Pernahkah terpikir bahwa data dan grafik yang terlihat rapi di media sosial bisa menjadi jebakan? Banyak orang percaya bahwa data pasti merepresentasikan fakta, padahal data bisa disulap menjadi apa saja tergantung siapa yang memegangnya. Di era digital, data sering dijadikan senjata untuk membentuk opini publik. Media sosial penuh dengan grafik yang tampak ilmiah, portal berita ramai dengan angka-angka yang katanya hasil penelitian. Namun, tidak semua yang terlihat ilmiah benar-benar jujur.
Ada contoh klasik yang sering dipakai untuk menggambarkan masalah ini. Ketika penjualan es krim meningkat, angka kriminalitas juga ikut naik. Grafiknya jelas, korelasinya kuat, dan sekilas terlihat meyakinkan. Apakah benar makan es krim membuat orang jadi kriminal? Tentu saja tidak. Kedua hal itu hanya kebetulan terjadi bersamaan. Meski sederhana, contoh ini menunjukkan betapa mudahnya data bisa membuat orang percaya pada sesuatu yang sebenarnya tidak ada hubungannya.
Sayangnya, trik seperti ini kini sering dipakai di media. Banyak portal berita atau akun media sosial sengaja mengemas data agar terlihat dramatis. Grafik dibuat menukik seolah masalah sedang memburuk, padahal skalanya dimanipulasi supaya tampak begitu. Survei dipublikasikan tanpa penjelasan metodologi atau hasil analisisnya hanya ditampilkan sepotong-sepotong. Narasi yang dibangun pun sering berat sebelah, seakan data yang dipilih dapat menggambarkan realita. Tujuan akhirnya jelas: menarik atensi masyarakat agar mendapat banyak umpan balik.
Masalah muncul ketika masyarakat langsung menelan mentah-mentah informasi tersebut. Begitu melihat grafik dengan penjelasan panjang lebar, banyak orang langsung percaya tanpa bertanya lebih jauh. Tidak sedikit yang buru-buru membagikan informasi itu melalui akun mereka. Perbuatan ini menyebabkan kebohongan menyebar lebih cepat daripada fakta. Hoaks berbasis data pada akhirnya lebih berbahaya, karena tampak meyakinkan. Angka seolah memberikan validasi, padahal bisa jadi itu hanyalah potongan fakta yang dipelintir.
Kalau masyarakat terus membiarkan hal ini terjadi, risiko yang dihadapi bukan hanya soal salah informasi. Lebih dalam dari itu, kebiasaan percaya pada data palsu bisa membuat masyarakat kehilangan kepekaan terhadap fakta. Lama-lama, siapapun bisa datang membawa angka yang tampak meyakinkan untuk mengarahkan opini publik. Jika tidak ada daya kritis, masyarakat akan mudah terombang-ambing oleh informasi yang salah arah.
Oleh karena itu, literasi data menjadi kebutuhan masyarakat digital. Literasi data tidak berarti harus paham rumus atau teori rumit, melainkan kemampuan dasar untuk membaca, menilai, dan mempertanyakan informasi yang dikemas dengan data. Hal-hal sederhana seperti memperhatikan sumber berita, mencermati skala grafik, atau mengecek apakah ada lembaga resmi yang mengonfirmasi sudah cukup untuk membuat seseorang lebih waspada. Sikap ini berdampak besar jika dilakukan bersama-sama.
Selain itu, literasi data juga berarti berani mengkritisi informasi sebelum menyebarkannya. Jika menemukan berita yang belum terbukti, alangkah baiknya menahan diri untuk membagikannya. Terlebih lagi, jangan mudah berkomentar dan mengemukakan opini jika tidak paham betul dengan konteks berita. Pendapat yang dilontarkan tanpa pemikiran matang justru berpotensi menyebabkan konflik di dunia maya.
Inilah mengapa momentum Hari Statistik Nasional setiap 26 September menjadi penting. Hari ini seharusnya menjadi momen refleksi bagi seluruh masyarakat. Statistik hadir di sekitar kita setiap hari: data harga kebutuhan pokok, angka penyebaran penyakit, hingga polling untuk sekadar meminta pendapat. Semua itu memengaruhi cara kita melihat realitas. Hari Statistik Nasional dapat menjadi titik balik untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar lebih peka terhadap data.
Hari Statistik Nasional bisa dimanfaatkan dengan aksi nyata menumbuhkan literasi data. Misalnya mengadakan kampanye di sosial media untuk membongkar hoaks yang menggunakan data hasil manipulasi atau diskusi terbuka tentang strategi memilah informasi di sosial media. Langkah kecil ini dapat menyelamatkan banyak orang agar tidak terjerumus informasi yang menyesatkan.
Pada akhirnya, data hanyalah alat. Data bisa jadi pedang bermata dua: bisa dipakai untuk menutup kebenaran, bisa pula dipakai untuk membuka lautan fakta. Semuanya tergantung siapa yang menggunakannya dan siapa yang mencernanya. Mari belajar untuk tidak lagi pasif dalam menghadapi data. Jadilah pembaca yang kritis, warga yang peka, dan penyebar informasi yang bertanggung jawab. Dengan begitu, data akan membantu memahami kenyataan, bukan justru menutupinya.
Penulis: William Suryo Goey (Mahasiswa Program Studi Statistika Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga)





