Universitas Airlangga Official Website

Korelasi antara Variasi Jenis Kepala dan Maloklusi

Foto by Hello Sehat

Pemeriksaan tipe kepala berdasarkan indeks sefalik sebelum perawatan ortodontik sangat penting untuk mengidentifikasi diagnosis yang tepat. Indeks cephalic dapat digunakan untuk menentukan pola pertumbuhan seseorang, serta untuk mengevaluasi dan memperkirakan bagaimana terapi ortodontik dapat selesai. Indeks cephalic dijelaskan oleh Anders Retzius diklasifikasikan menjadi tiga jenis kepala utama: dolichocephalic, mesocephalic, dan brachycephalic.

Maloklusi merupakan gangguan multifaktorial, dan salah satu etiologinya adalah penyimpangan pola pertumbuhan. Pola pertumbuhan tertentu akan menghasilkan tipe kepala yang sesuai. Berdasarkan informasi ini, studi oleh Rajeshkumar et al. telah menghubungkan jenis kepala tertentu dengan klasifikasi tertentu dari kasus maloklusi gigi atau tulang. Rauten et al. menemukan korelasi antara tipe kepala tertentu dengan anomali gigi seperti disharmoni dentomaxillary, maxillary compression syndrome, deep bite, dan open bite.

Kelas maloklusi yang berbeda dapat diamati pada setiap pasien yang menjalani perawatan ortodontik. Setiap pasien memiliki tipe kepala lainnya. Pemeriksaan tipe kepala perlu dilakukan sebelum mengidentifikasi diagnosis dan menentukan rencana perawatan. Mengetahui indeks sefalik mana yang terkait dengan maloklusi tertentu akan membantu dokter membuat diagnosis yang akurat dan menyusun rencana perawatan yang tepat. Berdasarkan informasi tersebut, dilakukan kajian untuk meninjau korelasi antara tipe kepala dengan klasifikasi maloklusi. Pemeriksaan tipe kepala berdasarkan indeks sefalik sangat penting dalam perawatan ortodontik untuk menentukan pola pertumbuhan pasien dan memprediksi hasil perawatan ortodontik. Pola pertumbuhan yang tidak seimbang akan lebih memungkinkan terjadinya anomali dentoalveolar dan menyebabkan maloklusi.

Individu dolichocephalic cenderung memiliki lengkung gigi yang sempit, dan individu brachycephalic cenderung memiliki lengkung gigi yang menyeluruh. Individu mesocephalic cenderung memiliki bentuk lengkung ovoid, dan individu dolichocephalic cenderung memiliki bentuk lengkung yang meruncing. Selain bentuk lengkung, beberapa penelitian menunjukkan bahwa tipe kepala juga berkorelasi dengan sifat otot pengunyahan. Tonisitas otot pengunyahan dan otot wajah yang lebih tinggi pada individu brachycephalic. Sebagai perbandingan, individu dolichocephalic dengan tonisitas otot pengunyahan yang lebih rendah memiliki kekuatan oklusal yang lebih rendah. individu brachycephalic memiliki kekuatan oklusal tertinggi di antara ketiga tipe kepala karena individu brachycephalic cenderung memiliki otot masseter dan temporal yang lebih tebal.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tipe kepala juga berkorelasi dengan kondisi gigi pasien. Perkembangan kurva Spee pada individu dengan oklusi normal dari gigi sulung ke fase gigi campuran dengan berbagai tipe kepala. Individu brachycephalic cenderung memiliki kurva Spee yang lebih tinggi. Selain itu, tipe kepala berkorelasi dengan kondisi crowding pada gigi. Mereka menemukan bahwa individu dolichocephalic lebih cenderung mengalami crowding gigi daripada individu mesocephalic dan brachycephalic. Mereka menganugerahkan bahwa dolichocephalic juga cenderung memiliki lengkung gigi yang lebih sempit yang memberikan lebih sedikit ruang untuk erupsi gigi pada posisi idealnya.

Meninjau korelasi antara tipe kepala dan maloklusi berdasarkan laporan kasus per kasus juga dapat membantu penelitian ini. Pasien mesocephalic memiliki hubungan tulang kelas I tetapi hubungan gigi kelas III. Kontras antara perkembangan maloklusi skeletal dan gigi pada pasien dolichocephalic dapat disebabkan oleh faktor genetik dan lingkungan. Kasus yang dilaporkan oleh Park et al. menunjukkan bahwa pasien brachyfacial memiliki relasi skeletal kelas III tetapi tipe kepala gigi kelas II. Maloklusi kelas III dapat dikaitkan dengan tipe kepala brachycephalic. Mandibula retrognatik, karakteristik maloklusi kelas II, dapat dikaitkan dengan tipe kepala dolichocephalic yang mendukung perkembangan morfologi wajah yang lebih panjang. Tipe kepala brachycephalic akan memiliki basis kranial yang lebih luas tetapi lebih pendek dan lebih bersudut yang menyebabkan retrusi relatif pada maksila, karakteristik maloklusi kelas III. Mengikuti apa yang ditunjukkan oleh tinjauan literatur ini, tipe kepala mesocephalic cenderung memiliki hubungan tulang atau gigi kelas I, tipe kepala dolichocephalic cenderung memiliki hubungan tulang atau gigi kelas II, dan tipe kepala brachycephalic cenderung memiliki hubungan tulang atau gigi kelas III. Selain itu, faktor genetik dan lingkungan, atau kombinasi keduanya, juga berperan dalam terjadinya maloklusi.

Penulis: Ari Triwardhani

Link: https://jioh.org/downloadpdf.asp?issn=0976-7428;year=2023;volume=15;issue=1;spage=8;epage=14;aulast=Triwardhani;type=2