UNAIR NEWS – Kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan menjadi salah satu perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Belajar Bersama Komunitas (BBK) Universitas Airlangga (UNAIR) kelompok 7. Melalui program unggulan bertajuk Gerakan Menanam Biopori (GEMARI), mahasiswa BBK 7 memperkenalkan pemanfaatan biopori sebagai sistem drainase sederhana kepada masyarakat Desa Lebakadi, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan.
Program GEMARI berlangsung selama tiga minggu berturut-turut dengan melibatkan partisipasi warga di setiap dusun, yakni Dusun Meteseh, Dusun Balonggesing, Dusun Karanggeneng, dan Dusun Lebakadi. Kegiatan tersebut dirancang agar dapat diterapkan langsung oleh masyarakat, sehingga manfaat biopori tidak berhenti pada tahap sosialisasi semata, melainkan berlanjut dalam praktik sehari-hari di lingkungan rumah tangga.
Mengenal Program GEMARI
Sabilal Alif selaku koordinator Desa Lebakadi, memaparkan bahwa GEMARI bertujuan sebagai solusi cepat dan mudah dalam meningkatkan daya resap tanah, mengurangi limbah organik, serta memitigasi risiko banjir. Kegiatan ini dilaksanakan di rumah masing-masing kepala dusun dan diikuti oleh warga setempat sebagai bentuk keterlibatan langsung masyarakat dalam program lingkungan.
“Dari kegiatan ini, harapannya warga Desa Lebakadi dapat mencontoh dan mengimplementasikan biopori di halaman rumah masing-masing, supaya kedepannya dapat tercipta sebuah sistem pengelolaan sampah organik, daerah resapan, dan penghasil kompos alami,” ujarnya.
Biopori merupakan lubang resapan vertikal sederhana di dalam tanah yang berfungsi sebagai sarana resapan air hujan sekaligus pengelolaan sampah organik rumah tangga. Sampah organik seperti sisa sayuran, buah, dan daun kering yang dimasukkan ke dalam lubang biopori akan terurai secara alami menjadi kompos. Melalui pemanfaatan biopori, masyarakat dapat mengurangi volume sampah rumah tangga, menjaga kebersihan lingkungan, serta memanfaatkan kompos untuk menyuburkan tanaman pekarangan.
Demonstrasi dan Sosialisasi Biopori
Pelaksanaan kegiatan diawali dengan demonstrasi pembuatan biopori. Mulai dari penentuan titik pemasangan, proses pengeboran tanah, pemasangan pipa paralon, hingga pengisian lubang dengan sampah organik. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi mengenai fungsi dan manfaat biopori, khususnya dalam meningkatkan daya resap tanah dan mengurangi genangan air. Diskusi dan tanya jawab turut dilakukan untuk memperkuat pemahaman dan mendorong partisipasi aktif warga.
“Selama ini masyarakat belum sepenuhnya memahami konsep biopori. Melalui kegiatan GEMARI, kami merasa mendapatkan pengetahuan baru yang sangat bermanfaat. Program ini dinilai efektif karena jika diterapkan secara masif dapat mengurangi sampah organik sekaligus berfungsi sebagai lubang resapan air saat musim hujan. Harapannya, kegiatan ini dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat,” jelas Dian, Kepala Dusun Meteseh.
Senada dengan Alif, Fazila Naili selaku penanggung jawab acara menyampaikan bahwa program GEMARI menjadi wadah bagi mahasiswa untuk terlibat langsung dalam pengabdian masyarakat berbasis lingkungan. Ia menambahkan, dengan dukungan berbagai pihak dan sosialisasi lanjutan, GEMARI berpotensi memberikan dampak yang berkelanjutan bagi masyarakat desa.
Kegiatan GEMARI mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 3, 6, dan 17, yaitu good health and well-being, clean water and sanitation, serta partnerships for the goals.
Penulis: Fania Tiara Berliana M
Editor: Yulia Rohmawati





