UNAIR NEWS — Mahasiswa Program Studi Kebidanan Universitas Airlangga (UNAIR) melaksanakan kunjungan akademik ke Raja Isteri Pengiran Anak Saleha (RIPAS) Hospital, Brunei Darussalam, pada rangkaian kegiatan “Enhancing Partnership and Wellness: Outbounds and Community Development.” Kunjungan ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa Kebidanan UNAIR untuk mengenal secara langsung sistem dan penyelenggaraan pelayanan kesehatan di Brunei Darussalam. Melalui kunjungan ke RIPAS Hospital, mahasiswa mendapatkan pengalaman mengenai lingkungan pelayanan kesehatan serta wawasan terkait praktik pelayanan yang dapat memperkaya perspektif kebidanan.
Selain menjadi sarana pembelajaran, kegiatan ini juga mendorong mahasiswa untuk melakukan pertukaran pengetahuan dan pengalaman dengan tenaga kesehatan serta memahami pelayanan kesehatan dari perspektif internasional. Pengalaman tersebut diharapkan dapat meningkatkan kompetensi dan kesiapan mahasiswa Kebidanan UNAIR sebagai calon tenaga kesehatan profesional.
Kegiatan kunjungan ke RIPAS Hospital turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3: Good Health and Well-being, melalui penguatan kapasitas mahasiswa di bidang kesehatan dan peningkatan pemahaman mengenai pelayanan kesehatan yang berkualitas.
Kegiatan internasional ini menjadi salah satu bentuk upaya mahasiswa Kebidanan UNAIR dalam memperluas wawasan, membangun jejaring, serta membawa pengalaman global untuk mendukung pengembangan pelayanan kebidanan dan kesehatan ibu dan anak di masa mendatang.
Kenalkan Budaya Indonesia
Selain berkunjung ke RIPAS Hospital, mereka jugamemperkenalkan Tari Sinanggar Tulo, kesenian tradisional Batak, kepada mahasiswa Universiti Brunei Darussalam (UBD) dalam kegiatan pertukaran budaya. Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memperkenalkan kekayaan seni tradisional Indonesia sekaligus mempererat hubungan antar mahasiswa kedua perguruan tinggi.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa UNAIR memperkenalkan asal-usul, makna budaya, serta gerakan dasar tarian kepada mahasiswa UBD. Pengenalan dilakukan melalui penjelasan dan praktik bersama sehingga mahasiswa UBD dapat berpartisipasi secara langsung dalam mempelajari tarian tradisional Indonesia.
Antusiasme mahasiswa UBD terlihat selama kegiatan berlangsung. Interaksi melalui seni tari menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan membuka ruang bagi mahasiswa untuk saling mengenal budaya Indonesia dan Brunei Darussalam. Pengenalan Tari Sinanggar Tulo tidak hanya menjadi kegiatan seni, tetapi juga bagian dari pembelajaran lintas budaya. Melalui kegiatan ini, mahasiswa UNAIR berperan dalam memperkenalkan identitas budaya Indonesia kepada masyarakat internasional, khususnya lingkungan akademik di Brunei Darussalam.
Kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4: Pendidikan Berkualitas dan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Pertukaran budaya menjadi sarana pembelajaran yang memperluas wawasan mahasiswa, sekaligus mendorong kolaborasi dan hubungan baik antar mahasiswa dari dua negara. Selain itu, kegiatan ini turut mendukung pelestarian warisan budaya melalui pengenalan seni tradisional kepada generasi muda. Diharapkan, pengalaman tersebut dapat meningkatkan apresiasi mahasiswa terhadap keberagaman budaya serta mendorong keberlanjutan kegiatan pertukaran budaya di masa mendatang.
Melalui semangat kolaborasi dan pertukaran pengalaman, mahasiswa UNAIR dan UBD diharapkan dapat terus membangun hubungan akademik dan budaya yang positif. Pengenalan Tari Sinanggar Tulo menjadi salah satu langkah nyata mahasiswa dalam membawa budaya Indonesia ke tingkat internasional.
