Universitas Airlangga Official Website

Laskar Literasi di Padenganploso: Kenalkan Perpustakaan Sekolah sebagai Sarana Mewujudkan Cita-Cita

UNAIR NEWS – Kelompok mahasiswa program Belajar Bareng Komunitas (BBK) 7 yang
berlokasi di Padenganploso, Pucuk, Lamongan menghidupkan suasana perpustakaan sekolah
desa melalui program kerja Laskar Literasi. Laskar Literasi merupakan salah satu program kerja
bidang pendidikan yang berfokus pada perpustakaan sekolah. Kegiatan ini dilakukan di dua
sekolah dasar yang ada di desa yakni Madrasah Ibtidaiyah (MI) AL-HIDAYAH yang
berlangsung pada Kamis (22/01/26) mulai pukul 08:00 hingga pukul 10:00 serta SDN 02
Padengan Ploso yang berlangsung pada Senin (19/01/26) mulai pukul 08:00 hingga pukul 10:00.
Program kerja ini tidak hanya dilakukan oleh para mahasiswa, melainkan juga siswa-siswi kelas
3 dan 4 serta guru setempat. Tujuan kegiatan selain untuk memperindah perpustakaan juga
mengedukasi anak-anak mengenai pentingnya perpustakaan sekolah.

Dalam pelaksanaannya, siswa-siswi mendapatkan edukasi mengenai pentingnya membaca buku
dan hal-hal yang berkaitan dengan perpustakaan seperti hal yang boleh dan tidak boleh
dilakukan. Setelah sesi pemaparan, kegiatan berlanjut dengan pembuatan origami yang kemudian
digantung di jendela. Siswa-siswi juga diminta untuk menuliskan cita-citanya pada kertas sticky
notes dan ditempel pada dinding perpustakaan. Kegiatan berlandaskan SDGs 4 “pendidikan
berkualitas” ini mengingatkan bahwa cita-cita yang tinggi diawali dari kebiasaan membaca.
Sejalan dengan tujuan SDGs, kegiatan ini juga memastikan pendidikan inklusif dan merata bagi
seluruh kalangan masyarakat.

Kenalkan Perpustakaan
Kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai perpustakaan. Anak-anak diperkenalkan
dengan pengertian perpustakaan sebagai tempat menyimpan dan menyediakan buku untuk
memenuhi kebutuhan informasi, pendidikan, dan rekreasi. Melalui materi ini, peserta diajak
memahami manfaat perpustakaan sebagai sarana belajar yang menyenangkan. Selain itu, anak-
anak juga diberikan pemahaman mengenai hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan di
perpustakaan, seperti membaca dengan suara pelan, menjaga kebersihan, serta merawat buku
dengan baik. Penyampaian materi dilakukan secara komunikatif agar mudah dipahami dan
menarik perhatian peserta.

Elvira, mahasiswa ilmu informasi dan perpustakaan sekaligus penanggungjawab program kerja
ini berpendapat bahwa perpustakaan merupakan landasan utama pendidikan. Oleh karena itu
perpustakaan harus mudah diakses dan menarik bagi seluruh kalangan agar pendidikan lebih
inklusif dan merata sehingga menciptakan pendidikan berkualitas.

“Anak-anak sekarang lebih dekat dengan teknologi gadget dan AI. Meski sebagian anak tahu
eksistensi perpustakaan, namun merasa tidak membutuhkan perpustakaan karena sudah memiliki
handphone dan AI. Dari situ, pengenalan perpustakaan dilakukan dengan games menarik dan
menghubungkannya dengan cita-cita mereka agar lebih menarik” ujar Elvira.

Penulisan Cita-Cita dan Origami Bersama
Setelah materi selesai disampaikan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi penulisan cita-cita. Anak-
anak diajak untuk menuliskan impian dan profesi yang ingin mereka capai di masa depan.
Melalui kegiatan ini, peserta didorong untuk berani bermimpi dan percaya bahwa membaca serta
belajar dapat menjadi langkah awal dalam mewujudkan cita-cita mereka. Mereka juga diberikan
pemahaman bahwa perpustakaan berperan aktif dalam cita-cita mereka. Selain itu, perpustakaan
menyediakan berbagai buku yang dapat membantu mereka meraih impian, seperti dokter, guru,
penulis, seniman, dan profesi lainnya.

Sebagai penutup, kegiatan diisi dengan origami bersama yang berlangsung dengan penuh
keceriaan. Anak-anak diajak melipat kertas menjadi berbagai bentuk menarik, sehingga melatih
kreativitas, ketelitian, dan kerja sama. Suasana menjadi semakin hidup dengan interaksi antara
peserta dan pendamping kegiatan. Hasil origami kemudian dirangkai menjadi beberapa bagian
dan digantung di jendela untuk memberikan kesan bahwa perpustakaan lebih menyenangkan dan
tidak membosankan bagi anak-anak. Melalui rangkaian kegiatan ini, diharapkan anak-anak tidak
hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga pengalaman belajar yang menyenangkan serta
menumbuhkan kecintaan terhadap membaca dan berkarya sejak usia dini.

Kolaborasi dengan Sekolah
Bu Kasuna sebagai kepala perpustakaan berpendapat bahwa kegiatan yang dilakukan menarik
dan dilakukan dengan antusias oleh anak-anak. Meskipun ada anak-anak yang tidak hobi
membaca dan lebih memilih untuk bermain dengan temannya, namun jumlah pengunjung
perpustakaan meningkat setelah kegiatan berlangsung. Beliau berharap dari kegiatan ini anak-
anak menjadi lebih sering mengunjungi perpustakaan untuk meningkatkan minat baca.
Sejalan dengan Bu Kasuna, Elvira berharap anak-anak mengetahui bahwa perpustakaan bukan
hanya tempat menyimpan buku. Melainkan tempat penuh pengetahuan yang dapat mereka
gunakan sebagai bekal masa depan.

“Harapannya kegiatan ini tidak hanya berhenti sampai sini saja. Guru-guru dan kepala
perpustakaan dapat melanjutkan kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan minat baca anak-
anak demi pendidikan yang lebih baik. Kemajuan bangsa membutuhkan mereka, dan kami ingin
ada hasil berkelanjutan meskipun sudah selesai BBK” Kata Elvira