Ikan nila memiliki banyak keunggulan antara lain rasanya yang lezat, kandungan gizi yang relatif tinggi, pertumbuhan yang cepat, mudah dibudidayakan karena mudah beradaptasi dengan lingkungan. Ikan nila memiliki daya tahan yang kuat terhadap penyakit dan tidak terlalu bergantung pada respirasi sehingga mampu bertahan terhadap kondisi lingkungan yang buruk seperti kadar oksigen rendah dan konsentrasi amonia yang tinggi. Keunggulan tersebut menunjukkan bahwa ikan nila memiliki daya adaptasi yang baik terhadap kondisi lingkungan yang menantang. Di sebagian besar wilayah Provinsi Jawa Timur ikan nila dibudidayakan secara luas sebagai komoditas yang memiliki potensi ekonomi yang tinggi. Selama ini budidaya ikan nila terganggu oleh berbagai penyakit dan masalah kualitas air.
Myxosporeiasis seperti myxobolusis yang disebabkan oleh Myxobolus sp. merupakan penyakit yang sering mengganggu budidaya ikan nila namun belum banyak dilaporkan oleh masyarakat pembudidaya. Diduga infeksi Myxobolus sp. sering terjadi pada ikan nila yang dibudidayakan termasuk di beberapa daerah budidaya di Jawa Timur. Siklus hidup myxosporea bersifat kompleks, meliputi fase vegetatif dalam dua inang yang berbeda: invertebrata air (biasanya annelida, kadang-kadang bryozoa) dan vertebrata ektotermik, umumnya ikan. Karena parasit ini dapat menginfeksi beberapa organ ikan, identifikasinya dapat dilakukan dengan menilai karakter dan kerusakan infeksi pada organ yang terinfeksi. Dengan mempertimbangkan hal tersebut, pemeriksaan patologi infeksi Myxobolus menjadi sangat penting untuk memastikan tingkat kerusakan yang terjadi pada jaringan yang terinfeksi. Analisis histopatologi dapat menjadi biomarker yang berharga untuk menilai status kesehatan ikan, termasuk ikan yang terserang penyakit, sehingga memungkinkan pemantauan kesehatan yang komprehensif.
Organ vital yang sangat penting untuk proses metabolisme menawarkan jalan untuk diagnosis dini masalah kesehatan ikan melalui observasi dan analisis. Demikian pula di Indonesia, eksplorasi myxoboliasis pada ikan air tawar, khususnya nila, masih terbatas, sehingga menyebabkan keragaman spesies myxosporean masih relatif belum tereksplorasi. Penelitian ini bertujuan untuk menilai karakteristik dan kerusakan beberapa organ seperti insang, usus, dan hati secara histopatologi akibat infeksi Myxobolus sp.
Myxosporean merupakan parasit yang sering menginfeksi beberapa organ ikan, sehingga dapat diidentifikasi dengan menilai secara histopatologi karakter infeksi pada organ yang terinfeksi. Penelitian ini dilakukan untuk menilai infeksi myxosporean (Myxobolus sp.) pada budidaya ikan nila dengan mengamati karakteristik histomorfologi beberapa organ. Sampel ikan nila hidup dari budidaya Gresik segera dilakukan nekropsi dan pengamatan pada insang, usus dan hati. Preparasi histologi dibuat untuk insang, hati dan usus dan diamati dengan pewarnaan HE. Pada insang ikan nila, jumlah spora aktif Myxobolus sp. yang bervariasi dapat menggeser lamela insang, menimbulkan respons inflamasi dan hiperplastik, fusi lamelar, dan distorsi insang pada beberapa infeksi. Spora menyusup ke permukaan hati inang dan menyebabkan kerusakan serius pada jaringan hati. Ikan yang terinfeksi parasit menunjukkan nekrosis dan kista di usus. Parasit terdeteksi di beberapa segmen usus. Meskipun kemunculannya di dalam lumen usus jarang terjadi, indikasi klinis yang mencolok tidak terlihat saat memeriksa permukaan tubuh luar ikan. Temuan tersebut dengan tegas menetapkan bahwa infeksi Myxobolus sp. pada ikan nila menyebabkan kerusakan besar pada organ penting ikan.
Penulis: Prof. Muchammad Yunus, drh., M.Kes., Ph.D.
Baca juga: Akselerasi Regenerasi Defek Kartilago/Subkondrial Scaffold Bilayer Bhagelchi-Gelchidic





