UNAIR NEWS – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Belajar Bersama Komunitas (BBK) Angkatan ke-8 Universitas Airlangga (UNAIR) menyelenggarakan edukasi Bantuan Hidup Dasar atau Basic Life Support (BLS) bagi siswa-siswi SMK Al Hadad, Desa Saringembat, Kecamatan Singgahan, Kabupaten Tuban pada Selasa (28/07/2026). Sebagai salah satu program kerja unggulan hasil kolaborasi bidang Pendidikan dan Kesehatan, kolaborasi lintas bidang ini dirancang untuk tidak hanya meningkatkan pengetahuan pelajar, tetapi juga membentuk kesiapsiagaan mereka dalam menghadapi kondisi kegawatdaruratan. Kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dasar pelajar dalam memberikan pertolongan pertama ketika menghadapi kondisi kegawatdaruratan, seperti pingsan, henti jantung, dan tersedak.
Kondisi darurat dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Sayangnya, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui langkah pertolongan pertama yang tepat sehingga sering kali ragu untuk memberikan bantuan. Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa BBK 8 UNAIR menghadirkan sosialisasi yang tidak hanya berfokus pada penyampaian teori, tetapi juga memberikan pengalaman praktik secara langsung agar peserta lebih siap menghadapi situasi nyata.
Program ini lahir dari keyakinan bahwa keterampilan menyelamatkan nyawa merupakan bekal penting yang perlu dikenalkan sejak usia sekolah. Oleh karena itu, mahasiswa BBK 8 UNAIR menghadirkan metode pembelajaran yang menggabungkan penyampaian materi, praktik, simulasi, serta diskusi interaktif sehingga peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengaplikasikan langkah-langkah pertolongan pertama secara tepat ketika menghadapi situasi darurat.
Simulasi Interaktif Tingkatkan Kepercayaan Diri Peserta
Selama kegiatan berlangsung, peserta memperoleh pemahaman mengenai langkah awal yang harus dilakukan ketika menemukan seseorang yang tidak sadarkan diri, mulai dari memastikan keamanan lokasi, memeriksa respons korban, meminta bantuan, hingga mengenali kondisi henti jantung yang membutuhkan tindakan segera. Selain itu, peserta juga dibekali teknik pertolongan pertama pada korban tersedak sesuai prosedur yang benar sehingga dapat meminimalkan risiko yang lebih fatal sebelum bantuan medis datang.
Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi praktik dan simulasi Basic Life Support. Pada sesi ini, siswa-siswi mempraktikkan secara langsung teknik-teknik pertolongan pertama pada kondisi pingsan, henti jantung, maupun tersedak dengan pendampingan mahasiswa BBK 8 UNAIR. Simulasi dirancang menyerupai situasi yang mungkin ditemui dalam kehidupan sehari-hari sehingga peserta dapat memahami alur penanganan secara lebih nyata.
Suasana sosialisasi berlangsung interaktif melalui sesi tanya jawab dan praktik simulasi secara langsung yang dipandu oleh Mahasiswa KKN -BBK 8. Para peserta aktif mengajukan berbagai pertanyaan serta berani mencoba untuk mempraktikkan kegiatan Basic Life Support tersebut. Antusiasme tersebut menunjukkan tingginya ketertarikan peserta terhadap materi yang disampaikan sekaligus mencerminkan meningkatnya kesadaran akan pentingnya keterampilan pertolongan pertama.
Salah satu peserta, Risky, mengaku kegiatan ini memberinya pengetahuan baru yang sebelumnya belum pernah ia dapatkan.
“Awalnya saya mengira pertolongan pertama hanya bisa dilakukan oleh tenaga kesehatan. Setelah mengikuti sosialisasi ini, saya jadi cukup tahu bahwa ada langkah-langkah dasar yang juga bisa dilakukan oleh masyarakat sebelum bantuan medis datang. Ilmu ini menurut saya cukup bermanfaat dan semoga suatu saat bisa saya terapkan ketika dibutuhkan” ujar Risky.
Oleh karena itu, mahasiswa BBK 8 UNAIR berharap setelah melalui kegiatan ini siswa-siswi SMK Al Hadad tidak hanya memahami konsep Basic Life Support secara teori, tetapi juga memiliki keberanian dan kesiapan untuk memberikan pertolongan pertama secara tepat sebelum tenaga kesehatan tiba. Keterampilan ini diharapkan menjadi bekal yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari serta berkontribusi dalam menciptakan lingkungan sekolah yang lebih tanggap terhadap situasi kegawatdaruratan.
Kegiatan tersebut juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-3, yaitu Good Health and Well-being, yang berfokus pada upaya menjamin kehidupan yang sehat serta meningkatkan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat di semua kelompok usia, serta SDG 4: Pendidikan Berkualitas (Quality Education) melalui penyediaan pembelajaran yang aplikatif dan berbasis keterampilan hidup (life skills).
Penulis: M. SHANDY AL MUHABBANI





