Penyakit Newcastle atau Newcastle disease (ND) dan penyakit Gumboro atau infectious bursal disease (IBD) masih menjadi tantangan penting dalam peternakan ayam pedaging. Keduanya dapat mengganggu kesehatan, menurunkan produktivitas, dan menimbulkan kerugian ekonomi. IBD juga menyerang organ penting dalam pembentukan kekebalan pada ayam muda sehingga respons tubuh terhadap vaksin dan infeksi lain dapat melemah.
Vaksinasi tetap menjadi langkah utama untuk mencegah kedua penyakit tersebut. Namun, keberhasilan vaksin tidak hanya ditentukan oleh jenis dan jadwal pemberiannya. Kondisi kesehatan ayam, mutu pakan, lingkungan pemeliharaan, dan kemampuan sistem imun juga ikut menentukan. Atas dasar itu, bahan tambahan pakan yang dapat mendukung respons kekebalan terus dikembangkan. Salah satu kandidatnya adalah Lactobacillus, kelompok bakteri asam laktat yang banyak dikenal sebagai probiotik.
Penelitian yang dilakukan oleh tim Universitas Airlangga dan Universiti Putra Malaysia menguji penggunaan Lactobacillus fermentum I25 dan Lactobacillus brevis C10 pada 252 ayam pedaging jantan strain Cobb. Ayam dibagi ke dalam enam kelompok pakan dan dipelihara selama enam minggu di kandang terbuka pada kondisi tropis Jawa Timur. Selain kelompok kontrol, ayam menerima salah satu bakteri tersebut dalam bentuk probiotik atau paraprobiotik. Pemeriksaan dilakukan pada umur dua dan enam minggu, meliputi berat organ dalam, parameter biokimia darah, serta titer antibodi terhadap ND dan IBD.
Probiotik mengandung mikroorganisme hidup yang diberikan dalam jumlah memadai. Paraprobiotik, sebaliknya, tersusun atas sel mikroorganisme yang telah diinaktivasi. Meskipun tidak lagi hidup, komponen selnya masih dapat berinteraksi dengan saluran pencernaan dan sistem imun. Bentuk ini digunakan untuk menilai apakah komponen sel bakteri yang tidak hidup tetap dapat mendukung respons tubuh.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian Lactobacillus berkaitan dengan perubahan pada berat beberapa organ pencernaan, parameter biokimia darah, dan respons antibodi. Perubahan berat ampela, usus, dan hati berbeda menurut strain bakteri, bentuk sediaan, serta umur ayam. Temuan tersebut menunjukkan adanya respons fisiologis, tetapi tidak dapat langsung diartikan sebagai peningkatan fungsi organ tanpa pemeriksaan lanjutan.
Respons yang paling menonjol terlihat pada pembentukan antibodi terhadap ND dan IBD. Beberapa kelompok yang memperoleh Lactobacillus menunjukkan respons antibodi yang lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol, terutama pada perlakuan paraprobiotik tertentu. Lactobacillus diperkirakan bekerja melalui interaksi dengan sistem imun mukosa usus, penguatan fungsi penghalang usus, penghambatan mikroorganisme merugikan, dan stimulasi respons imun bawaan maupun adaptif.
Meski demikian, hasil penelitian ini perlu diterapkan secara hati-hati. Pengaruh suatu probiotik sangat bergantung pada strain, dosis, bentuk sediaan, komposisi pakan, umur ayam, dan kondisi pemeliharaan. Perubahan pada enzim hati serta kadar HDL dan LDL juga tidak membentuk pola yang sama pada seluruh kelompok. Karena itu, manfaat satu strain tidak dapat digeneralisasi untuk semua produk Lactobacillus.
Probiotik dan paraprobiotik bukan pengganti vaksinasi, biosekuriti, sanitasi, atau manajemen kandang yang baik. Keduanya lebih tepat dipandang sebagai bagian dari strategi nutrisi terpadu untuk mendukung kesehatan dan kesiapan sistem imun ayam. Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk menentukan kombinasi strain, dosis, dan waktu pemberian yang paling konsisten dan efektif dalam kondisi peternakan komersial.
Penulis: Dr. Miyayu Soneta Sofyan, drh., M.Vet.
Sumber ilmiah: Pertiwi, H., Mahendra, M.Y.N., Rochmi, S.E., Sofyan, M.S., Foo, H.-L., dan Loh, T.C. (2026). Effects of dietary inclusion of probiotic Lactobacillus spp. on visceral organ weights, blood biochemical parameters, and antibody titers against Newcastle disease and infectious bursal disease in broiler chickens. Assiut Veterinary Medical Journal, 72(189), 439–447. https://doi.org/10.21608/avmj.2026.383388.1698





