Universitas Airlangga Official Website

Konsisten Dalami Riset Farmasi, Prof Junaidi Masuk Jajaran Top 5% Ilmuwan Dunia

Prof apt Junaidi Khotib SSi MKes PhD, Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (UNAIR) (Foto: Narasumber)

UNAIR NEWS – Masuk dalam jajaran World’s Top 5% Scientist menjadi bukti nyata dedikasi dan konsistensi Prof apt Junaidi Khotib SSi MKes PhD dalam dunia riset dan publikasi ilmiah. Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (UNAIR) tersebut konsisten mengarungi fokus penelitian kefarmasian dan farmakologi yang berorientasi pada keberdampakan nyata bagi masyarakat.

Dalam keterangannya, Prof Junaidi menjelaskan bahwa fokus utama riset yang ia bawa berkisar pada bidang farmasi dan farmakologi. Khususnya mengenai pengembangan obat, mekanisme kerja, serta aktivitas biologi yang timbul. Dua area utama yang ia geluti adalah pengembangan obat untuk remodulasi penyembuhan tulang serta penanganan reaksi alergi dan imunitas.

“Fokus kami secara farmakologi adalah menemukan atau mencari suatu obat yang bisa digunakan untuk mengendalikan keadaan inflamasi, sebagai langkah awal dalam tahapan remodeling tulang dan desensitisasi keadaan alergi,” ujar Prof Junaidi 

Untuk menjaga kualitas penelitian agar mampu menembus jurnal internasional bereputasi tinggi, Prof Junaidi menetapkan lima prinsip utama. Langkah ini ia mulai dari penggunaan parameter penelitian berstandar internasional yang dapat dipertanggungjawabkan secara saintifik, kurasi data yang presisi, analisis dengan pendekatan yang komprehensif, hingga pemilihan target jurnal bereputasi agar karya yang ditulis menjadi rujukan utama dalam akademis dan inovasi.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan riset secara konsisten setiap tahun. “Publikasi itu harus bisa dijaga konsistensinya. Setiap tahun harus ada data yang diperoleh melalui riset dan dilakukan publikasi secara teratur. Keberlanjutan proses pengembangan keilmuan ini menunjukkan maturasi dalam proses inovasi dan riset,” jelasnya.

Prof Junaidi menegaskan bahwa hasil riset tidak boleh berhenti hanya sebagai dokumen di repository perpustakaan. Ia mengintegrasikan tridarma perguruan tinggi agar riset dasar dan terapan dapat berlanjut ke tahap paten hingga komersialisasi industri. Salah satu karya unggulannya adalah pengembangan bovine hydroxyapatite berbasis nanopartikel untuk membantu pemulihan pasien patah tulang dan osteoporosis. Produk yang ia kembangkan itu kini bekerja sama dengan salah satu industri farmasi di Indonesia.

Selain itu, ia juga mengembangkan inovasi kit diagnostik alergi berupa plester transdermal yang memuat 10 alergen untuk mendeteksi reaksi alergi pasien secara praktis. Inovasi yang mendapatkan dukungan Kedaireka dan bermitra dengan PT Bio Farma tersebut telah mengantongi paten serta masuk dalam nominasi seleksi Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI).

“Penelitian itu tidak berhenti pada repositori, tetapi berlanjut pada publikasi, paten, serta pemanfaatan pada industri dan masyarakat. Kami mengharapkan pemanfaatan hasil riset ini bisa memberikan dampak langsung di bidang kefarmasian maupun kesehatan,” pungkasnya.

Penulis: Fauziah Laili Romadhon 

Editor: Yulia Rochmawati