Universitas Airlangga Official Website

Kesiapsiagaan Masyarakat Pesisir Malang Selatan Menghadapi Tsunami: Sudah Sejauh Mana Kita Siap?

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Wilayah pesisir selatan Malang, seperti banyak kawasan selatan Jawa lainnya, berada pada zona rawan tsunami akibat posisi tektoniknya. Masyarakat di sana sangat bergantung pada sumber daya laut untuk kehidupan sehari-hari, namun di saat yang sama harus menghadapi ancaman bencana kelautan yang serius. Upaya mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan), SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), dan SDG 14 (Ekosistem Laut), menuntut pembangunan pesisir yang tidak hanya menjaga kelestarian ekosistem, tetapi juga memperkuat ketahanan masyarakat terhadap bencana alam.

Penelitian ini menilai kapasitas masyarakat pesisir dengan memadukan tiga pendekatan sekaligus, yaitu parameter aset penghidupan (modal alam, finansial, manusia, fisik, dan sosial), model KAP (pengetahuan, sikap, dan praktik), serta indikator resmi SDG 11, 13, dan 14. Kajian dilakukan di 15 desa pesisir yang tersebar di enam kecamatan Malang selatan, meliputi Donomulyo, Bantur, Gedangan, Sumbermanjing Wetan, Tirtoyudo, dan Ampelgading, dengan melibatkan 458 responden warga setempat.

Hasil analisis aset penghidupan menunjukkan adanya kesenjangan kapasitas antarwilayah. Kecamatan Sumbermanjing Wetan mencatat skor kapasitas tertinggi (20,40), didukung modal alam, finansial, dan manusia yang relatif kuat, sementara Ampelgading berada di posisi terendah (13,74) akibat keterbatasan akses infrastruktur, layanan kesehatan, dan jejaring sosial. Temuan ini menegaskan bahwa ketahanan masyarakat pesisir tidak hanya ditentukan oleh faktor lingkungan, tetapi juga oleh ketersediaan infrastruktur dasar dan modal sosial.

Sementara itu, hasil model KAP mengungkap kesenjangan yang cukup mengkhawatirkan antara pengetahuan, sikap, dan praktik nyata masyarakat. Hanya sekitar 41–59% responden memahami tanda-tanda alam tsunami, jalur evakuasi, dan lokasi titik kumpul. Meski lebih dari 80% masyarakat menyadari pentingnya kesiapsiagaan, kenyataannya hanya 12% yang pernah mengikuti simulasi evakuasi dan 11% yang telah menyiapkan tas siaga bencana. Kesenjangan antara kesadaran dan tindakan nyata ini menjadi salah satu temuan penting yang perlu segera ditindaklanjuti.

Dari sisi capaian SDGs, masyarakat menunjukkan hasil relatif baik pada indikator akses perumahan layak, kapasitas adaptasi iklim, dan perlindungan ekosistem laut. Namun demikian, pembiayaan iklim serta pengelolaan sampah dan pencemaran laut masih menjadi titik lemah yang signifikan. Penelitian ini merekomendasikan penguatan aset penghidupan, edukasi kebencanaan berbasis komunitas, restorasi ekosistem pesisir seperti mangrove, serta tata kelola kolaboratif lintas pemangku kepentingan sebagai strategi untuk meningkatkan ketahanan masyarakat pesisir Malang selatan terhadap ancaman tsunami.

Artikel selengkapnya dapat diakses di: https://doi.org/10.1088/1755-1315/1595/1/012015

Ditulis oleh: F. Usman; R. Zainol; T. M. Sunarharum; A. Hadianti; M. A. Nabila; W. P. Wijayanti; T. A. Rachmawati; E. B. Kurniawan; H. Saputra

Corresponding Author: F. Usman

Email: hijrah.saputra@pasca.unair.ac.id