Ketajaman Analisis Hukum Bawa Delegasi MYMA FH UNAIR Borong Gelar Juara UIN Law Fair 2026

Ketajaman Analisis Hukum Bawa Delegasi MYMA FH UNAIR Borong Gelar Juara UIN Law Fair 2026

31 Views•3 minutes read

UNAIR NEWS – Delegasi Masyarakat Yuris Muda (MYMA) Fakultas Hukum (FH) Universitas Airlangga (UNAIR) kembali mencetak sejarah gemilang di kancah nasional dengan menyabet Juara 1 sekaligus Best Speaker pada ajang UIN Law Fair 2026. Kompetisi debat hukum bergengsi tersebut diselenggarakan oleh Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta dan berpuncak pada babak luring, Jumat–Minggu (23–25/10/2026). Prestasi ini menjadi pembuktian nyata atas ketajaman berpikir serta kualitas argumentasi mahasiswa UNAIR dalam menghadapi dinamika persoalan hukum yang sangat kompleks.

Kupas Tuntas Mosi Kebijakan Danantara 

Tim delegasi MYMA ini beranggotakan Moh Rofiul Fahmi, Zulfa Alia Ahmad, dan Crisya Octaviany Kansil sebagai pendebat, serta Khosyi Waliyyul Fattah selaku official. Merespon keterbatasan waktu persiapan di tengah padatnya jadwal perkuliahan, tim menerapkan strategi riset yang efisien guna membangun konstruksi argumen yang kokoh. Efektivitas strategi tersebut terbukti pada babak semifinal, di mana mereka sukses membedah kelayakan mosi terkait kebijakan ekspor mineral dan batubara melalui Danantara menggunakan pisau analisis hukum yang tajam.

Patahkan Stigma Lewat Penguasaan Substansi 

Pencapaian delegasi menjadi semakin berkesan ketika Crisya Octaviany Kansil sukses mendapat predikat sebagai pembicara terbaik (Best Speaker) secara individu. Sebagai seorang debater perempuan, ia membuktikan bahwa ketegasan di atas podium lahir murni dari penguasaan substansi yang matang. Pencapaian ini sekaligus mematahkan stigma gaya komunikasi maskulin selalu mendominasi dalam arena perdebatan hukum yang bertensi tinggi.

“Dominasi yang sesungguhnya bukan tentang siapa yang paling banyak berbicara, melainkan siapa yang mampu mengendalikan arah diskusi dan membuat audiens memahami mengapa argumentasinya layak dipercaya. Aku tidak harus menjadi orang lain untuk terlihat berwibawa, karena kekuatanku justru terletak pada kemampuanku menjadi diri sendiri,” tegas Crisya.

Berserah Diri dan Berani Bersuara 

Di balik penampilannya yang penuh karisma, Crisya rupanya melewati proses panjang untuk menumbuhkan rasa percaya diri melalui pendekatan spiritual. Ia memilih berserah penuh kepada Sang Pencipta demi mengalahkan rasa cemas saat berada di bawah tekanan kompetisi. Keberaniannya untuk membuang segala keraguan tersebut akhirnya sukses mengantarkan tim menduduki posisi puncak.

“Aku janji ke Tuhan Yesus bahwa aku mau mengandalkan Tuhan seratus persen dan tidak akan takut asal Tuhan Yesus bersamaku. Pokoknya aku buang semua pikiran yang mengandalkan diri sendiri,” ungkapnya.

Melalui keberhasilan memborong gelar ini, Crisya berharap pencapaian delegasi MYMA FH UNAIR dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswi lainnya. Ia berpesan agar para perempuan semakin berani bersuara lantang dan tidak lagi ragu mengambil peran strategis di ruang publik. Prestasi ini menjadi bukti nyata bahwa arena perdebatan hukum kini semakin inklusif bagi lahirnya generasi pemikir kritis dari kalangan perempuan.

Penulis: Nabila Afifah Abida

Editor: Ragil Kukuh Imanto

Accessibility ✕
Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia English English
Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top