Universitas Airlangga Official Website

Kranioplasti Pegas vs Konvensional: Mana Lebih Efektif?

Ilustrasi Kranioplasti. Contributors : Science Museum, London. Work ID: z4jzat3z.

Kraniosinostosis adalah penutupan dini satu atau lebih sutura kranial, terjadi pada sekitar 1:2000 hingga 1:2500 kelahiran hidup, dan mengakibatkan malformasi bentuk kepala. Intervensi bedah adalah perawatan definitif untuk memperbaiki bentuk kepala yang tidak normal dan mencegah gejala sisa neurokognitif akibat peningkatan tekanan intrakranial. Prosedur operasi umumnya dikategorikan menjadi ekspansi konvensional dengan remodeling kubah kranial terbuka (CVR), kranioplasti berbantuan pegas (SAC), dan operasi osteogenesis distraksi (DO). Studi ini membandingkan hasil perioperatif antara kranioplasti berbantuan pegas (SAC), osteogenesis distraksi (DO), dan ekspansi konvensional dalam operasi kraniosinostosis.

Tinjauan sistematis ini dilakukan sesuai dengan pedoman PRISMA 2020 untuk Tinjauan Sistematis dan Meta-Analisis. Pencarian elektronik komprehensif dilakukan menggunakan PubMed/Medline, Scopus, Science Direct, EBSCO, Web of Science, dan Cochrane Library, bersama dengan sumber literatur Gray (SSRN, pracetak Scopus, dan MedRxiv).Bias  publikasi dinilai dan kualitas studi dievaluasi menggunakan Newcastle Ottawa Scales (NOS).

Hasil primer mencakup kehilangan darah dan transfusi darah, sedangkan hasil sekunder mencakup komplikasi pascaoperasi, variabel terkait waktu seperti durasi operasi, durasi anestesi, lama tinggal di rumah sakit (LoS), dan lama tinggal di Unit Perawatan Intensif (ICU), dan hasil tindak lanjut jangka panjang seperti indeks kranial dan tingkat operasi ulang.

Tiga belas studi disertakan, dengan 7 studi membandingkan DO versus konvensional dan 6 membandingkan SAC vs konvensional. Semua studi memenuhi kriteria kelayakan untuk meta-analisis, dengan kualitas studi berkisar dari baik hingga sangat baik. Dibandingkan dengan konvensional, SAC atau DO secara signifikan mengurangi kehilangan darah (MD = -190,42 mL), dan transfusi darah (MD = -227,22). Selain itu, SAC dan DO memperpendek waktu operasi (MD = -94,38 menit), durasi anestesi (MD = -114,81 menit), masa inap di rumah sakit (MD = -0,68 hari), dan masa inap di ICU (MD = -1,00 hari). Tindak lanjut jangka panjang menunjukkan tingkat operasi ulang yang lebih rendah (OR = 0,20), tetapi tidak ada perubahan signifikan dalam indeks kranial pada 10 tahun follow-up (MD = 0,06, P = 0,74).

Studi ini menunjukkan bahwa pendekatan SAC atau DO dalam operasi kraniostosis dikaitkan dengan beberapa hasil yang menguntungkan, termasuk berkurangnya kehilangan darah akibat operasi, berkurangnya kebutuhan transfusi darah, dan waktu operasi yang lebih pendek, perawatan di ICU, dan perawatan di rumah sakit, serta durasi anestesi yang lebih pendek. Laporan hasil pascaoperasi yang terstandarisasi berguna untuk mengklasifikasikan tingkat keparahan komplikasi dan memandu strategi perawatan jangka panjang di masa mendatang untuk operasi kraniosinostosis.

Penulis : Dr. Indri Lakhsmi Putri, dr., Sp.BP-RE

Artikel dapat diakses di https://doi.org/10.1177/10556656241308034