Universitas Airlangga Official Website

Kontaminasi Mikroplastik dan Logam Berat di Kerang Bulu Anadara Antiquata (Linnaeus, 1758) dari Pantai Jawa Timur Indonesia: Bioakumulasi dan Penilaian Potensi Risiko Kesehatan

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Selama beberapa dekade terakhir, Jawa Timur, Indonesia, telah mengalami peningkatan pertumbuhan ekonomi. Akibatnya, garis pantai Jawa Timur sangat rentan terhadap polusi dari aktivitas antropogenik, termasuk industri, pelayaran, perikanan (baik budidaya maupun penangkapan ikan), pariwisata, dan kawasan permukiman. Selain itu, di beberapa wilayah pesisir Jawa Timur, masih umum bagi penduduk setempat untuk membuang sampah plastik di pantai. Semua aktivitas antropogenik ini berkontribusi terhadap kontaminasi perairan pesisir Jawa Timur dengan polutan termasuk sampah plastik, mikroplastik, dan logam berat.

Polutan seperti mikroplastik dan logam berat merupakan risiko yang berpotensi signifikan terhadap keanekaragaman hayati laut. Indonesia menghasilkan 6,8 juta ton sampah plastik setiap tahunnya, dan 70% di antaranya, atau 4,8 juta ton, tidak dikelola dengan baik karena dibakar secara terbuka (48% atau 3,2 juta ton), dibuang di darat atau di tempat pembuangan sampah resmi yang dikelola dengan buruk (13% atau 880.000 ton), atau lepas ke perairan dan laut (9%, atau 612.000 ton) (Forum Ekonomi Dunia, 2020).

Keberadaan sampah plastik di lingkungan laut menjadi rentan terhadap modifikasi kimia dan fisik yang menyebabkan fragmentasi menjadi mikroplastik (berukuran >1 µm hingga <5 mm) dan nanoplastik (1-1000 nm) dengan potensi risiko yang merugikan ekosistem laut. Mengingat ukurannya yang kecil dan luas permukaannya yang besar, mikroplastik memiliki kecenderungan untuk menyerap bahan kimia berbahaya. Ukuran yang kecil juga memudahkan penyerapannya oleh spesies laut, yang dapat menyebabkan sensasi kenyang yang menyesatkan dan penyumbatan pada saluran pencernaan, dan meningkatkan paparan serta penyerapan logam berat oleh organisme laut.

Sumber polusi logam berat yang paling umum adalah aktivitas antropogenik, yang meliputi penambangan logam, peleburan logam, pelindian dari tempat pembuangan sampah, dan aliran air limbah dari berbagai industri pengolahan. Logam berat dapat terakumulasi dalam jaringan organisme akuatik melalui bioakumulasi dan biomagnifikasi antar tingkat trofik jaring makanan. Akumulasi ini dapat mengganggu proses enzimatik, osmoregulasi, dan dapat memengaruhi reproduksi dan perkembangan berbagai organisme akuatik. Lebih lanjut, konsumsi ikan dan makanan laut lainnya yang mengandung konsentrasi logam yang tinggi, ditambah dengan adanya akumulasi mikroplastik, dapat berdampak pada kesehatan manusia.

Organisme akuatik dengan potensi besar untuk akumulasi mikroplastik dan logam berat adalah Anadara antiquata. Ini adalah bivalvia penyaring yang memperoleh nutrisinya dengan menyaring plankton, materi yang membusuk, dan materi organik partikulat tersuspensi lainnya. Spesies ini ditemukan di dataran lumpur dan pasir pasang surut. Berbagai spesies kerang telah dilaporkan terkontaminasi logam berat dan mikroplastik. A. antiquata dari Tanzania, kerang Tegillarca granosa dari Thailand, kerang darah (A. granosa) dari Jawa Tengah dan Sumatera, Indonesia, serta kerang Eropa umum (Cerastoderma edule) di sepanjang pantai Normandia, telah dilaporkan terkontaminasi oleh berbagai tingkat mikroplastik. A. granosa dari Malaysia, A. trapezia dari New South Wales, Australia, C. edule dari Muara Sungai Seine, Eropa, laguna Atlantik Maroko, Ria de Aveiro, Portugal, dan Austrovenus stutchburyi dari Pulau Selatan Selandia Baru telah didokumentasikan terkontaminasi oleh logam berat.

Kerang bulu disukai oleh penduduk pesisir Jawa Timur sebagai sumber protein murah. Kerang bulu, yang biasanya berukuran 3 hingga 5 cm, sering dikumpulkan dari dasar laut pesisir, baik untuk konsumsi pribadi maupun untuk dijual di pasar ikan lokal. Mengingat bahwa kerang bulu biasanya dimakan seluruhnya dalam bentuk jaringan lunak, kontaminan seperti logam berat dan mikroplastik yang terkandung di dalam kerang bulu tersebut juga dapat tertelan. Mengkonsumsi kerang bulu yang terkontaminasi logam berat dan mikroplastik dapat berdampak buruk pada kesehatan manusia, mengakibatkan gangguan peredaran darah, komplikasi pencernaan, masalah reproduksi, kesulitan pernapasan, osteoporosis, gangguan produksi sel darah merah, dan berpotensi kanker dan berpotensi menyebabkan kanker pada organ tertentu.

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kontaminasi jaringan oleh mikroplastik dan logam berat pada A. antiquata dari pantai Jawa Timur, Indonesia, untuk menilai potensi risiko terhadap kesehatan manusia akibat konsumsi.

Temuan menunjukkan bahwa konsentrasi mikroplastik dalam jaringan A. antiquata di stasiun Lumajang adalah yang terendah, sedangkan kadar mikroplastik dalam jaringan di stasiun Gresik, Sidoarjo, dan Probolinggo sebanding. Mikroplastik yang ditemukan dalam jaringan kerang bulu terutama terdiri dari fragmen hitam < 100 µm. Sebaliknya, serat mikroplastik hitam yang ditemukan sebagian besar berukuran 100 – <5000 µm. Enam jenis polimer diidentifikasi dalam jaringan kerang bulu: poliuretan, polietilen, polipropilen, poliamida, polistirena, dan polivinil klorida. Keempat lokasi penelitian menunjukkan tingkat bahaya yang dikategorikan sebagai III (tinggi). Logam berat (Pb, Cd, Hg, Cr, Cu, dan Zn) yang ditemukan dalam jaringan kerrang buku berada di bawah batas atas yang diizinkan yang ditetapkan oleh organisasi internasional. Kadar Cr dalam jaringan kerrang bulu melebihi asupan mingguan yang dapat ditoleransi sementara, sedangkan logam berat lainnya tetap berada dalam batas yang dapat diterima. Nilai target hazard quotient dan hazard index untuk Pb, Cd, Hg, Cr, Cu, dan Zn dalam jaringan kerrang bulu kurang dari 1. Hal ini menunjukkan bahwa baik logam berat individual maupun keberadaan gabungannya tidak menimbulkan risiko kesehatan non-karsinogenik yang signifikan bagi manusia. Nilai target risiko kanker untuk timbal (Pb) berada dalam batas yang dapat diterima; namun, TCR untuk Cr melebihi 0,001, menunjukkan potensi risiko karsinogenik yang tidak dapat diterima.

Disarikan oleh Agoes Soegianto

Disarikan dari artikel berikut:

Indriyasari, K.N., Soegianto, A.*, Kuncoro, E.P., Afidah, P.N., Sari, A., Putranto, T.W.C., Soedarti, T., Irnidayanti, Y., Payus, C.M., Hartl, M.G.J., 2026. Contamination of microplastics and heavy metals in the antique ark

Anadara antiquata (Linnaeus, 1758) from the East Java coast of Indonesia:

bioaccumulation and potential health risk assessment. Marine Pollution Bulletin, 224, 119147. https://doi.org/10.1016/j.marpolbul.2025.119147

*Corresponding author