UNAIR NEWS – Masalah gizi merupakan gangguan kesehatan yang terjadi akibat ketidakseimbangan antara asupan dengan kebutuhan tubuh. Dari beberapa permasalahan gizi, salah satu permasalahan gizi dan perlu untuk segera diselesaikan adalah stunting. Stunting merupakan masalah kekurangan gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yaitu memiliki tinggi badan lebih rendah dari standar usianya.
Mengenai hal tersebut, 10 mahasiswa FKM UNAIR adakan Sosialisasi Pencegahan Stunting pada Kamis (29/12/2022) di Kelurahan Karangrejo. Ghani Armando selaku ketua pelaksana mengungkapkan, lokasi ini merupakan kawasan dengan angka tinggi dalam kasus stunting sebanyak 21,8 persen per-tahun lalu. Karena itu, pemilihan implementasi dari pembelajaran bangku perkuliahan Prodi Kesehatan Masyarakat dirasa penting untuk diterapkan diwilayah tersebut.
“Program ini digelar dengan melihat urgensitas tertinggi dari masalah kesehatan Kelurahan Karangrejo. Dan permasalahan gizi pada penyakit stunting merupakan kasus tertinggi sepanjang tahun 2022 saat ini,” ujarnya.
Sosialisasi pencegahan ini diisi langsung oleh salah satu mahasiswa FKM UNAIR Angkatan 2022, Sarah Theresa. Dalam paparannya, Sarah menjelaskan, MPASI (Makanan Pendamping Air Susu Ibu) merupakan salah satu usaha dalam pemenuhan gizi yang penting untuk pencegahan stunting.
“MPASI harus diberikan ketika bayi berusia 6 bulan keatas dengan takaran yang sesuai dengan kebutuhan bayi,” jelasnya.
Kemudian, Sarah menjelaskan, stunting dapat meningkatkan risiko terjadinya penurunan intelektual, produktivitas dan peningkatan risiko penyakit degeneratif dimasa mendatang apabila diabaikan keberadaannya.
“Fatalnya bisa sampai pada penyakit jantung, stroke, ginjal bahkan kematian pada anak,” ungkapnya.
Kemudian, mengenai hal itu, Ghani kembali menjelaskan, digelarnya agenda ini bertujuan untuk meminimalisi angka lahir bayi stunting dengan pembentukan Duta Gizi pada Kelurahan Karangrejo. Program ini akan memberikan kemudahan pihak puskesmas serta kesehatan menyeluruh terkait gizi kepada ibu hamil dan balita.
“Kita kumpulkan terlebih dahulu calon-calon duta yang sedang memiliki balita, baru kemudian seleksi pilih untuk ibu-ibu yang sudah memiliki keahlian dalam memberikan MPASI kepada bayinya untuk menjadi Duta Gizi,” imbuh mahasiswa FKM tersebut.
Duti Gizi ini secara berkala akan masuk kerumah-rumah warga bersamaan dengan apparat puskesmas untuk memberikan edukasi terkait pemberian MPASI yang baik dan benar. Kedepannya, imbuhnya, dengan terbentuknya Duta Gizi tersebut, Wilayah Karangrejo dapat terminimalisir angka kelahiran bayi stunting dengan stagnan.
“Sehingga, kami merasa program yang kami jalankan dapat bermanfaat dan sukses dengan pengaplikasian pembentukkan Duta Gizi pada masyarakat yang membutuhkan perihal kesehatan gizi pada balita di wilayah tersebut,” ungkapnya lagi.
Penulis : Azka Fauziya
Editor : Feri Fenoria





