Keselamatan pasien adalah prioritas utama dalam dunia kesehatan. Namun, data menunjukkan masih banyak pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan. Menurut WHO, sekitar 5,7 hingga 8,7 juta kematian setiap tahun diakibatkan oleh layanan kesehatan yang tidak berkualitas. Di Indonesia sendiri, pada 2022, tercatat 4.916 kasus insiden keselamatan pasien.
Mengapa hal ini terjadi? Salah satu penyebab utamanya adalah komunikasi yang buruk antar tenaga kesehatan. Dalam banyak kasus, miskomunikasi dapat berujung pada kesalahan prosedur yang fatal. The Joint Commission bahkan melaporkan bahwa 80% kejadian tidak diharapkan di rumah sakit disebabkan oleh komunikasi yang tidak efektif.
Namun, ada kabar baik! Sebuah metode komunikasi yang disebut ISBAR (Introduction, Situation, Background, Assessment, Recommendation) telah terbukti efektif meningkatkan keselamatan pasien. Bagaimana metode ini bekerja?
ISBAR adalah cara komunikasi yang terstruktur dan sistematis. Dengan mengikuti lima langkahnya—Introduction (pengenalan), Situation (situasi), Background (latar belakang), Assessment (penilaian), dan Recommendation (rekomendasi)—tenaga kesehatan dapat memastikan bahwa informasi yang diberikan lengkap, jelas, dan tepat.
Bayangkan seorang perawat yang ingin melaporkan kondisi pasien kepada dokter:
- Introduction: Perawat memperkenalkan diri dan menjelaskan siapa pasien yang dimaksud.
- Situation: Mengungkapkan kondisi pasien saat ini, seperti gejala yang dialami.
- Background: Menyampaikan riwayat kesehatan pasien yang relevan.
- Assessment: Memberikan analisis atau temuan berdasarkan observasi atau pemeriksaan.
- Recommendation: Menyampaikan tindakan atau rekomendasi yang perlu dilakukan.
Dengan struktur ini, peluang terjadinya kesalahpahaman dapat diminimalkan.
Penelusuran literatur dari 239 artikel menunjukkan bahwa penggunaan ISBAR membawa banyak manfaat. Penelitian dilakukan di delapan negara, termasuk Norwegia, India, dan China, dan mencakup berbagai metode, seperti kuantitatif dan intervensi. Hasilnya? ISBAR terbukti efektif dalam meningkatkan keselamatan pasien.
Beberapa manfaat utama yang ditemukan adalah mengurangi miskomunikasi, meningkatkan kerja sama tim, meningkatkan kepuasan pasien dan meningkatkan kompetensi tenaga medis. Pelatihan ISBAR membantu tenaga kesehatan lebih percaya diri dalam berkomunikasi. Sebuah penelitian pada 2023 bahkan mencatat peningkatan signifikan dalam keterbukaan dan ketepatan waktu komunikasi antar tenaga medis yang telah dilatih menggunakan ISBAR.
Meski efektif, penerapan ISBAR membutuhkan komitmen. Pelatihan berkelanjutan sangat penting agar semua tenaga kesehatan kompeten menggunakan metode ini. Selain itu, manajemen rumah sakit perlu mendukung dengan kebijakan yang mendorong penggunaan ISBAR dalam setiap aspek pelayanan kesehatan.
Rumah sakit juga dapat mengintegrasikan ISBAR ke dalam kurikulum pendidikan tenaga medis, sehingga para lulusan baru sudah familiar dengan metode ini sejak awal karier mereka.
Metode komunikasi ISBAR (Introduction, Situation, Background, Assessment, Recommendation) adalah metode komunikasi yang sederhana, efektif, dan terstruktur yang direkomendasikan oleh The Joint Commission dan WHO dalam konteks klinis. Penelitian di 8 rumah sakit menunjukkan bahwa penggunaan ISBAR berdampak positif terhadap keselamatan pasien, dengan meminimalkan miskomunikasi antar tenaga medis dan meningkatkan keselamatan pasien, kerja sama tim, kepuasan kerja, serta persepsi manajemen. Persepsi dan pemahaman tenaga kesehatan terhadap ISBAR menjadi faktor penting dalam keberhasilannya. Penelitian ini merekomendasikan rumah sakit untuk melaksanakan pelatihan dan praktik ISBAR secara efektif dan berkelanjutan untuk mendukung komunikasi yang terstruktur, efisien, dan efektif dalam meningkatkan keselamatan pasien
Penulis: Inge Dhamanti
Artikel dapat diakses di: https://jurnal.unismuhpalu.ac.id/index.php/MPPKI/article/view/4974





