UNAIR NEWS – Perkembangan Artificial Intelligence (AI) mulai merambah ke ruang redaksi dan komunikasi publik. Kondisi ini menuntut media institusi seperti Universitas Airlangga (UNAIR) untuk cepat beradaptasi sembari tetap menjaga integritas berita. Untuk itu, Pusat Komunikasi dan Informasi Publik (PKIP) UNAIR menggelar workshop bertajuk Menjaga Integritas Berita Institusi di Era Artificial Intelligence (AI) pada Rabu (20/8/2025) di Auditorium Candradimuka, Gedung Kuliah Bersama, Kampus MERR-C UNAIR.
Hadir sebagai narasumber, Yulianus Andre Yuris, seorang jurnalis dan pemeriksa fakta Tempo.co sekaligus Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya. Dalam pemaparannya, mengutip Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam The Elements of Journalism, Andre menjelaskan bahwa inti jurnalisme terletak pada disiplin verifikasi. Aspek tersebut yang membedakan antara karya jurnalistik dengan fiksi maupun propaganda.
“Jadi apapun bentuk kontennya, baik berita, infografis, bahkan parodi, kebenarannya harus terjamin. Tugas jurnalis bukan memperdebatkan maksud pernyataan, tapi membuktikan faktanya, apakah benar atau tidak,” tuturnya.

Menemukan News Value
Selain disiplin verifikasi, Andre juga mengungkap pentingnya news value atau nilai berita. Unsur tersebut meliputi kebaruan, kedekatan, dampak, konflik, keunikan, pandangan manusiawi, dan signifikansi. News value inilah yang menentukan kelayakan sebuah berita dan apakah dapat menjadi sumber rujukan yang kredibel.
Andre menambahkan, jika news value terlalu kecil, maka kemungkinan besar rilis institusi tidak akan mampu menembus media besar. Misalnya, liputan seremonial kampus atau lembaga yang tidak memberi dampak signifikan bagi publik. “Kalau cuma sekadar liputan salam-salaman, nggak menarik. Jurnalis harus menggali signifikansinya. Yang penting bukan tentang salamannya, tapi apa dampaknya,” ujarnya.
Jurnalisme Eksplainer
Lebih lanjut, Andre menekankan bahwa menjaga news value menjadi hal penting bagi jurnalis. Terlebih, kini publik hidup di tengah banyaknya distraksi, dengan ribuan konten yang berseliweran setiap hari. Karenanya, media institusi perlu menyuguhkan berita yang tidak hanya memiliki news value tinggi, tetapi juga mampu merebut perhatian publik.
Salah satu solusinya adalah melalui jurnalisme eksplainer. Sebuah gaya penulisan yang membahas suatu topik secara mendalam dan berfokus pada mengisi celah pengetahuan pembaca. Jurnalisme eksplainer banyak pembaca cari sebab mampu memberikan konteks, menjawab pertanyaan, menggunakan bahasa yang lugas, fokus pada pemahaman, serta mengedepankan verifikasi.
“Jurnalisme eksplainer tidak hanya menyajikan apa yang terjadi, tetapi juga memberikan konteks dan jawaban mengapa sebuah peristiwa penting. Konten semacam ini cenderung bertahan lama karena sifatnya evergreen,” jelasnya.

Regulasi dan Etika AI
Andre menegaskan kembali peran manusia dalam menjaga integritas berita. Kendati AI memberi banyak kemudahan dalam jurnalistik, seperti transkripsi hingga analisis tren, namun AI tidak boleh menggantikan peran manusia. Sebab jurnalis harus tetap berpegang pada esensi jurnalisme, yakni kebenaran, verifikasi, relevansi, dan integritas.
Hal ini sejalan dengan Peraturan Dewan Pers Nomor 1 Tahun 2025 yang mewajibkan keterbukaan penggunaan AI. Setiap konten yang mesin hasilkan wajib diberi label jelas dan melalui proses verifikasi jurnalis. “AI tidak bisa dipakai untuk wawancara atau konfirmasi. Kredibilitas jauh lebih penting daripada sekadar viral,” pungkasnya.
Penulis: Fania Tiara Berliana Marsyanda
Editor: Ragil Kukuh Imanto





