Sebagian besar mahasiswa mengandalkan perpustakaan universitas selama masa kuliah untuk memenuhi kebutuhan informasi mereka. Namun, tidak semua mahasiswa merasa nyaman saat berinteraksi dengan perpustakaan. Bagi mahasiswa disabilitas netra, interaksi dengan aktivitas perpustakaan sangat menantang. Terkadang muncul ketidaknyamanan yang mungkin berasal dari rasa gugup, malu karena kurangnya kepastian, atau pengalaman negatif masa lalu yang melibatkan staf perpustakaan (Fatmawati, 2019). Berbagai bentuk emosi negatif ini dapat memicu kecemasan saat berada di perpustakaan, atau dikenal sebagai fenomena kecemasan perpustakaan (Onwuegbuzie et al., 2004). Memahami dan mengatasi kondisi kecemasan sangat penting untuk menciptakan lingkungan akademis yang inklusif. Di perpustakaan perguruan tinggi, kecemasan tersebut dapat dirasakan oleh setiap mahasiswa, termasuk mahasiswa dengan kondisi disabilitas netra. Kebutuhan mahasiswa akan informasi menjadi terhambat ketika salah satu indera penting yang dibutuhkan tidak berfungsi secara optimal. Rinawati dkk. (2017) menjelaskan bahwa pemustaka disabilitas netra memiliki kebutuhan terkait desain fasilitas perpustakaan, koleksi yang mudah diakses, serta ketersediaan relawan dan pustakawan untuk mendampingi saat di perpustakaan. Rahmayani (2020) menegaskan perpustakaan perlu menyediakan layanan yang ramah disabilitas dengan mempertimbangkan berbagai faktor fasilitas (yaitu fisik, sanitasi, dan komputer) untuk mengakomodasi mahasiswa penyandang disabilitas.
Studi ini, meneliti kecemasan perpustakaan pada 37 mahasiswa disabilitas netra tingkat sarjana di tujuh universitas negeri di Indonesia yang telah memiliki unit layanan khusus bagi disabilitas. Diantaranya , Perpustakaan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN SUKA) menyediakan layanan yang mendukung mahasiswa penyandang disabilitas dengan mengorganisasi relawan untuk membantu pengguna mengakses koleksi Braille, computer, buku digital, pembaca layar Job Access with Speech (JAWS), eBook, dan buku audio. Perpustakaan Universitas Brawijaya (UB) menyediakan fasilitas blok pemandu di seluruh perpustakaan, memiliki relawan untuk membantu mahasiswa penyandang disabilitas. Perpustakaan Universitas Gadjah Mada (UGM), Perpustakaan Universitas Lambung Mangkurat (ULM), dan Perpustakaan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mengorganisasi relawan untuk mendukung mahasiswa penyandang disabilitas dan memelihara koleksi Braille. Perpustakaan Universitas Negeri Surabaya (UNESA) dan Perpustakaan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) membangun ruang perpustakaan yang didikung oleh staf yang luar biasa untuk membantu mahasiswa penyandang disabilitas.
Pengukuran kecemasan perpustakaan didasarkan pada Skala Kecemasan Perpustakaan Bostick Versi Melayu, sebagaimana diadaptasi oleh Karim dan Rashid (2016), yang mencakup tiga factor yaitu hambatan dengan penyedia layanan, hambatan afektif, dan kenyamanan dengan teknologi perpustakaan. Pertama, hambatan dengan penyedia layanan terutama berkaitan dengan ketersediaan dan layanan staf perpustakaan, koleksi, dan sistem. Kedua, hambatan afektif yang berkaitan dengan perasaan pengguna ketika menggunakan layanan perpustakaan (misalnya, merasa nyaman, senang, dan gembira). Faktor kecemasan ketiga adalah hambatan teknologi informasi, seperti menavigasi teknologi komputer sebagai pengguna baru.
Temuan yang diperoleh dari penelitian yang menggunakan metode kuantitatif deskriptif dan didukung perolehan sample menggunakan purposive sampling, mengungkapkan bahwa responden (mahasiswa disabilitas netra) mengalami tingkat kecemasan perpustakaan yang rendah. Berdasarkan hasil skor rata-rata yang merangkum data kecemasan terhadap perpustakaan pada mahasiswa penyandang disabilitas netra dengan skor rata-rata kecemasan terhadap perpustakaan sebesar 2,58, yang menunjukkan bahwa kecemasan yang dirasakan oleh responden tergolong rendah. Rincian rata-rata untuk hambatan dengan penyedia layanan adalah 2,64 (kecemasan sedang), hambatan afektif memiliki rata-rata 2,31 (kecemasan rendah), dan kenyamanan dengan teknologi perpustakaan menunjukkan rata-rata 2,80 (kecemasan sedang). Kenyamanan dengan teknologi perpustakaan merupakan faktor dengan tingkat kecemasan tertinggi, dan hambatan afektif merupakan faktor dengan tingkat kecemasan terendah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa disabilitas netra merasa percaya diri dalam mengakses berbagai layanan di perpustakaan, serta interaksi mereka dengan staf, tetapi merasakan hambatan terhadap interaksi dengan fasilitas perpustakaan (misalnya, papan tanda) dan teknologi komputer. Faktor-faktor yang memiliki tingkat kecemasan sedang adalah koleksi Braille dan audio, di mana responden merasa bahwa jumlah bahan Braille dan audio kurang dan perlu ditingkatkan. Disamping itu, instruksi perpustakaan yang tertera di fasilitas perpustakaan secara visual, seperti pada rambu-rambu, tidak begitu jelas bagi mereka. Oleh karena itu, mereka merasakan kecemasan saat beraktivitas didalam perpustakaan.
Aktivitas yang memanfaatkan teknologi telah menjadi faktor paling signifikan yang memengaruhi kecemasan mahasiswa. Hal ini disebabkan karena beberapa mahasiswa disabilitas netra tidak familier dengan teknologi yang dipergunakan perpustakaan, atau jarang menggunakannya. Mereka merasa tidak aman saat menggunakan teknologi tersebut bila tanpa didampingi atau bantuan dari pustakawan. Perpustakaan dapat mengembangkan sistem pembelajaran mandiri yang mudah digunakan oleh mahasiswa penyandang disabilitas netra sehingga mereka dapat menavigasi sistem perpustakaan secara mandiri dengan mudah. Bila ditelaah berdasarkan jenis kelamin, ditemukan fakta bahwa responden laki-laki mengalami tingkat kecemasan terhadap perpustakaan lebih tinggi (64,3%) daripada responden perempuan.
Implikasi praktis dari penelitian ini dapat menjadi panduan bagi perpustakaan universitas untuk meninjau layanan dan fasilitas mereka bagi mahasiswa penyandang disabilitas netra. Lebh lanjut, studi ini menggarisbawahi pentingnya mengeksplorasi lebih banyak pengalaman mahasiswa penyandang disabilitas terhadap lingkungan universitas termasuk di perpustakaan, yang memberikan wawasan berharga bagi para pendidik, pembuat kebijakan, dan peneliti untuk mengimplementasikan lingkungan kampus yang inklusif.
Penulis: Fitri Mutia, A.KS., M.Si.
Baca juga: Perjuangan Aktivis Disabilitas dalam Advokasi Regulasi Disabilitas Lokal di Jawa Timur





