Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit endemik di Indonesia dengan manifestasi laboratorium seperti trombositopenia dan hemokonsentrasi. Durasi demam pada DBD dapat menjadi indikator keparahan penyakit, namun hubungannya dengan parameter laboratorium seperti trombosit dan hematokrit memerlukan penelitian lebih lanjut. Penyakit infeksi akut ini disebabkan oleh virus dengue dari genus Flavivirus, yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Penyakit ini bersifat endemik dan hiperendemik di banyak negara tropis, termasuk Indonesia, dan cenderung meningkat seiring dengan urbanisasi, perubahan iklim, dan mobilitas penduduk.
Di Indonesia, demam berdarah merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan. Menurut data dari Kementerian Kesehatan Indonesia, Indonesia pernah menduduki peringkat kedua di dunia untuk kasus demam berdarah, dengan angka kejadian yang berfluktuasi setiap tahunnya. Jawa Timur, salah satu provinsi terpadat, mencatat 9.443 kasus demam berdarah pada tahun 2023, dengan angka kejadian 23 per 100.000 penduduk dan angka kematian (CFR) sebesar 1,1%, melebihi target nasional ≤10 per 100.000 untuk angka kejadian dan <1% untuk CFR.
Secara klinis, demam berdarah berkembang melalui tiga fase, yaitu fase demam, fase kritis, dan fase pemulihan. Fase demam, yang berlangsung selama 2-7 hari, merupakan periode awal yang penting dalam menentukan perjalanan penyakit. Demam yang berkepanjangan dapat mengindikasikan risiko transisi yang kurang optimal ke fase pemulihan, atau bahkan perkembangan ke bentuk demam berdarah yang parah seperti perdarahan dan syok.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa durasi demam berhubungan erat dengan nilai laboratorium seperti jumlah trombosit dan hematokrit. Pasien dengan durasi demam yang lebih lama cenderung menunjukkan trombositopenia dan hemokonsentrasi yang lebih parah, yang merupakan indikator awal kebocoran plasma dan fase kritis demam berdarah. Trombositopenia mencerminkan kerusakan atau penggunaan trombosit akibat infeksi virus, sedangkan peningkatan hematokrit mencerminkan kebocoran plasma.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara nilai trombosit dan hematokrit dengan durasi demam pada pasien DBD. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan data sekunder dari rekam medis 71 pasien demam dengue. Analisis statistik menggunakan uji korelasi Spearman untuk menilai hubungan antara trombosit dan hematokrit dengan durasi demam. 54,93% pasien adalah laki-laki, dengan kelompok usia terbesar adalah dewasa muda (26–45 tahun, 39,44%). Durasi demam maksimal adalah 5 hari (54,93%).
Terdapat hubungan yang lemah namun signifikan antara penurunan trombosit dan peningkatan durasi demam (p = 0,025; r = 0,266). Namun, tidak ada hubungan yang signifikan antara hematokrit dan durasi demam (p = 0,359; r = -0,111). Trombosit dapat digunakan sebagai indikator untuk memperkirakan durasi demam pada pasien demam berdarah, sedangkan hematokrit tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Temuan ini mendukung pentingnya pemantauan trombosit untuk manajemen klinis demam berdarah, meskipun faktor-faktor seperti terapi cairan dan fase penyakit perlu dipertimbangkan dalam interpretasi hematokrit.
Di sisi lain penelitian ini tidak mempertimbangkan keberadaan komorbiditas pada pasien, seperti penyakit infeksi lainnya, anemia, atau gangguan imunologis yang dapat memengaruhi nilai trombosit dan hematokrit. Lebih lanjut, penelitian ini tidak mengevaluasi pengaruh terapi yang telah diterima pasien sebelum pemeriksaan laboratorium, seperti cairan intravena atau antipiretik, yang dapat memengaruhi interpretasi data klinis. Aspek lain seperti waktu timbulnya gejala pertama dan status hidrasi pasien juga tidak dianalisis secara mendalam.
Penulis: Puspa Wardhani, Teguh Hari Sucipto, dkk.
Informasi detail artikel: Correlation Between Platelet and Hematocrite Values with Duration Fever in Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) Patients at Dr. Soedomo General Hospital, Trenggalek. https://e-journal.unair.ac.id/IJTID/article/view/73388





