Universitas Airlangga Official Website

Kupatan Asrama UNAIR, Belajar Membuat Ketupat, Lestarikan Budaya hingga Bangun Kohesi Sosial

Pemaparan materi oleh Dr Joni Haryanto S Kp M Si selaku narasumber dan Dr Ari Prasetyo SE M Si selaku ketua Pusat Asrama UNAIR. (Foto: Istimewa)
Pemaparan materi oleh Dr Joni Haryanto S Kp M Si selaku narasumber dan Dr Ari Prasetyo SE M Si selaku ketua Pusat Asrama UNAIR. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Waktu luang perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan kegiatan yang bermanfaat. Berbagai kegiatan unik dan menarik dapat diikuti, salah satunya adalah kegiatan Kupatan Asrama UNAIR. Kegiatan itu berlangsung pada Jumat (8/5/2026) di Ruang Rapat lantai 2 Pusat Asrama Mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR), diikuti oleh penghuni asrama UNAIR, mereka bersama belajar membuat kupat. 

Menganut tema Belajar Membuat Kupat: Lestarikan Budaya, Kembangkan Kreativitas, tidak hanya belajar untuk membuat kupat, terdapat dua pemaparan materi mengenai Filosofi dan Tradisi Kupatan serta Kohesi Sosial dengan Peka Budaya dalam Ranah Excellence with Morality. Kedua materi tersebut disampaikan oleh dosen dari UNAIR yaitu Dr Joni Haryanto S Kp M Si selaku narasumber dan Dr Ari Prasetyo SE M Si selaku ketua Pusat Asrama UNAIR. 

Kupatan berasal dari filsafat anyaman berbahan Janur, yang diartikan sebagai Ja’a nur kata serapan dari bahasa Arab yang berarti datangnya cahaya petunjuk. Ketupat Janur ini awalnya dibawakan oleh orang Arab yang bermigrasi ke Indonesia lalu diteruskan oleh Sunan Kalijaga sebagai wali untuk membuat ketupat ini di Jawa.

“Jadi orang yang sudah menjalani perjalanan puasa ramadhan, saling minta maaf, dan lain sebagainya, dilanjutkan puasa syawal dan lebaran ketupat. Hal tersebut dilambangkan dengan isi ketupat yaitu beras putih yang diikat menjadi anyaman. Anyaman yang rumit menunjukkan betapa ribetnya perilaku manusia, diikat sana sini sehingga membentuk empat sudut satu pancer yang dinamakan ketupat. Dari sinilah cara para leluhur mengajak orang-orang percaya kepada ajaran agama,” ujar Joni. 

Bentuk segi empat ketupat melambangkan prinsip ‘Papat Kiblat Limo Pancer’, empat arah mata angin dengan satu pusat. Hal itu mengingatkan manusia bahwa kemanapun mereka melangkah dan seberapa kompleksnya perjalanan hidup manusia, tujuan akhir mereka adalah kembali kepada sang pencipta, Allah Subhanahu wa ta’ala. 

Joni juga mengingatkan bahwa mereka harus memiliki karakter yang sejalan dengan sifat dari motto UNAIR, excellence with morality. Melalui kegiatan ini, ia berharap mahasiswa dapat membuat dan membuat ide baru dari ketupat seperti UMKM kupat sayur.

Kohesi sosial dalam asrama mahasiswa merujuk pada tingkat keterhubungan, solidaritas, kepercayaan, dan sense of belonging antar penghuni asrama, meskipun mereka berasal dari latar belakang, budaya, suku, dan pandangan yang berbeda. Peka budaya dalam asrama mahasiswa adalah kemampuan individu untuk memahami dan menghargai perbedaan latar belakang budaya, nilai, kepercayaan, dan kebiasaan sesama penghuni asrama. 

“Implementasinya bisa dilakukan dengan integritas kejujuran akademik, mematuhi aturan asrama, menghargai privasi teman, dan menjadi insan yang pintar namun tetap rendah hati dan beradab,” papar Ari. 

Penulis: Fauziah Kandela 

Editor: Khefti Al Mawalia