Universitas Airlangga Official Website

Kecanduan Internet dan ADHD: Menjelajahi Korelasi Perilaku dan Kognitif pada Anak

Kecanduan Internet dan ADHD: Menjelajahi Korelasi Perilaku dan Kognitif pada Anak
Sumber: Jawa Pos

Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah salah satu gangguan perkembangan saraf yang paling umum terjadi pada anak-anak, yakni memengaruhi sekitar 5-7% populasi global. Gangguan ini ditandai dengan pola

kurangnya perhatian, hiperaktivitas, dan impulsivitas yang persisten, yang secara signifikan memengaruhi prestasi akademik, interaksi sosial, dan kualitas hidup anak secara keseluruhan. Etiologi ADHD bersifat multifaktorial, dengan dasar genetik yang kuat serta pengaruh lingkungan seperti paparan stres dan toksin selama kehamilan.

Secara paralel, Internet Addiction Disorder (IAD) muncul sebagai perhatian perilaku kritis, khususnya di kalangan remaja dan anak-anak. IAD didefinisikan sebagai penggunaan internet secara berlebihan yang mengganggu fungsi sehari-hari. Kondisi ini telah dikaitkan dengan berbagai konsekuensi psikologis dan fisik, termasuk gangguan tidur, ketidakstabilan emosi, dan isolasi sosial. Peningkatan prevalensi IAD didorong oleh pertumbuhan media digital dan meningkatnya aksesibilitas internet di kalangan populasi muda.

Hubungan antara ADHD dan IAD menjadi area yang menarik dalam ilmu perilaku. Karakteristik ADHD seperti impulsivitas, kesulitan menunda kepuasan, dan kecenderungan mencari hal baru memiliki keselarasan erat dengan pola yang diamati pada individu dengan IAD. Penelitian menunjukkan bahwa kelompok anak- anak dengan ADHD jauh lebih rentan terhadap pengembangan IAD, dengan odds ratio sebesar 6,679 dibandingkan kelompok non-ADHD. Kerentanan yang meningkat ini disebabkan oleh sifat internet yang memberikan kepuasan instan dan stimulasi kepada penggunanya, yang pada akhirnya memperburuk gejala ADHD.

Meskipun semakin banyak penelitian, hubungan antara ADHD dan IAD masih kurang dieksplorasi di beberapa wilayah, terutama di Indonesia, di mana faktor budaya dan lingkungan dapat memengaruhi manifestasi dan penanganan kondisi ini. Studi ini bertujuan untuk menjembatani kesenjangan ini dengan meneliti prevalensi IAD di antara anak-anak dengan risiko ADHD yang tinggi dan rendah di Surabaya, Indonesia. Temuan ini diharapkan dapat memberikan wawasan berharga bagi guru, pemerintah, serta profesional kesehatan dalam menghadapi tantangan terkait.

ADHD adalah gangguan perkembangan saraf yang ditandai oleh kurangnya perhatian, hiperaktivitas, dan impulsivitas. Berdasarkan kriteria DSM-5, gejala ini harus bertahan setidaknya selama enam bulan dan muncul di dua atau lebih lingkungan, seperti rumah dan sekolah [1]. ADHD diklasifikasikan menjadi tiga subtipe: inatensi (inattentive type ADHD), hiperaktif-impulsif (hyperactive-impulsive type ADHD), dan kombinasi (combined type ADHD) [6].

Anak-anak dengan tipe inatensi ADHD mengalami kesulitan dalam mempertahankan fokus, mengatur tugas, dan mengingat instruksi. Sebaliknya, tipe hiperaktif-impulsif ADHD ditandai dengan aktivitas fisik berlebihan, ketidakmampuan menunggu giliran, dan pengambilan keputusan yang impulsif [2]. Tipe kombinasi, seperti namanya, menggabungkan ciri-ciri keduanya, menjadikannya bentuk ADHD yang paling parah.

Prevalensi dan Faktor Risiko

ADHD memengaruhi 5-7% anak di seluruh dunia, dengan anak laki-laki lebih sering terdampak dibandingkan anak perempuan karena sifat hiperaktivitas dan impulsivitas yang lebih mudah diamati [16]. Studi di Indonesia menunjukkan bahwa hingga 12% anak sekolah dasar mungkin berisiko ADHD. Predisposisi genetik menyumbang 70-80% kasus ADHD, dengan faktor lingkungan seperti stres maternal, merokok selama kehamilan, dan berat badan lahir rendah turut memengaruhi timbulnya gangguan ini [13].

Implikasi Perilaku dan Kognitif

ADHD secara signifikan memengaruhi kinerja akademik dan interaksi sosial. Anak- anak dengan ADHD sering menunjukkan kontrol impuls yang buruk, kesulitan dalam mempertahankan perhatian, dan tantangan dalam memori kerja. Defisit ini tidak hanya menghambat pembelajaran mereka tetapi juga meningkatkan kemungkinan komorbiditas, seperti kecemasan dan depresi [8].

INTERNET ADDICTION DISORDER (IAD)

Definisi dan Gejala

IAD merujuk pada penggunaan internet yang berlebihan hingga mengganggu kehidupan sehari-hari. Gejalanya meliputi ketergantungan pada aktivitas daring, gejala putus internet ketika offline, hilangnya minat pada aktivitas di luar jaringan, serta kesulitan mengontrol penggunaan internet meskipun menyadari dampak negatifnya [17]. Penelitian menunjukkan bahwa IAD memengaruhi sekitar 6% populasi secara global, dengan tingkat prevalensi yang lebih tinggi pada remaja akibat seringnya mereka menggunakan media sosial, bermain game, dan menonton video daring [10].

Dampak pada Anak-Anak

Anak-anak sangat rentan terhadap IAD karena keterampilan pengendalian diri dan fungsi eksekutif mereka yang belum berkembang sepenuhnya. Penggunaan internet yang berlebihan telah dikaitkan dengan gangguan tidur, kesehatan fisik yang buruk, dan ketidakstabilan emosi [11]. Studi juga menunjukkan bahwa waktu layar yang berlebihan memengaruhi kinerja akademik dan mengurangi kemampuan mereka untuk membentuk hubungan sosial yang bermakna [3]. Anak- anak dengan ADHD lebih rentan terhadap IAD karena impulsivitas dan kesulitan dalam manajemen waktu mereka, yang mendorong mereka mencari kepuasan instan secara daring, memperburuk siklus kecanduan [4].

Anak-anak dengan ADHD sering menunjukkan ciri yang tumpang tindih dengan perilaku yang terlihat pada individu dengan IAD. Impulsivitas, salah satu gejala utama ADHD, membuat anak-anak cenderung melakukan perilaku daring yang kompulsif karena mereka menginginkan penghargaan instan [14]. Kemampuan internet untuk memberikan kepuasan instan memperkuat kecenderungan ini, menjadikan anak-anak dengan ADHD lebih rentan terhadap kecanduan [15].

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dengan ADHD memiliki kemungkinan yang jauh lebih besar untuk mengembangkan kecanduan internet. Penelitian tahun 2011 menemukan bahwa 54,1% anak-anak dengan ADHD kecanduan internet, dibandingkan hanya 15% dari kelompok berisiko rendah. Risiko yang meningkat ini disebabkan oleh gejala terkait ADHD seperti kontrol impuls yang buruk, hiperaktivitas, dan ketidakmampuan untuk menunda kepuasan [9].

STRATEGI PENCEGAHAN DAN INTERVENSI
Peran Orang Tua dan Guru

Manajemen efektif ADHD dan IAD memerlukan upaya kolaboratif antara orang tua/pengasuh, guru, serta profesional kesehatan. Orang tua sebaiknya memantau waktu layar anak dan mendorong aktivitas offline seperti olahraga, sementara guru dapat menerapkan rutinitas yang terstruktur dan menyediakan layanan konseling untuk anak-anak dengan ADHD sebagai bentuk dukungan [5].

Intervensi Perilaku

Terapi kognitif-perilaku (Cognitive-Behavioral Therapy, CBT) telah terbukti efektif dalam menangani ADHD dan IAD dengan mengajarkan keterampilan pengendalian diri dan mekanisme koping yang lebih sehat. Sistem penghargaan dan alat manajemen waktu juga dapat membantu anak-anak menyeimbangkan aktivitas daring dan offline [18]. Program pelatihan untuk orang tua juga membantu mereka menetapkan rutinitas, memantau penggunaan internet, dan memperkuat perilaku positif pada anak-anak mereka.

Mekanisme Perilaku yang Menghubungkan ADHD dan IAD

Anak-anak dengan ADHD menunjukkan ciri perilaku seperti impulsivitas dan kebutuhan yang kuat akan kepuasan instan, yang membuat mereka rentan terhadap IAD [14]. Impulsivitas ini mencerminkan kebutuhan akan penghargaan dan umpan balik instan, yang dengan mudah disediakan oleh platform daring. Aktivitas internet, terutama permainan daring, media sosial, dan layanan streaming, memperkuat perilaku impulsif dengan memberikan stimulasi dan penghargaan instan secara terus-menerus [15]. Siklus umpan balik ini mendorong ketergantungan dan memperburuk gejala ADHD, menciptakan lingkaran penguatan di mana penggunaan internet yang berlebihan memperburuk kurangnya perhatian dan impulsivitas [9].

Kesulitan anak-anak dengan ADHD dalam mengatur diri sendiri sangat berkontribusi terhadap IAD. Anak-anak dengan ADHD lebih sulit untuk memantau penggunaan internet mereka dan mengatur waktu layar, sehingga sulit bagi mereka untuk mencapai keseimbangan yang sehat antara aktivitas daring dan offline [18]. Akibatnya, kecanduan internet menjadi mekanisme koping untuk menghadapi tantangan terkait ADHD.

KESIMPULAN

Tinjauan pustaka ini menyoroti hubungan signifikan antara IAD dan ADHD pada anak-anak, serta pentingnya identifikasi dini, intervensi yang terarah, dan dukungan yang berkelanjutan. Dengan menangani gejala ADHD dan kecanduan internet secara bersamaan, kita dapat meningkatkan kualitas hidup dan kesuksesan akademik anak-anak yang terdampak oleh kondisi yang saling terkait ini.

Penulis: Dr. Yunias Setiawati, dr.,Sp.K.J(K)

Link: https://www.researchgate.net/publication/387228304_Internet_Addiction_and_ADHD_Exploring_Behavioral_and_Cognitive_Correlations_in_Children

Baca juga: Suatu Intervensi Untuk Merangsang Kemampuan Kognitif Anak yang Mengalami Autism Spectrum Disorder