Necrotizing Enterocolitis (NEC) merupakan salah satu penyakit saluran cerna yang paling serius pada bayi baru lahir, terutama bayi prematur dan bayi dengan berat badan lahir rendah. Penyakit ini ditandai dengan peradangan berat yang dapat menyebabkan kerusakan hingga kematian jaringan usus. NEC dapat berkembang dengan cepat dan meningkatkan risiko komplikasi berat, seperti perforasi usus, infeksi berat (sepsis), hingga kematian. Meskipun kemajuan dalam perawatan bayi prematur telah meningkatkan angka harapan hidup, NEC masih menjadi salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian pada kelompok bayi tersebut. Oleh karena itu, deteksi dini menjadi sangat penting agar pengobatan dapat diberikan sebelum kerusakan usus semakin berat.
Diagnosis NEC masih mengandalkan kombinasi gejala klinis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, dan pencitraan seperti foto rontgen hingga saat ini. Namun, belum tersedia pemeriksaan laboratorium yang secara rutin mampu mendeteksi kerusakan usus pada tahap awal penyakit. Kondisi ini mendorong para peneliti untuk mencari biomarker yang dapat membantu mengenali NEC lebih cepat. Salah satu biomarker yang sedang banyak diteliti adalah citrulline, yaitu asam amino yang diproduksi oleh sel-sel usus halus atau enterosit. Dalam kondisi normal, kadar citrulline di dalam darah mencerminkan jumlah dan fungsi sel usus yang sehat. Apabila lapisan usus mengalami kerusakan, produksi citrulline dapat berubah sehingga berpotensi menjadi indikator gangguan pada usus.
Penelitian yang dilakukan bertujuan membandingkan kadar citrulline pada bayi prematur yang dicurigai mengalami NEC dengan bayi prematur sehat. Penelitian menggunakan desain case-control yang melibatkan 38 bayi prematur yang dirawat di Neonatal Intensive Care Unit (NICU) dan ruang Neo-Intermediate. Peneliti mengukur kadar citrulline pada hari pertama dan hari ketujuh perawatan, kemudian membandingkan hasil kedua kelompok. Selain itu, penelitian juga menganalisis hubungan kadar citrulline dengan usia kehamilan, berat badan lahir, panjang badan lahir, serta tingkat keparahan NEC.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok bayi dengan dugaan NEC lebih banyak berjenis kelamin laki-laki dibandingkan kelompok bayi sehat. Bayi pada kelompok NEC juga lebih sering mendapatkan terapi antibiotik dan memiliki kadar C-Reactive Protein (CRP) yang lebih tinggi. CRP merupakan salah satu protein yang meningkat ketika terjadi proses peradangan di dalam tubuh. Temuan tersebut menunjukkan bahwa bayi dengan dugaan NEC mengalami respons peradangan yang lebih besar dibandingkan bayi prematur tanpa NEC.
Fakta yang menarik dari penelitian ini yaitu tidak menemukan perbedaan yang bermakna pada kadar citrulline saat pemeriksaan hari pertama maupun hari ketujuh antara kedua kelompok. Akan tetapi, ketika peneliti membandingkan perubahan kadar citrulline dari hari pertama hingga hari ketujuh, ditemukan perbedaan yang bermakna antara bayi dengan dugaan NEC dan bayi sehat. Hasil ini menunjukkan bahwa pemantauan perubahan kadar citrulline selama masa perawatan mungkin lebih bermanfaat dibandingkan hanya melakukan satu kali pemeriksaan. Dengan kata lain, pola perubahan kadar citrulline dapat memberikan informasi tambahan mengenai kondisi usus bayi selama menjalani perawatan.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa kadar citrulline tidak berhubungan secara bermakna dengan usia kehamilan, berat badan lahir, maupun tingkat keparahan NEC. Namun, peneliti menemukan hubungan yang lemah tetapi bermakna antara kadar citrulline pada hari pertama dengan panjang badan lahir. Bayi yang memiliki panjang badan lahir lebih pendek cenderung memiliki kadar citrulline yang lebih rendah. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa perkembangan usus pada bayi dengan ukuran tubuh yang lebih kecil mungkin belum optimal. Meskipun hubungan yang ditemukan masih lemah, hasil ini memberikan gambaran bahwa ukuran tubuh saat lahir dapat memengaruhi kondisi dan kematangan fungsi usus pada bayi prematur.
Secara biologis, citrulline diproduksi hampir seluruhnya oleh sel enterosit yang melapisi usus halus. Sel-sel ini memiliki peran penting dalam menyerap nutrisi sekaligus menjaga fungsi pelindung usus. Ketika terjadi NEC, peradangan dan gangguan aliran darah menyebabkan kerusakan pada enterosit sehingga fungsi usus terganggu. Akibatnya, produksi citrulline juga dapat berubah. Oleh karena itu, perubahan kadar citrulline selama masa perawatan diperkirakan dapat mencerminkan kondisi mukosa usus dan proses pemulihannya. Hal inilah yang menjadi dasar mengapa citrulline banyak diteliti sebagai biomarker kesehatan usus pada bayi prematur. Meskipun hasil penelitian ini menjanjikan, citrulline belum dapat digunakan sebagai satu-satunya pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis NEC. Dokter tetap harus mempertimbangkan gejala klinis, pemeriksaan fisik, hasil laboratorium lain, dan pemeriksaan radiologi sebelum menentukan diagnosis dan terapi. Namun, apabila penelitian lanjutan berhasil membuktikan manfaat citrulline secara konsisten, biomarker ini berpotensi menjadi pemeriksaan tambahan yang membantu dokter memantau perkembangan penyakit dan mengevaluasi respons pengobatan secara lebih dini.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa perubahan kadar citrulline selama perawatan berbeda antara bayi prematur dengan dugaan NEC dan bayi prematur sehat, meskipun kadar citrulline pada satu waktu pemeriksaan tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna. Hasil tersebut menunjukkan bahwa citrulline memiliki potensi sebagai biomarker prediktif untuk membantu memantau risiko dan perkembangan NEC pada bayi prematur. Namun, penelitian dengan jumlah subjek yang lebih besar masih diperlukan untuk memastikan manfaat citrulline sebagai pemeriksaan rutin dalam praktik klinis serta menentukan nilai ambang yang paling akurat. Hasil penelitian ini diharapkan dapat mendukung pengembangan metode deteksi dini NEC sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat, komplikasi dapat dikurangi, dan peluang kesembuhan bayi prematur dapat semakin meningkat.
Penulis: Dr. Alpha Fardah Athiyyah, SpA(K)
https://mattioli1885journals.com/index.php/actabiomedica/onlinefirst/view/17954
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Atmaja BSS, Athiyyah AF, Etika R, Darma A, Sumitro KR, Sudarmo SM. Citrulline levels in preterm infants: A clinical comparison between suspected necrotizing enterocolitis and healthy controls. Acta Biomed. 2026;97(2):17954. doi:10.23750/abm.2026.17954.





