Universitas Airlangga Official Website

Latihan Proprioseptif dan Penguatan Otot Tingkatkan Adaptasi Tubuh Atlet Sepatu Roda Remaja

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Prestasi olahraga tidak hanya ditentukan oleh bakat dan intensitas latihan, tetapi juga oleh kemampuan tubuh beradaptasi terhadap beban fisik. Pada atlet sepatu roda remaja, latihan yang tepat sangat penting karena mereka berada pada fase pertumbuhan sekaligus menghadapi tuntutan performa tinggi. Selain meningkatkan kecepatan dan kelincahan, program latihan juga harus mampu memperkuat sistem neuromuskular agar risiko cedera dapat dihindari. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kombinasi latihan proprioseptif dan penguatan otot selama delapan minggu mampu meningkatkan kadar irisin, suatu protein yang diproduksi otot saat beraktivitas, yang berperan dalam adaptasi metabolik dan fungsi neuromuskular.

Irisin dikenal sebagai myokine, yaitu molekul yang dilepaskan oleh otot rangka ketika berkontraksi. Protein ini berperan dalam mengatur metabolisme energi, meningkatkan plastisitas otot, mendukung aktivasi sistem saraf, serta membantu proses pemulihan jaringan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kadar irisin yang lebih tinggi berkaitan dengan koordinasi gerak yang lebih baik, daya tahan yang meningkat, serta ketahanan sistem muskuloskeletal terhadap cedera. Namun, hingga kini penelitian mengenai respons irisin pada atlet remaja, khususnya setelah latihan yang menggabungkan keseimbangan dan penguatan otot, masih sangat terbatas.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, peneliti melibatkan 30 atlet sepatu roda berusia 11–15 tahun yang dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok intervensi menjalani latihan proprioseptif dan penguatan otot sebanyak tiga kali setiap minggu selama delapan minggu, sedangkan kelompok kontrol tetap menjalani latihan rutin seperti biasa. Program latihan disusun secara bertahap mulai dari latihan keseimbangan statis, latihan dinamis, latihan pliometrik, hingga kombinasi gerakan yang semakin kompleks. Setiap sesi berlangsung sekitar satu jam di bawah pengawasan fisioterapis dan pelatih profesional sehingga keamanan dan kualitas latihan tetap terjaga. Sebelum dan setelah program selesai, seluruh peserta menjalani pemeriksaan kadar irisin melalui analisis serum darah.

Hasil penelitian menunjukkan peningkatan yang sangat nyata pada kelompok yang memperoleh latihan terpadu. Kadar irisin meningkat dari rata-rata 1,310 ng/mL menjadi 3,349 ng/mL, atau sekitar 2,6 kali lipat setelah delapan minggu latihan. Sebaliknya, kelompok kontrol hanya mengalami sedikit peningkatan, dari 1,453 ng/mL menjadi 1,603 ng/mL. Perbedaan kadar irisin antara kedua kelompok setelah intervensi juga terbukti signifikan secara statistik. Temuan ini menunjukkan bahwa latihan proprioseptif yang dipadukan dengan penguatan otot memberikan respons fisiologis yang jauh lebih besar dibandingkan latihan rutin saja.

Mengapa peningkatan irisin menjadi penting? Ketika otot bekerja secara teratur melalui latihan yang progresif, tubuh menghasilkan lebih banyak irisin sebagai bagian dari mekanisme adaptasi. Peningkatan molekul ini mencerminkan bahwa otot tidak hanya menjadi lebih kuat, tetapi juga mengalami perubahan metabolik yang mendukung efisiensi penggunaan energi dan komunikasi antara jaringan otot dengan organ lain. Adaptasi tersebut diperkirakan berkontribusi terhadap peningkatan kualitas gerakan, kestabilan sendi, serta kemampuan tubuh menghadapi beban latihan yang lebih tinggi. Dengan demikian, irisin berpotensi menjadi biomarker untuk mengevaluasi efektivitas program latihan olahraga.

Latihan proprioseptif sendiri berfokus pada peningkatan kemampuan tubuh mengenali posisi dan gerakan sendi melalui rangsangan sensorik. Ketika dipadukan dengan latihan penguatan otot, koordinasi antara otot, saraf, dan sistem keseimbangan menjadi lebih baik. Bagi atlet sepatu roda yang mengandalkan stabilitas, kecepatan perubahan arah, dan kontrol tubuh saat meluncur, adaptasi neuromuskular seperti ini sangat penting. Oleh karena itu, program latihan yang menggabungkan kedua komponen tersebut tidak hanya berpotensi meningkatkan performa, tetapi juga membantu mengurangi risiko cedera pada pergelangan kaki, lutut, maupun tungkai bawah. Meskipun penelitian ini belum mengukur performa olahraga atau angka cedera secara langsung, peningkatan irisin memberikan indikasi adanya adaptasi biologis yang mendukung tujuan tersebut.

Penelitian ini masih memiliki beberapa keterbatasan yaitu jumlah peserta relatif kecil dan hanya melibatkan atlet sepatu roda remaja sehingga hasil ini belum bisa dipastikan untuk dapat diterapkan pada cabang olahraga atau kelompok usia lain. Selain itu, gambaran perubahan irisin yang terjadi segera setelah setiap sesi latihan belum terlalu jelas karena pengukuran irisin hanya dilakukan sebelum dan sesudah program latihan, diperlukan evaluasi parameter neuromuskular secara objektif, seperti elektromiografi (EMG), tes keseimbangan, atau pengukuran performa fungsional untuk hasil yang lebih detail. Oleh karena itu, penelitian lanjutan masih diperlukan untuk menghubungkan peningkatan irisin dengan perubahan kemampuan fisik dan risiko cedera secara langsung.

Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan bukti bahwa latihan proprioseptif yang dikombinasikan dengan penguatan otot merupakan strategi yang efektif untuk meningkatkan kadar irisin pada atlet sepatu roda remaja. Peningkatan biomarker ini menunjukkan adanya adaptasi metabolik dan neuromuskular yang positif sebagai respons terhadap latihan yang terstruktur dan progresif. Temuan tersebut memperkuat pentingnya penyusunan program latihan yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan performa, tetapi juga mempertimbangkan aspek pencegahan cedera sejak usia muda. Dengan pendekatan latihan yang berbasis bukti ilmiah, pembinaan atlet remaja diharapkan mampu menghasilkan performa yang lebih optimal sekaligus mendukung kesehatan jangka panjang.

Penulis: Prof. Dr. Gadis Meinar Sari, dr., M.Kes

Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://www.jhsmr.org/index.php/jhsmr/article/view/1380

Widi Arti, Hening Laswati Putra, Gadis Meinar Sari, Suprianto, Okky Zubairi Abillah. (2026). Serum Irisin Dynamics in Response to Proprioceptive and Strengthening Training in Adolescent Inline Skaters. Journal of Health Science and Medical Research, 44, 1-9. 10.31584/jhsmr.20261380