UNAIR NEWS – Keberadaan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Desa Kedungbanjar, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan sejatinya cukup beragam. Mulai dari bidang makanan dan minuman seperti mie ayam, bakso, nasi pecel, hingga bidang jasa. Seperti penatu dan depot air minum. Namun, di balik potensi tersebut, masih terdapat persoalan krusial yang dihadapi pelaku usaha. Yakni pemasaran yang belum optimal serta minimnya pencatatan keuangan.
Kondisi inilah yang akhirnya mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Belajar Bersama Komunitas (BBK) Universitas Airlangga (UNAIR) kelompok 7 menggagas dua program pendampingan UMKM. Keduanya ialah Gerakan Marketing UMKM (GEMA UMKM) dan Optimalisasi Pengelolaan Keuangan UMKM melalui RAB Berkelanjutan (OPERA UMKM) di Desa Kedungbanjar.
Perluas Jangkauan Pemasaran UMKM
Shafira Ramadina, selaku penanggung jawab GEMA UMKM, menjelaskan bahwa program yang berlangsung pada Jumat hingga Sabtu (9-10/1/2026) tersebut berfokus membantu pelaku UMKM dalam memperluas jangkauan pemasaran produk. Pasalnya, sebelum GEMA UMKM berjalan, sebagian besar UMKM di Desa Kedungbanjar hanya mengandalkan penjualan dari mulut ke mulut dan pelanggan sekitar lingkungan tempat tinggal.
Melalui GEMA UMKM, tim KKN BBK 7 menawarkan sejumlah solusi, seperti pembuatan banner usaha, pendaftaran lokasi UMKM di Google Maps, serta promosi melalui media sosial, khususnya TikTok. Selain itu, tim juga menyusun dan membagikan booklet panduan pemasaran yang berisi strategi pembuatan konten promosi dan perencanaan pemasaran.
“Setelah GEMA UMKM berjalan, produknya nggak cuma dikenal warga sekitar. Orang-orang dari luar desa juga sudah bisa pesan langsung lewat nomor yang kami cantumkan di banner dan Google Maps. Jadi, lebih memudahkan pembeli,” ujarnya.
Menata Keuangan Berkelanjutan
Sebagai langkah lanjutan untuk mematangkan pengelolaan UMKM, tim KKN BBK 7 kemudian melaksanakan OPERA UMKM yang berfokus pada penguatan pencatatan keuangan. Program yang berlangsung pada Minggu (11/1/2026) tersebut berlatarbelakang dari hasil observasi yang menunjukkan bahwa sebagian pelaku UMKM belum melakukan pencatatan keuangan secara sistematis.
M Mufthi Abhyasa selaku penanggung jawab OPERA UMKM menjelaskan bahwa melalui program ini, tim memberikan booklet keuangan yang dilengkapi format laporan keuangan sederhana serta pendampingan praktik pencatatan secara langsung. “Pelaku UMKM seringkali belum bisa membedakan omzet, laba bersih, dan beban usaha. Itu yang kami coba benahi, meski tantangannya adalah menyampaikan istilah akuntansi dengan bahasa yang mudah dipahami,” jelasnya.
Kendati demikian, Mufthi menilai respons pelaku UMKM terhadap OPERA UMKM sangat positif. Salah satu pedagang mie ayam mengaku terbantu karena kini mampu memahami kondisi keuangan usahanya dan mencatat pemasukan serta pengeluaran dengan lebih rapi. “Kami berharap pelaku UMKM bisa mengetahui apakah usahanya sehat atau justru merugi. Dengan pencatatan keuangan yang baik, UMKM bisa lebih kuat dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Kegiatan GEMA UMKM dan OPERA UMKM mendukung Sustainable Development Goals (SDGs). Terutama nomor 1, 8, dan 17, yaitu no poverty, decent work and economic growth, serta partnerships for the goals.
Penulis: Fania Tiara Berliana M
Editor: Yulia Rohmawati





