Lupus eritematosus sistemik (SLE) adalah penyakit autoimun kronis yang menyerang berbagai organ tubuh, termasuk jantung. Salah satu komplikasi serius dari SLE adalah perikarditis, yaitu peradangan pada lapisan pembungkus jantung. Kondisi ini bisa menyebabkan efusi perikardial masif dan komplikasi fatal seperti tamponade jantung atau gagal jantung. Namun, bagaimana jika kondisi ini terjadi pada ibu hamil? Penanganannya menjadi tantangan besar, mengingat perlunya menyeimbangkan risiko bagi ibu dan janin.
Kasus ini menceritakan pengalaman seorang wanita berusia 32 tahun yang sedang hamil 21 minggu dengan riwayat lupus perikarditis. Ia datang ke rumah sakit dengan keluhan sesak napas, demam, dan lemas selama lima hari. Riwayat medisnya mencatat bahwa dua tahun sebelumnya ia pernah menjalani perikardiosentesis karena efusi perikardial. Ketika diperiksa, kondisinya memburuk dengan tekanan darah rendah, hipoksia, dan tanda-tanda edema paru. Pemeriksaan ultrasonografi dan ekokardiografi mengungkapkan efusi perikardial masif, hipertensi pulmonal, serta regurgitasi katup jantung.
Dalam situasi ini, tim multidisiplin yang terdiri dari spesialis kardiologi, reumatologi, dan kedokteran maternal-fetal berdiskusi untuk menentukan langkah terbaik. Pengobatan lupus perikarditis sering kali melibatkan obat-obatan imunomodulator yang efektif tetapi dapat berdampak buruk pada janin. Misalnya, obat seperti mikofenolat mofetil atau siklofosfamid tidak dapat digunakan karena efek teratogeniknya. Pilihan yang lebih aman seperti imunoglobulin intravena dan steroid menjadi alternatif, meskipun efektivitasnya untuk kondisi ini masih terbatas.
Setelah diskusi dengan pasien dan keluarganya, keputusan sulit diambil: kehamilan harus dihentikan untuk menyelamatkan nyawanya. Prosedur perikardiosentesis dilakukan untuk mengurangi tekanan pada jantung, diikuti dengan pembedahan histerotomi untuk menghentikan kehamilan. Setelah prosedur, pasien dirawat intensif dan menunjukkan perbaikan klinis dalam beberapa hari.
Kasus ini menggambarkan tantangan besar dalam menangani lupus perikarditis pada kehamilan. Selain risiko yang tinggi bagi ibu, pilihan pengobatan terbatas karena adanya pertimbangan keselamatan janin. Diagnosis dini dan pendekatan tim multidisiplin menjadi kunci dalam mengelola kondisi ini.
Lupus perikarditis selama kehamilan adalah kondisi langka tetapi berisiko tinggi. Meski insidensnya rendah, komplikasinya bisa fatal. Diagnosis menggunakan ekokardiografi dan tes laboratorium membantu menentukan tingkat keparahan dan langkah penanganan yang tepat. Untuk kasus dengan efusi masif seperti ini, perikardiosentesis adalah langkah utama, sementara terapi imunomodulasi harus disesuaikan dengan kondisi kehamilan.
Ke depan, penting untuk meningkatkan kesadaran tentang risiko lupus selama kehamilan, terutama bagi wanita usia subur yang memiliki riwayat SLE. Konseling prakonsepsi dan penggunaan kontrasepsi dapat membantu mengurangi risiko kehamilan yang tidak direncanakan pada pasien dengan kondisi medis kompleks. Selain itu, penelitian lebih lanjut tentang obat yang aman dan efektif untuk SLE selama kehamilan perlu dilakukan untuk memberikan pilihan terapi yang lebih baik.
Kasus ini mengingatkan kita bahwa setiap kehamilan dengan lupus membawa tantangan unik, dan keputusan klinis harus selalu mempertimbangkan keselamatan ibu sebagai prioritas utama. Dengan pendekatan yang tepat, pasien seperti ini masih memiliki peluang untuk mendapatkan penanganan optimal meskipun dalam situasi yang sulit.
Penulis:
Alexander Indra Humala, Manggala Pasca Wardhana
Untuk informasi lebih lanjut bisa melalui link berikut:
10.1016/j.crwh.2024.e00662





