Universitas Airlangga Official Website

Limbah sebagai Sumber Plastik Biodegradable terbaru?

Dalam dunia yang serba instan ini, manusia tidak bisa terlepas dari penggunaan plastik di berbagai lini kehidupan. Penggunaannya meliputi kemasan makanan dan botol, kerajinan tangan, barang-barang rumah tangga, dan komponen otomotif. Produksi plastik sintetis global mencapai sekitar 500 juta ton pada tahun 2020, yang menyebabkan penumpukan limbah dalam jumlah besar di lingkungan.

Data pengelolaan limbah menunjukkan bahwa 79% dari seluruh plastik yang diproduksi dibuang ke tempat pembuangan sampah atau lingkungan, sementara 12% dibakar, dan hanya 9% yang didaur ulang (Rosenboom et al., 2022). Plastik sintetis modern sebagian besar berasal dari bahan dasar minyak bumi seperti polietilen, polipropilen, polivinil klorida, polistiren, dan komponen lainnya (Alqahtani et al., 2021). Plastik sintetis umumnya sulit terurai di lingkungan dan mampu melepaskan bahan kimia berbahaya jika dibuang secara tidak benar, sehingga membahayakan satwa liar dan manusia. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan bioplastik berbahan dasar selulosa dari limbah kulit jagung dan karboksimetil selulosa (CMC) dengan menggunakan sorbitol sebagai bahan pemlastis.

Mengingat melimpahnya selulosa di Indonesia, penelitian ini berfokus pada pengembangan bahan plastik biodegradable dan ramah lingkungan dengan menggunakan sumber daya alam terbarukan dari lingkungan sekitar, sehingga menawarkan alternatif pengganti plastik berbahan dasar minyak bumi sintetis. Selulosa dapat diperoleh dari batang atau serat tanaman seperti jerami padi, batang tebu, dan kulit jagung (Saputra et al., 2014). Mengingat Indonesia memiliki produksi jagung yang besar yaitu sebesar 22,5 juta ton pada tahun 2020, kulit jagung, yang merupakan residu yang dihasilkan selama proses produksi, merupakan 38,38% dari total berat panen (Sumarwan, 2010).

Di dalam negeri, Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur mencatat penghasil jagung terbesar, khususnya jagung manis (Zea mays Saccharata), dengan hasil tahunan sebesar 5,37 juta ton. Bioplastik dibuat dengan biaya murah dari limbah pertanian, khususnya kulit jagung, sehingga mengurangi biaya produksi.

Hasil penelitian ini menunjukkan potensi pemanfaatan limbah kulit jagung sebagai sumber bioplastik yang layak, mendorong konsep ekonomi sirkular di Indonesia sekaligus memitigasi emisi gas rumah kaca, mengurangi volume limbah, dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi pedesaan. Dari percobaan ini menunjukkan bahwa penurunan CMC mengurangi persentase pembengkakan, dan peningkatan sorbitol meningkatkan persentase pembengkakan. Penurunan CMC dan sorbitol menyebabkan peningkatan penurunan berat badan dan penurunan masa. Selain itu, limbah kulit jagung manis dapat menjadi sumber plastik biodegradable yang potensial untuk potensi yang sangat baik di bidang domestik, pertanian, industri dan medis.

Penulis: Aditya Prana Iswara, S.T., M.Sc., P.H.D

Daftar Pustaka:

Rosenboom, JG., Langer, R. & Traverso, G. Bioplastics for a circular economy. Nat Rev Mater 7, 117–137 (2022). https://doi.org/10.1038/s41578-021-00407-8

Alqahtani, N., et al.2021.Development of low-cost biodegradable films from corn starch and date palm pits (Phoenix dactylifera), Food Bioscience, https://doi.org/10.1016/j.fbio.2021.101199.

Saputra,A.H.,et al.2014.Synthesis and Characterization of Carboxymethyl Cellulose (CMC) from Water Hyacinth Using Ethanol-Isobutyl Alcohol Mixture as the Solvents, International Journal of Chemical Engineering and Applications vol. 5, no. 1, pp. 36-40.

Sumarwan, U. (2010). Perubahan Pola Konsumsi Pangan Beras, Jagung dan Terigu Konsumen Indonesia Periode 1999-2009 dan Implikasinya Bagi Pengembangan Bahan Bakar Ramah Lingkungan Berbasis Pangan. Jurnal Pangan19(2), 157-168.