270,6 juta orang dari 1.340 etnis. Sebagai negara dengan populasi tertinggi keempat di dunia, penelitian terkait ekspresi penanda sitokin di mukosa lambung yang berhubungan dengan infeksi H. pylori di Indonesia tidak hanya akan memberikan wawasan yang berharga untuk negara tetapi juga akan berguna untuk memahami pola respons host terhadap infeksi H. pylori secara geografis. Rendahnya kejadian IM di Indonesia mungkin berkorelasi dengan rendahnya prevalensi infeksi H. pylori pada populasi umum. Menariknya, dalam etnis dengan prevalensi infeksi H. pylori dan ekspresi dominan Gen A Terkait Sitotoksin tipe Asia Timur (CagA; sejenis faktor virulensi yang secara teoritis dapat menginduksi perkembangan lebih banyak penyakit lambung yang parah dibandingkan jenis lainnya), tingkat IM dan kejadian kanker lambung tetap rendah. Oleh karena itu, harus ada faktor lain yang berkontribusi terhadap perkembangan IM di Indonesia.

Berdasarkan dari gambaran di atas, peneliti dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, RSUD Dr. Soetomo, Universitas Airlangga berhasil mempublikasikan hasil penelitiannya di salah satu jurnal Internasional terkemuka, yaitu Cytokine. Penelitian tersebut bertujuan untuk memahami alasan rendahnya insidensi dan derajat rendah IM di Indonesia berdasarkan ekspresi sitokin dalam spesimen biopsi antrum lambung, dimana tingkat ekspresi IL-8, TNF-α, dan IL-17a diukur menggunakan PCR. Ketiga sitokin ini terkait dengan perkembangan kanker lambung, terutama pada pasien yang terinfeksi H. pylori. Peneliti menganalisis perbedaan ekspresi sitokin sehubungan dengan penyakit lambung dan etnis di Indonesia. Peneliti juga menganalisis korelasi antara ekspresi sitokin ini dengan histologis temuan dan beberapa faktor virulensi penting dari H. pylori yaitu cagA, cag Pathogenicity Island (cagPAI), Elemen Konjugatif Pengintegrasian sistem sekresi H. pylori tipe empat (ICEHptfs), dan Vacuolating sitotoksin A (vacA).

Menariknya, peneliti menemukan East Asian type CagA berkorelasi dengan ekspresi sitokin yang lebih rendah dan menunjukkan infiltrasi sel proinflamasi sebanding dengan cagA tipe Barat. Temuan ini berbeda dengan pemahaman umum bahwa East Asian type CagA, biasanya terdeteksi di wilayah dengan insiden tinggi kanker lambung dan dianggap sebagai faktor risiko terkuat untuk karsinogenesis pada lambung yang akan menginduksi respon proinflamasi yang lebih kuat dibandingkan dengan yang diinduksi oleh cagA tipe Barat. Oleh karena itu, peneliti juga melakukan analisis in silico yang meneliti karakteristik cagA untuk menemukan kemungkinan penyebabnya, mengingat fakta bahwa tipe Asia Timur merupakan tipe cagA yang paling dominan di Indonesia.

Kesimpulan pada penelitian ini menekankan fakta bahwa ekspresi dari sitokin di Indonesia umumnya tidak kuat bahkan di antara subjek yang sudah terinfeksi H. pylori, meskipun subjek tersebut secara dominan menunjukkan East Asian type CagA. East Asian type CagA tampaknya kurang ganas dibandingkan jenis lainnya yang mungkin memiliki kemampuan yang lebih rendah untuk menginduksi IM. Akhirnya, tidak hanya prevalensi H. pylori yang rendah menjadi satu-satunya alasan insiden rendah IM dengan derajat rendah di Indonesia, bahkan dalam populasi dengan prevalensi tinggi, virulensi CagA yang rendah dan respon inflamasi yang rendah dari inang  juga berperan penting. Namun demikian, faktor inang lain yang mungkin dapat dikurangi ekspresi sitokin, seperti polimorfisme, juga harus dipelajari.

Penulis: Muhammad Miftahussurur

Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat pada link artikel berikut:

https://reader.elsevier.com/reader/sd/pii/S1043466622003313?token=F9059E5B9D17EA39A686F7351B041E1BB9AE5FB81650D6BCBA35F9E709723D9114ED0E0B809F0CF2D6D32C6F5CF9E81A&originRegion=eu-west-1&originCreation=20230206020417