Perubahan iklim tidak hanya menaikkan suhu laut. Di pantai tempat penyu lekang bertelur, kenaikan suhu pasir dapat menentukan apakah tukik yang menetas menjadi jantan atau betina. Ketika suhu terlalu tinggi, ancamannya bahkan melampaui ketimpangan jenis kelamin: embrio dapat gagal berkembang dan telur tidak menetas. Bagi manusia dan sebagian besar mamalia, jenis kelamin ditentukan oleh kromosom. Namun, penyu memiliki mekanisme yang berbeda. Jenis kelamin anak penyu atau tukik sangat dipengaruhi oleh suhu selama telur berkembang di dalam pasir. Fenomena ini dikenal sebagai temperature-dependent sex determination atau penentuan jenis kelamin yang bergantung pada suhu. Pada suhu inkubasi yang relatif rendah, telur cenderung menghasilkan lebih banyak tukik jantan. Sebaliknya, suhu yang lebih tinggi menghasilkan lebih banyak betina. Mekanisme biologis tersebut telah berlangsung selama jutaan tahun dan bukan masalah selama kondisi pantai masih berada dalam rentang alami.
Persoalan muncul ketika perubahan iklim mendorong suhu pasir melampaui pola historisnya. Kajian terbaru mengenai penyu lekang atau Lepidochelys olivacea menunjukkan bahwa sebagian pantai peneluran kini menghadapi dua tekanan sekaligus. Pertama, semakin sedikit tukik jantan yang dihasilkan. Kedua, suhu ekstrem dapat menurunkan keberhasilan penetasan. Penelitian tersebut menelaah 19 artikel ilmiah yang diterbitkan pada 2012–2025. Studi-studi itu mencakup lokasi peneluran di Meksiko, Costa Rica, Guatemala, Brasil, dan Indonesia, serta beberapa analisis global. Artikel dikumpulkan dari Scopus, Web of Science, PubMed, dan Google Scholar melalui prosedur tinjauan sistematis berdasarkan pedoman PRISMA.
Selisih satu derajat dapat mengubah satu generasi
Hasil kajian memperlihatkan bahwa suhu pivotal penyu lekang umumnya berada pada kisaran 29–31 derajat Celsius. Suhu pivotal adalah suhu yang secara teoritis menghasilkan jumlah jantan dan betina dalam proporsi relatif seimbang. Rentangnya sangat sempit. Perubahan suhu hanya sekitar satu atau dua derajat dapat menggeser komposisi tukik dari campuran jantan-betina menjadi sangat didominasi betina. Pada sejumlah pantai tropis, suhu sarang telah berada di atas 31 derajat Celsius. Dalam kondisi seperti ini, proporsi betina dapat mencapai lebih dari 80 persen. Di beberapa lokasi yang sangat panas, hasil pengamatan atau estimasi bahkan menunjukkan 90 persen atau lebih tukik berjenis kelamin betina. Namun, angka tersebut harus dibaca secara hati-hati. Tidak semua penelitian menentukan jenis kelamin tukik melalui pemeriksaan langsung. Sebagian besar studi memperkirakannya berdasarkan suhu sarang, suhu pivotal, dan model respons termal.
Pemeriksaan langsung melalui histologi gonad atau analisis molekuler memberikan kepastian lebih tinggi, tetapi pelaksanaannya lebih rumit. Metode tersebut juga dapat memerlukan pengambilan sampel biologis yang sensitif karena penyu merupakan satwa yang dilindungi. Meskipun demikian, penelitian molekuler mendukung hubungan antara suhu dan pembentukan jenis kelamin. Selama periode sensitif perkembangan embrio, suhu memengaruhi aktivitas gen yang mengarahkan pembentukan ovarium atau testis. Gen Foxl2 berkaitan dengan perkembangan ovarium, sedangkan Dmrt1 berperan dalam diferensiasi testis. Artinya, panas pasir bukan sekadar faktor lingkungan di luar telur. Suhu bekerja hingga ke tingkat molekuler dan memengaruhi jalur perkembangan embrio.
Terlalu panas, telur dapat gagal menetas
Ancaman yang dihadapi penyu lekang bukan hanya “terlalu banyak betina”. Ketika suhu sarang mendekati 33–34 derajat Celsius atau lebih, kemampuan embrio untuk bertahan hidup mulai menurun. Pada suhu tersebut, perkembangan embrio dapat terganggu, kualitas tukik menurun, dan keberhasilan penetasan merosot. Dalam kondisi ekstrem, satu sarang dapat mengalami kegagalan total. Temuan ini menunjukkan bahwa suhu penghasil betina dan suhu yang mulai membahayakan embrio terletak berdekatan. Pantai yang semakin panas bukan hanya kehilangan produksi tukik jantan, tetapi juga berisiko menghasilkan lebih sedikit tukik secara keseluruhan. Risikonya berbeda pada setiap pantai. Warna pasir, kelembapan, kedalaman sarang, curah hujan, vegetasi, paparan matahari, dan sirkulasi udara ikut menentukan suhu di dalam sarang. Pantai berpasir gelap, misalnya, cenderung menyerap panas lebih besar. Kajian di Guatemala menunjukkan bahwa pasir vulkanik hitam dapat menciptakan kondisi sangat panas bagi telur. Sebaliknya, sarang yang lebih teduh, lembap, atau berada pada kedalaman tertentu dapat mengalami suhu yang lebih stabil. Pantai di Brasil, beberapa lokasi di Guatemala, serta tempat penetasan terkelola di Indonesia menunjukkan kemungkinan adanya perlindungan termal lokal. Akan tetapi, perlindungan tersebut belum tentu bertahan apabila pemanasan terus meningkat.
Tidak berarti populasi langsung tanpa pejantan
Dominasi tukik betina tidak serta-merta menyebabkan populasi penyu runtuh dalam waktu dekat. Penyu jantan dapat kawin beberapa kali, sedangkan betina mampu menyimpan sperma. Secara alami, populasi penyu juga tidak selalu menghasilkan jantan dan betina dalam jumlah sama. Masalahnya terletak pada durasi dan tingkat ketimpangannya. Apabila sangat sedikit jantan diproduksi selama puluhan tahun, jumlah pejantan dewasa pada masa depan dapat berkurang. Kondisi tersebut berpotensi menurunkan variasi genetik, membatasi pilihan pasangan, dan mengganggu ketahanan populasi menghadapi penyakit maupun perubahan lingkungan. Dampaknya juga tidak langsung terlihat karena penyu membutuhkan waktu bertahun-tahun hingga mencapai kematangan seksual. Ketimpangan yang terjadi di sarang hari ini mungkin baru terlihat pada struktur populasi beberapa dekade mendatang.
Konservasi harus mengikuti kondisi setiap pantai
Sejumlah tindakan dapat dilakukan untuk mengurangi tekanan panas, antara lain memasang naungan, mempertahankan vegetasi pantai, memilih lokasi penetasan semi-alami yang lebih sejuk, mengatur kedalaman sarang, dan mengelola kelembapan. Intervensi tersebut tidak boleh diterapkan secara seragam. Naungan berlebihan atau penyiraman yang tidak terukur dapat mengubah kelembapan, pertukaran gas, lama inkubasi, dan kondisi mikrobiologis sarang. Setiap tindakan harus didasarkan pada pemantauan suhu dan karakteristik lokal. Konservasi juga perlu melindungi sarang yang muncul pada musim lebih sejuk. Sarang di luar puncak musim peneluran mungkin menghasilkan lebih banyak tukik jantan sehingga memiliki nilai penting bagi keseimbangan populasi. Indonesia memiliki posisi strategis dalam penelitian ini. Data dari Alas Purwo, Jawa Timur, dan Lombok telah memberikan gambaran mengenai hubungan suhu, kualitas tukik, serta pengelolaan sarang alami dan semi-alami. Namun, pemantauan jangka panjang yang menggabungkan suhu sarang, kelembapan, keberhasilan menetas, dan penentuan jenis kelamin secara tervalidasi masih perlu diperluas. Pada akhirnya, pengelolaan sarang hanya merupakan bentuk adaptasi lokal. Naungan dan manajemen tempat penetasan dapat membantu menyelamatkan sebagian generasi tukik, tetapi tidak dapat menggantikan upaya mengurangi emisi dan menahan laju perubahan iklim. Bagi penyu lekang, masa depan suatu populasi dapat ditentukan dalam ruang sempit di bawah pasir dan hanya berbeda beberapa derajat.
Sumber publikasi ilmiah
Prastiya, R.A., Susilowati, S., Mustofa, I., Yudhana, A., Taufiqurrahman, R.A., Daffa, M.A., Sasi, S.M., Alghoul, N.M., & Haditanojo, W. (2026). Temperature-driven shifts in hatchling sex ratios of olive ridley sea turtles: A cross-site review. Continental Shelf Research, 301, 105733. DOI: 10.1016/j.csr.2026.105733.
Susunan penulis
Ragil Angga Prastiya; Suherni Susilowati; Imam Mustofa; Aditya Yudhana; Ryan Adi Taufiqurrahman; Muhammad Athalah Daffa; Samira Musa Sasi; Nagia Musa Alghoul; Wiyanto Haditanojo





