Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan dunia. Berdasarkan data WHO 2023, lebih dari satu juta masyarakat terjangkit TB dan dilaporkan sekitar 15 orang meninggal setiap jamnya, termasuk Indonesia yang menempati posisi kedua negara dengan jumlah kasus TB terbanyak di dunia.
Kepatuhan pengobatan menjadi kendala dominan dalam penanganan TB di Indonesia. Salah satu upaya untuk meningkatkan kepatuhan adalah dengan memanfaatkan teknologi digital dan berinovasi melalui layanan telecare. Pelayanan telecare untuk pasien TB meliputi monitoring, evaluasi dan pengobatan pasien jarak jauh dengan menggunakan alat telekomunikasi.
Belum maksimalnya pemanfaatan telecare untuk pasien TB di Indonesia mendorong peneliti dari Fakultas Farmasi Universitas Airlangga mengukur kesiapan dan penerimaan pasien TB terhadap pelayanan telecare. Penelitian dilakukan dengan melibatkan 188 pasien TB di salah satu rumah sakit rujukan TB daerah Surabaya.
Hasil penelitian mengungkapkan bahwa sebagian besar pasien TB memiliki kesiapan rendah hingga sedang (masing-masing 37,78% dan 35,1%) dalam penggunaan layanan telecare. Sebaliknya penerimaan pasien didominasi oleh tingkat tinggi hingga sedang masing-masing sebesar 47,3% dan 52,12%. Penelitian juga menemukan hasil bahwa sebagian besar responden (67,54%) berniat menggunakan layanan telecare.
Pelayanan telecare dapat membuat layanan kesehatan menjadi lebih efisien. Namun sayangnya, tidak semua pasien siap untuk menerima penggunaan telecare. Oleh karena itu, pemeriksaan awal untuk mengetahui kesiapan dan penerimaan mereka sangatlah penting. Kesiapan pasien yang rendah pada penelitian ini menunjukkan bahwa pasien TB tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang pentingnya layanan telecare. Karakteristik individu termasuk pendapatan, kondisi kesehatan dan kemampuan untuk menggunakan layanan tersebut merupakan faktor yang paling sering dikaitkan dengan rendahnya tingkat kesiapan untuk menerima layanan telecare.
Pemahaman pasien terhadap layanan telecare sangat penting. Pasien yang memahami layanan telecare dapat menikmati manfaat dari layanan tersebut. Untuk mengatasi rendahnya pemahaman pasien maka telecare perlu dikenalkan dengan cara yang dapat dipahami masyarakat secara bertahap dan berkelanjutan.
Penulis: Andi Hermansyah, S.Farm., Apt., M.Sc., Ph.D.
Artikel dapat diakses di: https://pharmacyeducation.fip.org/pharmacyeducation/article/view/2734
Baca juga: Pengendalian Optimal Penyebaran Tuberkulosis





