Upaya pengembangan budidaya ikan hias bernilai ekonomi tinggi terus dilakukan oleh para peneliti Indonesia. Salah satunya adalah ikan Synodontis eupterus atau dikenal sebagai squeaker catfish, ikan hias asal Afrika yang banyak diminati pasar internasional. Namun, tantangan utama dalam budidaya spesies ini adalah rendahnya keberhasilan reproduksi di lingkungan budidaya.
Tim peneliti dari IPB University, BRIN, dan Universitas Airlangga berhasil menemukan pendekatan inovatif untuk meningkatkan kinerja reproduksi ikan ini. Melalui kombinasi paparan cahaya biru dan suplementasi hormon melatonin dalam pakan, penelitian ini menunjukkan peningkatan signifikan pada kematangan gonad, kualitas telur dan sperma, hingga daya tetas dan kelangsungan hidup larva.
Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal internasional bereputasi Animal Reproduction Science (Elsevier) dan melibatkan dosen Universitas Airlangga, Darmawan Setia Budi, sebagai salah satu penulis korespondensi.
Peran Cahaya dan Hormon dalam Reproduksi Ikan
Reproduksi ikan sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, terutama cahaya. Cahaya berperan mengatur ritme biologis dan sistem hormonal ikan. Dalam penelitian ini, seluruh induk Synodontis eupterus dipelihara di bawah cahaya biru LED secara kontinu, kemudian diberi pakan dengan dosis melatonin yang berbeda.
Melatonin sendiri merupakan hormon alami yang diproduksi tubuh sebagai respons terhadap cahaya, dan berperan penting dalam pengaturan kematangan gonad. Namun, dosis melatonin yang tidak tepat justru dapat menghambat proses reproduksi.
Dosis Tepat Menjadi Kunci
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis melatonin 0,5 mg/kg pakan merupakan dosis paling optimal. Pada perlakuan ini, induk betina menunjukkan indeks kematangan gonad tertinggi, ukuran telur lebih besar, dan jumlah telur meningkat signifikan. Induk jantan juga menghasilkan sperma dengan konsentrasi, viabilitas, dan motilitas lebih baik.
Selain itu, tingkat pembuahan telur mencapai hampir 97%, daya tetas meningkat hingga lebih dari 80%, dan kelangsungan hidup larva pada fase awal juga paling tinggi dibandingkan perlakuan tanpa melatonin maupun dosis melatonin yang lebih tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa melatonin tidak bisa diberikan secara berlebihan. Dosis sedang justru memberikan respons fisiologis terbaik.
Implikasi untuk Industri dan Konservasi
Keberhasilan reproduksi yang lebih tinggi berarti produksi benih lebih efisien dan berkelanjutan. Hal ini sangat penting bagi industri ikan hias yang selama ini masih bergantung pada tangkapan alam. Dengan teknologi sederhana berupa pengaturan cahaya dan pakan, tekanan eksploitasi terhadap populasi liar dapat dikurangi.
Selain untuk industri, hasil penelitian ini juga berkontribusi pada strategi konservasi ex situ, terutama bagi spesies ikan hias yang rentan terhadap penurunan populasi akibat perdagangan global.
Menuju Budidaya Ikan Hias Berbasis Sains
Penelitian ini menjadi bukti bahwa pendekatan berbasis ilmu fisiologi dan lingkungan dapat menghasilkan solusi nyata bagi sektor akuakultur. Ke depan, para peneliti merekomendasikan penelitian lanjutan dengan skala yang lebih besar serta eksplorasi mekanisme genetik untuk memperkuat pemahaman tentang regulasi reproduksi ikan.
Melalui kolaborasi lintas institusi dan dukungan riset berkelanjutan, Universitas Airlangga terus menunjukkan perannya dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang berdampak langsung bagi masyarakat dan industri.
Source:
Sudrajat, A. O., Sinansari, S., Arfah, H., Kusrini, E., Nur, B., Budi, D. S., Carman, O., & Alimuddin, A. (2026). Reproductive responses of Synodontis eupterus to different dietary melatonin levels under blue light conditions. Animal Reproduction Science, 286, 108089. https://doi.org/10.1016/J.ANIREPROSCI.2025.108089





