Sarkopenia atau penurunan massa otot akibat penuaan menjadi masalah kesehatan yang serius di kalangan lanjut usia (lansia). Di Indonesia, hampir satu dari lima lansia mengalami kondisi ini yang meningkatkan risiko jatuh, cedera, bahkan kematian. Upaya pencegahan terus dikembangkan melalui berbagai pendekatan. Salah satu pendekatan yang diteliti adalah melalui regulasi myostatin, yaitu protein yang berperan sebagai “rem” pertumbuhan otot. Kadar myostatin yang tinggi dikaitkan dengan penurunan massa otot. Penelitian pada hewan menunjukkan bahwa olahraga dan senyawa polifenol dalam kopi dapat menurunkan kadar myostatin, namun belum diketahui secara pasti apakah efek serupa terjadi pada manusia. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengkaji efek kombinasi konsumsi kopi Robusta Dampit selama lima hari dan satu sesi olahraga sub-maksimal terhadap kadar myostatin dalam darah pada pria dewasa sehat.
Penelitian ini merupakan uji klinis acak terkontrol single-blind yang melibatkan 20 pria sehat usia 20–30 tahun dengan gaya hidup sedentari dan jarang mengonsumsi kopi. Peserta dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok intervensi yang mengonsumsi kopi Robusta Dampit sebanyak 14,6 gram dua kali sehari selama lima hari, dan kelompok kontrol yang mengonsumsi minuman plasebo (barley panggang) dengan volume dan rasa yang serupa. Pada hari ke-5, seluruh peserta melakukan tes langkah YMCA selama 3 menit sebagai bentuk olahraga sub-maksimal, kemudian sampel darah diambil sebelum olahraga dan 2 jam setelah olahraga untuk mengukur kadar myostatin. Kopi Robusta Dampit dipilih dalam penelitian ini karena kandungan polifenolnya yang tinggi (200–350 mg/100 mL) dan kadar kafein sekitar 2,01%, dengan proses penyeduhan suhu rendah untuk mempertahankan senyawa bioaktifnya.
Dari 20 peserta, seluruhnya menyelesaikan penelitian tanpa efek samping berarti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok intervensi terjadi penurunan kadar myostatin dari 292.702 pg/mL menjadi 248.389 pg/mL (Δ = -14.904 pg/mL atau menurun 15,1%), sedangkan pada kelompok kontrol justru terjadi peningkatan dari 278.268 pg/mL menjadi 345.454 pg/mL (Δ = +58.890 pg/mL atau meningkat 24,4%). Meskipun kelompok kopi menunjukkan tren penurunan dan kelompok kontrol menunjukkan peningkatan, perbedaan perubahan kadar myostatin di antara kedua kelompok tersebut tidak signifikan secara statistik (p = 0,143). Dengan demikian, secara ilmiah belum dapat disimpulkan bahwa kombinasi kopi dan olahraga benar-benar menurunkan myostatin pada populasi yang diteliti.
Tidak signifikannya hasil penelitian ini diduga disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain durasi konsumsi kopi yang terlalu singkat sehingga polifenol belum sempat terakumulasi secara optimal di jaringan otot, jumlah sampel dalam penelitian yang kecil sehingga sulit mendeteksi perbedaan yang mungkin sebenarnya ada, serta pengukuran myostatin yang hanya dilakukan pada dua titik waktu sehingga pola perubahan secara keseluruhan tidak teramati. Meskipun demikian, tren penurunan myostatin pada kelompok intervensi tetap memberikan sinyal biomarker yang menarik, mengingat bahwa senyawa asam klorogenat dan kafein dalam kopi Robusta Dampit secara teoritis dapat menghambat ekspresi myostatin melalui jalur sinyal tertentu, walaupun mekanisme tersebut belum dibuktikan dalam penelitian ini. Sementara itu, peningkatan myostatin pada kelompok kontrol justru sesuai dengan pola yang diketahui, di mana olahraga akut dapat memicu peningkatan sementara myostatin sebagai respons stres sebelum akhirnya menurun pada periode pemulihan.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa kombinasi konsumsi kopi Robusta Dampit selama lima hari dan satu sesi olahraga sub-maksimal belum terbukti secara statistik menurunkan kadar myostatin pada pria dewasa sehat, namun tren penurunan pada kelompok intervensi memberikan sinyal awal yang memerlukan penelitian lebih lanjut. Untuk penelitian mendatang, disarankan agar durasi konsumsi kopi diperpanjang, jumlah peserta ditambah untuk meningkatkan kekuatan statistik, pengukuran myostatin dilakukan pada beberapa titik waktu, serta dilakukan pengukuran langsung terhadap massa dan kekuatan otot sebagai indikator fungsional. Bagi masyarakat, kopi Robusta Dampit tetap aman dikonsumsi dan memiliki potensi manfaat kesehatan, namun belum dapat direkomendasikan secara spesifik untuk mencegah penurunan massa otot berdasarkan penelitian ini, sehingga pola hidup aktif dengan olahraga teratur tetap menjadi kunci utama untuk menjaga kesehatan otot.
Penulis: Hayuris Kinandita Setiawan
Artikel lengkap bisa diakses di: https://www.ovid.com/jnls/bhsj/fulltext/10.4103/bhsj.bhsj_15_26~the-effect-of-dampit-robusta-coffee-consumption-and
