UNAIR NEWS – Sungai Bengawan Solo yang melintasi wilayah Kabupaten Ngawi saat ini menghadapi ancaman pencemaran akibat pembuangan limbah industri, yang berdampak pada tercemarnya anak-anak sungai yang menjadi bagian dari daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo. Air sungai yang keruh, berbau, dan mengandung zat berbahaya itu mendorong mahasiswa Universitas Airlangga yang tergabung dalam tim Kuliah Kerja Nyata–Belajar Bersama Komunitas (KKN-BBK) ke-8 menghadirkan solusi berbasis alam. Program kerja bertajuk GESANG (Gerakan Sawah Apung) memperkenalkan penerapan Floating Treatment Wetlands (FTW) atau taman terapung kepada warga Dusun Ngawen dan Dusun Waru, Desa Kalang, Kecamatan Pitu, Kabupaten Ngawi, pada Rabu, 29 Juli 2026.
Cara kerja Floating Treatment Wetlands (FTW) yakni dengan memanfaatkan akar tanaman air yang menggantung langsung di permukaan sungai untuk menyerap zat pencemar seperti sisa pupuk, limbah sabun, dan logam berat berbahaya. Di sekitar akar tersebut, jutaan mikroba dan bakteri baik tumbuh dan memecah kotoran secara alami tanpa bahan kimia apapun. Hasilnya, air yang tercemar secara bertahap dapat dipulihkan kembali.
Tanaman yang digunakan meliputi eceng gondok, kangkung air, melati air, atau jenis-jenis tanaman yang terbukti memiliki akar lebat dan daya serap polutan tinggi. Menariknya, eceng gondok yang selama ini kerap dianggap gulma justru menjadi komponen utama yang dimanfaatkan secara optimal dalam penerapan taman terapung ini.
Praktik Langsung bersama Warga
Kegiatan tidak berhenti pada pemaparan materi, fungsi, maupun cara kerja Floating Treatment Wetlands saja. Mahasiswa BBK 8 UNAIR juga turut mengajak sekitar 2 hingga 5 orang warga Dusun Ngawen dan Dusun Waru untuk mempraktikkan langsung pembuatan Floating Treatment Wetlands menggunakan bahan-bahan sederhana yang mudah didapat. Rakitan dibuat dari styrofoam atau gabus tebal 7–10 cm dan botol mineral bekas yang dilubangi, kemudian diisi lapisan ijuk, kerikil, pasir, dan tanah sebelum ditanami eceng gondok dengan posisi akar mengarah ke bawah menyentuh air.
Pendekatan praktik langsung ini dipilih agar warga tidak hanya memahami fungsi, cara kerja, dan konsepnya, tetapi juga mampu membuat dan mengaplikasikan Floating Treatment Wetlands secara mandiri di lingkungan perairan sekitar desa. Alih-alih praktik langsung harapannya bisa dilakukan secara berkelanjutan.
Salah satu warga yang ikut serta bernama Ilona, mengungkapkan kekagumannya terhadap penerapan Floating Treatment Wetlands yang dihadirkan mahasiswa KKN BBK 8 UNAIR. “Sungguh bagus sekali bahwa kakak-kakak KKN dari UNAIR bisa menerapkan dan mengajarkan kami eceng gondok apung ini di anak aliran sungai Bengawan Solo, khususnya di Desa Kalang ini. Harapannya dengan menerapkan eceng gondok apung ini, sungai-sungai di Desa Kalang bisa bebas dari limbah,” ujarnya.
Melalui program kerja GESANG ini, mahasiswa KKN-BBK 8 Universitas Airlangga turut berkontribusi dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin 6 (Clean Water and Sanitation), melalui penerapan fitoremediasi yang secara langsung menurunkan pencemaran air sungai. Selain itu, program kerja ini sejalan dengan poin SDG 12 (Responsible Consumption and Production), melalui pemanfaatan kembali eceng gondok dan bahan daur ulang secara bertanggung jawab. Dan yang terakhir, program kerja ini selaras dengan SDG poin 15 (Life on Land), yang tercermin melalui upaya menjaga keseimbangan ekosistem perairan dan vegetasi di sekitar sungai.





