UNAIR NEWS – Sejumlah sembilan mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) yang tergabung dalam tim KKN BBK-6 melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di Kelurahan Sonokwijenan, Kecamatan Sukomanunggal, Kota Surabaya. Salah satu program unggulan yang mereka laksanakan adalah pengenalan seni kaligrafi Jepang atau Shodou kepada anak-anak dan remaja setempat.
Koordinator acara, Marsha, mahasiswa Sastra Jepang, menjelaskan bahwa kegiatan itu terinspirasi dari latar belakang akademiknya serta potensi lokal Kelurahan Sonokwijenan yang dikenal sebagai Kampung Bakat. Kawasan itu aktif mengembangkan seni lukis dan tari.
“Ketika survei lokasi, kami bertemu Pak Istoyo selaku pengelola Kampung Bakat. Beliau menyampaikan bahwa kaligrafi Jepang belum pernah diajarkan di sana. Padahal minat terhadap seni cukup tinggi. Jadi, ide ini terasa segar dan pas momennya, apalagi Pemerintah Kota Surabaya kini tengah menjalin kerja sama budaya dengan Jepang,” tuturnya.
Keterbatasan Alat Pelatihan
Kegiatan yang terlaksana pada Minggu (13/7/2025) ini melibatkan 16 peserta dari usia 4 hingga 15 tahun. Meskipun peralatan tradisional seperti suzuri, shitajiki, dan bunchin tidak tersedia, para mahasiswa tetap menggelar pelatihan menggunakan media sederhana seperti kuas, tinta, dan kertas. Seluruh anggota tim turut terlibat langsung dalam sesi pengajaran yang berlangsung interaktif.
Materi yang diajarkan meliputi pengenalan teknik dasar Shodou, cara memegang kuas, hingga menulis karakter kanji 和 (wa) yang berarti “damai.” Karakter ini dipilih karena mencerminkan semangat perdamaian yang melekat dalam budaya Jepang.
“Anak usia 4 tahun ikut belajar kaligrafi Jepang dengan penuh semangat. Orang tua mereka pun sangat antusias. Ini membuktikan bahwa budaya asing bisa diterima dengan baik jika disampaikan dengan cara yang menyenangkan dan edukatif,” ungkap Marsha.
Harapan Jangka Panjang
Marsha mengatakan selama kegiatan, tim mendapat dukungan penuh dari Pak Surip selaku Ketua RW 3, dan Pak Istoyo sebagai koordinator Kampung Bakat. Mereka berharap ke depan program ini dapat berlanjut dan dikembangkan menjadi bagian dari aktivitas seni rutin di kampung tersebut.
“Kami berharap Shodou bisa terus diajarkan, bahkan menjadi bagian dari program pertukaran budaya yang sedang digalakkan Pemkot Surabaya bersama Jepang. Semoga kampus, pemerintah, maupun lembaga seperti Japan Foundation bisa turut mendukung,” harapnya.
Penulis : Rosali Elvira Nurdiansyarani
Editor : Khefti Al Mawalia





