Cutaneous lupus erythematosus (CLE) atau Lupus kutan merupakan salah satu kondisi kulit akibat autoimun. Ketika kondisi ini dibarengi dengan gejala sistemik lainnya, maka dinamai sebagai Systemic Lupus Erythematosus (SLE). CLE lebih lanjut dibagi menjadi beberapa kategori berdasarkan bentuk manifestasinya pada kulit, lokasi predileksi, serta bekas jaringan parut yang ditinggalkannya. Salah satunya adalah subacute CLE (SCLE) yang bisa bermanifestasi dalam bentuk psoriasiform (kulit bersisik dan kasar) atau annular (berbentuk lingkaran). CLE seringkali memberikan manifestasi yang menyerupai penyakit kulit lainnya seperti reaksi hipersensitivitas dan dermatitis seboroik, oleh karenanya dikatakan sebagai “the great imitator”.
Salah satu manifestasi CLE adalah kebotakan/ alopesia. Selain akibat CLE, alopesia juga bisa disebabkan oleh alopesia areata dan universalis yang dapat terkait autoimun maupun masalah hormonal. Untuk membedakan penyebab tersebut hanya dari gejala klinis sangatlah susah, sehingga diperlukan pemeriksaan histologis untuk diagnosis yang lebih akurat. Seringkali pasien dengan manifestasi kulit demikian diberikan terapi kortikosteroid jangka panjang, yang dapat meningkatkan resiko infeksi oportunistik, misalnya infeksi jamur. Pada suatu studi didapatkan bahwa kejadian onikomikosis (infeksi jamur pada kuku) mencapai 24% dari pasien SLE.
Pada kasus yang kami laporkan, seorang wanita muda (33 tahun) datang dengan keluhan awal ruam kemerahan dan gatal pada kedua tangannya yang awalnya muncul 2 minggu setelah pasien melahirkan. Awalnya lesi ini diduga sebagai reaksi terhadap obat antibiotik yang diberi pada saat persalinan. Akan tetapi, pemberian kortikosteroid dan antihistamin tidak memberikan perbaikan terhadap lesi, malah lesi meluas, dimana kulit pasien menjadi kering dan bersisik, diikuti kebotakan pada kulit kepala dan kedua alis. Selain itu, kedua kuku kaki dan tangan pasien berwarna kekuningan. Melalui pemeriksaan laboratorium dan histologis dari biopsi kulit, serta pewarnaan jamur pada kuku pasien, didapatkan bahwa pasien mengidap alopesia akibat CLE dan komplikasi penggunaan kortikosteroid jangka panjang dalam bentuk infeksi jamur pada kuku. Terapi dengan antijamur selama 6 minggu yang diikuti pemberian terapi penekan sistem imun memberikan perbaikan yang signifikan bagi infeksi jamur pada kuku pasien maupun pertumbuhan rambut kulit kepala dan alis pasien.
Pada setiap pasien alopesia, terutama pada usia muda, penyebab autoimun harus digali lebih dalam. Pemeriksaan trikoskopi, histologis, dan mikroskop immunofluorescence berperan penting dalam membedakan alopesia akibat CLE maupun alopecia areata. Manajemen pasien demikian mengikuti algoritma terapi CLE, dimana pasien yang gagal dengan terapi awal topikal, kemudian diberikan terapi sistemik methotrexate dan kemudian jika masih gagal, diberi mycophenolate mofetil. Selain itu, langkah pencegahan umum dengan proteksi terhadap sinar matahari, penghindaran dari asap rokok, serta suplementasi vitamin D, sangat dianjurkan pada pasien CLE.
Penggunaan jangka panjang dari kortikosteroid juga harus diperhatikan pada pasien CLE. Infeksi oportunistik sering terjadi pada kelompok pasien ini, selain efek samping hormonal/ metabolik lain. Infeksi yang cukup sering terjadi adalah onikomikosis. Semua infeksi oportunistik ini harus ditangani terlebih dahulu sebelum pemberian terapi penekan sistem imun untuk CLE.
Kesimpulannya, alopesia harus dipikirkan sebagai salah satu gejala dari CLE. Eksklusi dari berbagai penyebab alopesia melalui pemeriksaan yang holistik sangat diperlukan. Infeksi oportunistik, dalam hal ini onikomikosis, harus selalu dipertimbangkan sebagai efek samping terapi kortikosteroid jangka panjang. Secara keseluruhan, terapi pada CLE membawa hasil yang memuaskan.
Penulis : Dr. Awalia, dr., Sp.PD, K-R, FINASIM
Informasi detail dari laporan ini dapat dilihat pada tulisan kami di : https://journals.lww.com/bhsj/fulltext/2024/07020/management_of_alopecia_and_onychomycosis_in_a.13.aspx
Sakiinah, M., Awalia, Sandhika, W., Kandinata, S. G., & Suzuki, K. (2024). Management of Alopecia and Onychomycosis in a Lupus Patient. Biomolecular and Health Science Journal 7(2):p 157-162. https://doi.org/10.4103/bhsj.bhsj_17_24
Baca juga: Infeksi Jamur Fusarium Solani pada Kaki Anak





