Polusi plastik, termasuk mikroplastik (MP), merupakan masalah global yang signifikan yang membahayakan ekosistem perairan. Indonesia berada di peringkat salah satu penyumbang sampah plastik global terbesar, setelah Tiongkok, dengan sekitar 3,22 juta metrik ton sampah plastik yang tidak terkelola dihasilkan setiap tahunnya (Lestari dan Trihadiningrum, 2019). MP didefinisikan sebagai partikel plastik yang lebih kecil dari 5 mm, yang berasal dari sumber primer, seperti produk industri, maupun sumber sekunder, yang melibatkan degradasi barang plastik yang lebih besar (Martinho dkk., 2022; Paez-Osuna dkk., 2023). Keberadaan entitas ini di perairan laut dan tambak berdampak negatif terhadap biota perairan, baik secara fisik maupun kimia (Chen dkk., 2021; Vitheepradit dan Prommi, 2023). MP mudah masuk ke dalam rantai makanan karena kemiripannya dengan plankton atau partikel makanan alami. MP dapat menyebabkan efek fisik (misalnya, penyumbatan usus) dan efek kimia (misalnya, pelepasan zat aditif atau kontaminan yang teradsorpsi) setelah tertelan (Chen dkk., 2021; Vitheepradit dan Prommi, 2023). Ikan merupakan organisme akuatik yang rentan terhadap akumulasi MP. Paparan MP dapat terakumulasi di dalam tubuh ikan seiring pertumbuhannya. Bioakumulasi MP terjadi ketika paparan jangka panjang melalui kontak, tertelan, atau respirasi melampaui kapasitas ekskresi organisme (Buwono dkk., 2022; Parolini dkk., 2023; V´azquez-Rowe dkk., 2021). Ikan tidak dapat menghindari MP di dalam air, sehingga MP menempel pada insangnya melalui proses penyerapan. Ikan dapat keliru mengidentifikasi MP sebagai mangsa alami, yang menyebabkan mereka tertelan dan tertahan di dalam sistem pencernaan, termasuk lambung dan usus (Wang dkk., 2020).
Ikan bandeng (Chanos chanos), spesies penting dalam akuakultur dan perikanan tangkap di Asia Tenggara, sangat rentan terhadap paparan MP karena habitatnya sering kali berada di area yang terkontaminasi (Hasanah dkk., 2023). Penelitian sebelumnya di Asia Tenggara menunjukkan fluktuasi prevalensi MPs pada ikan bandeng, bervariasi antara 1,3 hingga 10,27 partikel per individu, dengan insang dan saluran pencernaan diidentifikasi sebagai organ utama yang terpapar MPs (Fareza dan Sembiring, 2020; Amelinda dkk., 2021; Hantoro dkk., 2024; Priscilla dan Patria, 2019; Sembiring dkk., 2020; Similatan dkk., 2023).
Penelitian tentang kandungan mikroplastik pada organisme akuatik terus berkembang, terutama dalam membandingkan kadar MPs pada spesies yang sama di dua habitat yang berbeda: lingkungan laut dan tambak (Vazquez-Rowe dkk., 2021). Chen dkk. (2020) menunjukkan bahwa MP berasal dari peralatan akuakultur yang signifikan, membuat hewan ternak lebih rentan terhadap efek MP dibandingkan dengan hewan liar. Meskipun demikian, investigasi mengenai perbedaan kandungan MP antara organisme laut dan akuakultur, khususnya ikan, masih terbatas. Akibatnya, investigasi kandungan MP pada ikan yang mampu menghuni lingkungan laut dan akuakultur, seperti bandeng, sangat penting. Lebih lanjut, memahami variasi sumber dan paparan MP di kedua ekosistem ini dapat memberikan pemahaman yang substansial tentang karakteristik MP (Oliveira dkk., 2020).
Kabupaten Sampang, Madura, Indonesia, memiliki potensi yang signifikan untuk perikanan laut dan tambak, khususnya dalam pengembangan bandeng. Meskipun demikian, hanya ada sedikit studi tentang kelimpahan dan karakteristik MP pada bandeng di wilayah ini, meskipun faktanya aktivitas manusia di sekitar habitat bandeng dapat meningkatkan risiko kontaminasi. Temuan studi ini diharapkan dapat menjadi landasan bagi strategi pengelolaan tambak berkelanjutan dan pemantauan MPs di wilayah pesisir. Studi ini merupakan kajian pertama mengenai distribusi MPs di berbagai organ (insang, lambung, dan usus) dan mengevaluasi karakteristik akumulasi antara ikan liar dan ikan budidaya.
Studi ini bertujuan untuk menganalisis kelimpahan, karakteristik fisik (bentuk, warna, dan ukuran), serta jenis polimer dalam MPs pada ikan bandeng dari perairan laut dan tambak di Madura. Selain itu, analisis kromatografi gas-spektrometri massa (GC-MS) juga dilakukan untuk mengidentifikasi senyawa kimia berbahaya dalam organ ikan bandeng. Kombinasi analisis ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang komprehensif tentang dampak MPs terhadap ikan bandeng dan potensinya sebagai bioindikator pencemaran MPs di perairan.
Uji Kruskal-Wallis menunjukkan bahwa MP pada insang dan air bandeng dari semua lokasi tidak berbeda secara statistik , tetapi MP pada lambung dan usus berbeda. Uji Mann-Whitney menunjukkan bahwa bandeng dari tambak Camplong (PCM) memiliki MP terbanyak pada lambung dan usus, sementara bandeng dari tambak Jrengik (PJM) dan perairan pesisir Camplong (CWM) tidak memiliki perbedaan yang signifikan. MP berbentuk serat paling melimpah di semua organ bandeng dan air. MP hitam paling banyak ditemukan di antara semua organ bandeng. MPs berukuran kurang dari 500 μm paling melimpah di organ dan air bandeng di semua lokasi. Peningkatan kelimpahan MPs di lingkungan akuatik dikaitkan dengan konsentrasi MPs yang lebih tinggi di organ. Uji korelasi Spearman tidak menunjukkan korelasi antara kelimpahan MPs di organ bandeng dan panjang bandeng di semua lokasi. Tujuh polimer MPs diidentifikasi di berbagai organ bandeng dan air: polivinil klorida, polistirena, poliamida, polimetil metakrilat, polietilen tereftalat, polietilen, dan etilen-vinil asetat. Analisis insang, lambung, dan usus bandeng menggunakan kromatografi gas-spektrometri massa mengidentifikasi keberadaan plasticizer, stabilisator, pelumas, agen pelepas, dan berbagai aditif, seperti asam oktadekanoat, 1-heksadekanol, asam oleat, eikosana, dan asam heksadekanoat.
Penulis: Prof. Dr. Ir. Agoes Soegianto, DEA.
Artikel di atas disarikan dari:
Sri Wahyu Imamah, Agoes Soegianto, Siti Arfa Jamlean, Khairunnisak Khairunnisak, Sucipto Hariyanto, Carolyn Melissa Payus, Nanik Retno Buwono, Retno Hartati. 2025. The abundance and characteristics of microplastics in different organs of both wild and farmed milkfish (Chanos chanos) from Madura, Indonesia. Regional Studies in Marine Science, 91, 104505. https://doi.org/10.1016/j.rsma.2025.104505





