Universitas Airlangga Official Website

Kista Perikardium Raksasa: Ketika Benjolan Jinak di Dada Menyebabkan Sesak Napas

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Benjolan Jinak yang Jarang Diketahui

Tidak semua keluhan sesak napas dan batuk disebabkan oleh infeksi paru atau penyakit jantung. Pada sebagian kecil kasus, keluhan tersebut dapat berasal dari kelainan yang sangat jarang, yaitu kista perikardium. Kista perikardium adalah benjolan berisi cairan yang terbentuk di sekitar jantung (perikardium). Penyakit ini tergolong langka, dengan angka kejadian sekitar 1 dari 100.000 orang, sehingga sering kali tidak langsung terpikirkan sebagai penyebab keluhan pasien.

Kista perikardium umumnya bersifat jinak dan tidak berbahaya. Sebagian besar penderita bahkan tidak merasakan gejala apa pun. Namun, ketika ukurannya membesar, kista ini dapat menekan paru-paru atau jantung dan menimbulkan berbagai keluhan yang mengganggu kualitas hidup, bahkan berpotensi menimbulkan komplikasi serius.

Mengenal Kista Perikardium

Secara umum, kista perikardium terbentuk akibat gangguan perkembangan sejak masa embrio, ketika lapisan perikardium tidak menyatu sempurna. Selain faktor bawaan, kista perikardium juga dapat muncul akibat peradangan, trauma dada, atau komplikasi setelah operasi jantung, meskipun hal ini lebih jarang terjadi.

Kista ini berisi cairan jernih dan sering dijuluki sebagai “spring water cyst”. Ukurannya biasanya kecil, hanya beberapa sentimeter. Namun, pada kondisi tertentu, kista dapat tumbuh sangat besar hingga disebut sebagai kista perikardium raksasa.

Kasus Perempuan 59 Tahun dengan Sesak Napas

Dalam laporan kasus ini, seorang perempuan berusia 59 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan sesak napas dan batuk berdahak yang memberat selama lima hari. Keluhan tersebut disertai rasa lemas, mual, dan nafsu makan yang menurun. Tidak terdapat riwayat merokok maupun tuberkulosis.

Pemeriksaan foto rontgen dada menunjukkan adanya bayangan bulat dengan tepi tegas di sisi kiri rongga dada, yang mengarah pada dugaan adanya massa di daerah mediastinum (ruang di tengah dada). Untuk memastikan diagnosis, dilakukan pemeriksaan CT scan dada, yang merupakan pemeriksaan pencitraan utama dalam menilai kelainan di sekitar jantung dan paru-paru.

Hasil CT scan memperlihatkan adanya massa kistik berukuran sangat besar, sekitar 14,6 × 9,1 × 16,7 cm, di sisi kiri rongga dada. Massa tersebut berdinding tipis, berisi cairan, dan tidak menunjukkan tanda-tanda keganasan. Namun, ukurannya yang besar menyebabkan paru kiri tertekan dan mendorong struktur mediastinum ke arah kanan, sehingga menjelaskan keluhan sesak napas yang dialami pasien.

Tantangan Diagnosis

Kista perikardium sering kali sulit dibedakan dari penyakit lain, seperti tumor mediastinum, pembesaran jantung, atau kista bronkogenik. Oleh karena itu, peran pemeriksaan radiologi sangat penting. CT scan mampu memberikan gambaran yang jelas mengenai lokasi, ukuran, serta karakteristik kista, sehingga membantu dokter menegakkan diagnosis dengan lebih akurat.

Pada kasus ini, pasien sempat menjalani torakosentesis, yaitu tindakan penyedotan cairan dari rongga dada. Setelah tindakan tersebut, ukuran massa sempat mengecil dan keluhan pasien membaik. Namun, dua bulan kemudian, benjolan tersebut kembali muncul dengan ukuran yang hampir sama. Cairan yang disedot tidak menunjukkan adanya sel ganas, sehingga kemungkinan kanker dapat disingkirkan.

Mengapa Operasi Diperlukan?

Sebagian kista perikardium yang kecil dan tidak menimbulkan gejala dapat dipantau secara berkala tanpa tindakan khusus. Namun, pada kista berukuran besar, berulang, dan disertai keluhan sistemik seperti sesak napas, tindakan definitif sangat diperlukan.

Pada pasien ini, kista yang bersifat raksasa dan berulang berisiko menimbulkan komplikasi serius, seperti gangguan pernapasan, gangguan aliran darah jantung, bahkan tamponade jantung. Oleh karena itu, tim medis memutuskan untuk melakukan operasi pengangkatan kista.

Hasil pemeriksaan jaringan pascaoperasi memastikan bahwa benjolan tersebut adalah kista perikardium jinak. Setelah operasi, keluhan pasien membaik secara signifikan. Pemeriksaan CT scan lanjutan tidak menunjukkan adanya sisa atau kekambuhan kista.

Peran Penting Radiologi

Kasus ini menegaskan pentingnya peran radiologi dalam dunia kedokteran modern. Pemeriksaan pencitraan, khususnya CT scan, tidak hanya membantu menemukan kelainan yang jarang, tetapi juga menentukan pilihan terapi yang paling tepat bagi pasien.

Deteksi dini dan diagnosis yang akurat sangat penting untuk mencegah komplikasi berbahaya. Meskipun kista perikardium tergolong jinak, ukurannya yang besar dapat mengancam keselamatan pasien bila tidak ditangani dengan baik.

Pesan untuk Masyarakat

Sesak napas yang menetap atau semakin memberat tidak boleh diabaikan. Jika keluhan tidak membaik dengan pengobatan biasa, pemeriksaan lanjutan sangat dianjurkan. Kasus ini menunjukkan bahwa penyakit langka pun dapat menjadi penyebab keluhan yang sering dianggap sepele.

Dengan kemajuan teknologi pencitraan dan penanganan medis yang tepat, kista perikardium termasuk yang berukuran raksasa dapat ditangani dengan baik, sehingga pasien dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari dengan kualitas hidup yang lebih baik.

Penulis: Prof. Dr. Anggraini Dwi Sensusiati, dr., Sp.Rad., Subsp. NKL(K)

Link: https://digital.car.chula.ac.th/cgi/viewcontent.cgi?article=5583&context=clmjournal