Kesehatan adalah fondasi kehidupan. Pada 12 Desember, dunia memperingati Hari Jaminan Kesehatan, sebuah pengingat bahwa akses terhadap layanan kesehatan yang berkualitas bukanlah keistimewaan, melainkan hak asasi setiap manusia. Namun, dalam praktiknya, sejauh mana dunia benar-benar mampu memastikan hak ini untuk semua?
Universal Health Coverage: Realita atau Utopia?
Tujuan Universal Health Coverage (UHC) adalah memberikan akses layanan kesehatan kepada semua orang tanpa menghadapi kesulitan finansial. Sayangnya, di banyak negara, termasuk Indonesia, mimpi ini sering terhambat oleh kesenjangan ekonomi, geografis, dan birokrasi. Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa hampir setengah populasi dunia tidak memiliki akses penuh terhadap pelayanan kesehatan yang diperlukan.
Di Indonesia, program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui BPJS Kesehatan menjadi salah satu upaya besar untuk mewujudkan UHC. Meski memiliki banyak pencapaian, tantangan besar masih menghantui, seperti defisit anggaran, antrian panjang di fasilitas kesehatan, dan ketidakmerataan akses layanan di daerah terpencil. Kondisi ini membuat banyak masyarakat, terutama di wilayah terpencil, merasa jauh dari layanan kesehatan yang layak.
Hambatan dalam Sistem Kesehatan
Mengapa akses kesehatan masih menjadi persoalan? Sistem birokrasi yang rumit seringkali menjadi hambatan utama. Proses administratif yang panjang dan kurangnya transparansi menambah beban bagi masyarakat, khususnya kelompok ekonomi bawah. Selain itu, disparitas infrastruktur kesehatan antara kota besar dan daerah terpencil menciptakan kesenjangan besar dalam kualitas layanan.
Kesadaran masyarakat akan pentingnya jaminan kesehatan juga masih rendah, terutama di kalangan ekonomi lemah. Lebih ironis lagi, masyarakat miskin yang paling membutuhkan layanan kesehatan seringkali menjadi pihak yang paling terpinggirkan. Banyak kasus di mana mereka enggan memanfaatkan hak mereka karena takut akan biaya tambahan, stigma sosial, atau kurangnya informasi. Hal ini menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih inklusif dan strategis dalam mengatasi persoalan ini.
Mengubah Tantangan jadi Peluang
Hari Jaminan Kesehatan Dunia bukan sekadar momentum seremonial, melainkan ajakan untuk bertindak. Pemerintah memiliki tanggung jawab besar untuk memperkuat regulasi, memperbaiki distribusi tenaga medis, serta meningkatkan kualitas pelayanan tanpa diskriminasi. Alokasi anggaran yang lebih besar untuk sektor kesehatan juga menjadi kunci utama agar fasilitas dan layanan dapat menjangkau seluruh masyarakat. Selain itu, perusahaan asuransi swasta dapat berkolaborasi dengan pemerintah untuk menciptakan skema yang lebih inklusif.
Dengan menggabungkan sumber daya dan inovasi, layanan kesehatan dapat menjadi lebih efisien dan merata. Edukasi juga berperan penting, mendorong masyarakat untuk lebih sadar akan hak dan tanggung jawabnya dalam sistem jaminan kesehatan. Program penyuluhan dan kampanye dapat meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan dan memanfaatkan fasilitas yang tersedia.
Arah Masa Depan: Kesehatan untuk Semua
Jaminan kesehatan adalah bagian dari hak untuk hidup dengan martabat. Memastikan setiap individu memiliki akses terhadap layanan kesehatan yang layak berarti menciptakan masyarakat yang lebih sehat, produktif, dan sejahtera.
Pada Hari Jaminan Kesehatan Dunia ini, mari kita bertanya kepada diri sendiri: apakah kita sudah cukup peduli dan bertindak untuk menciptakan sistem kesehatan yang adil untuk semua? Karena pada akhirnya, kesehatan bukan hanya soal fasilitas, tetapi soal keadilan. Setiap langkah kecil yang kita ambil hari ini akan membawa kita lebih dekat menuju dunia yang lebih sehat dan berkeadilan. Mari jadikan momentum ini sebagai pengingat bahwa kesehatan adalah hak asasi yang harus diperjuangkan bersama. Dunia yang lebih sehat dimulai dari tindakan kita hari ini.
Penulis: Alia Dewi Kartika, Mahasiswa Fak. Sains dan Teknologi di Universitas Airlangga (UNAIR)





