Universitas Airlangga Official Website

Komik sebagai Media Pembelajaran Siswa Penderita Tuberkulosis

Ilustrasi penderita TBC. (Sumber: alodokter)

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang muncul karena Mycobacterium tuberculosis, yang menyerang sistem pernapasan bagian bawah. Sejak dahulu kala, tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan global, khususnya di negara-negara berkembang. Tuberkulosis paru telah menjadi penyebab utama kematian di antara berbagai penyakit. Di perkirakan terdapat 10 juta penderita tuberkulosis paru, sebagian besar berasal dari delapan negara. Khususnya, Indonesia menempati peringkat ketiga secara global dalam hal kejadian tuberkulosis tertinggi. Selain Indonesia, ada India, Tiongkok, Filipina, Pakistan, Nigeria, Bangladesh, dan Republik Demokratik Kongo yang juga masuk dalam daftar negara dengan angka kejadian tuberkulosis tertinggi.

Menurut data global, sejak 1995, Indonesia menunjukkan angka penderita tuberkulosis yang tinggi. Tingkat kejadian telah meningkat sebesar 25,4 per 1.000.000 penduduk setiap tahunnya. Tingkat keberhasilan pengobatan tuberkulosis di Indonesia sekitar 88% pada tahun 2017 (Caren et al. 2022). Tingginya prevalensi tuberkulosis di Indonesia memerlukan perhatian dan kolaborasi lintas sektoral. Indonesia, sebagai negara tropis, terus berjuang melawan tuberkulosis sebagai masalah kesehatan masyarakat yang signifikan. Namun, mereka juga secara aktif mendukung upaya global untuk memberantas penyakit ini.

Strategi Akhiri TBC telah bergulir untuk mengatasi beban global akibat tuberkulosis dan menurunkan angka kematian akibat penyakit ini hingga 90% pada tahun 2030 daripada dengan angka yang tercatat pada tahun 2015. Prevalensi tuberkulosis perkiraannya akan menurun secara signifikan pada tahun 2035, dengan penurunan sebesar 80% daripada tahun 2015. Strategi ini bertujuan untuk menghilangkan pengeluaran kesehatan yang sangat besar pada tahun 2030. Selanjutnya, komitmen global ini akan dilaksanakan sesuai dengan strategi nasional dan diperluas ke seluruh pemangku kepentingan nasional dan regional.

Strategi tuberkulosis nasional

Pada penerapan strategi tuberkulosis nasional, Indonesia mengfokuskan pada deteksi kasus. Indonesia melakukan pencarian kasus secara aktif di daerah tertentu dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis dan pendekatan berorientasi keluarga. Penerapan penemuan kasus aktif yang efektif memerlukan kolaborasi antara petugas kesehatan dan masyarakat untuk menawarkan solusi yang tepat. Sekjen Kementerian Kesehatan mendorong tenaga kesehatan di puskesmas untuk aktif mengevaluasi program kesehatan yang ada. Penerapan awal penemuan kasus secara aktif sangat penting untuk memitigasi penularan di komunitas. Deteksi kasus tuberkulosis yang tepat waktu dapat berkontribusi pada keberhasilan penanganan penyakit ini, namun kasus yang terlambat terdeteksi masih dapat mendapat pengobatan secara efektif. 

Anggota keluarga penderita tuberkulosis merupakan populasi yang rentan terhadap penularan penyakit. Namun, keluarga juga dapat memainkan peran awal dalam menghentikan penularan tuberkulosis dengan memberikan dukungan dan perawatan yang teguh kepada pasien, sehingga meningkatkan kepercayaan diri pasien dan meningkatkan kepatuhan mereka terhadap pengobatan. Temuan ini semakin kuat dengan data yang menunjukkan bahwa 52,5% penderita tuberkulosis sadar akan gejalanya, khususnya batuk. Peningkatan pengetahuan tuberkulosis dapat tercapai dengan menerapkan strategi berorientasi keluarga. Pendekatan keluarga merupakan rancangan konsep khusus untuk puskesmas yang berfungsi sebagai fasilitas kesehatan primer terdekat dengan masyarakat. Hal ini memfasilitasi individu dalam mitigasi penyakit dan meningkatkan penyediaan layanan kesehatan. Pendekatan ini juga membantu program kesehatan yang ada mencapai hasil optimal melalui integrasi dan penemuan kasus secara aktif. 

Penelitian ini peneliti lakukan di Kecamatan Dukun, Gresik, Indonesia. Komik peneliti bagikan kepada siswa di MTS Ihyaul Islam, sebuah SMP Islam di kabupaten tersebut. Sebanyak 70 siswa terlibatkan dalam penelitian ini. Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen dengan desain one-group pretest-posttest. Subjek menjalani pretest dan posttest untuk menilai peningkatan pengetahuan mereka mengenai tuberkulosis. Kami memilih sekolah ini berdasarkan pengakuan mayoritas masyarakat di Kecamatan Dukun sebagai sekolah menengah pertama pilihan mereka. Komikakan tersaji dalam bahasa Indonesia dan terdiri dari tujuh panel. Komik tersebut memberikan informasi mengenai penyakit tuberkulosis, termasuk penularannya, manifestasi klinisnya, tindakan pencegahannya, dan strategi pengobatannya.

Penilian validitas dan reliabilitas komik akan melibatkan empat orang dosen dan empat orang guru sebagai validator. Penilaian tersebut menghasilkan hasil sebesar 0,8 dan 0,81 yang masing-masing menunjukkan validitas dan reliabilitas. Namun, validator menyarankan untuk menambah jumlah panel, meskipun ceritanya sudah komprehensif. Disarankan agar pencipta memperpanjang narasinya hingga selesainya pengobatan tuberkulosis, yang biasanya berlangsung selama enam bulan. Kuesioner yang terdiri dari sepuluh pertanyaan dalam bahasa Indonesia yang akan peneliti serahkan kepada siswa. Kami menyusun kuesioner dengan mengacu pada penelitian sebelumnya dan memasukkan beberapa modifikasi. Setelah semua peserta mengisi kuesioner, peneliti akan mencatat dan menganalisis data menggunakan Program R untuk Windows, versi 4.1.3. Data dianggap signifikan secara statistik jika menunjukkan p<0,05. Uji Wilcoxon Signed Rank Test dilakukan untuk menganalisis perbedaan hasil pretest dan posttest.

Analisis menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara hasil pre-test dan post-test (p <0,0001). Berdasarkan data yang ada, komik terbukti menjadi metode yang efektif untuk mengedukasi masyarakat tentang penyakit menular, khususnya tuberkulosis. Di sini, kami memperkenalkan alat pendidikan yang kami rancang untuk merevitalisasi metode pendidikan dalam menyebarkan pengetahuan tentang penyakit menular. Pada akhirnya, komik dapat meningkatkan minat siswa untuk mempelajari tuberkulosis, termasuk etiologi, pencegahan, dan strategi pengobatannya

Artikel lengkap terdapat pada link berikut: 

https://e-journal.unair.ac.id/FMI/article/view/50488/28402

Penulis: 

Dr. Budi Utomo, dr., M.Kes; Dr. Widati Fatmaningrum, dr., M.Kes., Sp.GK; Dr. Sulistiawati, dr., M.Kes; Shifa Fauziyah, S.Si., M.Ked.Trop; Teguh Hari Sucipto,S.Si., M.Si; Chan Chow Khuen, Ph.D