UNAIR NEWS – Program Praktik Kerja Lapangan (PKL) Prodi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) UNAIR di Kelurahan Kalipuro menginisiasi Sekolah CERAH (Cerdas Remaja Lawan Hipertensi) yang dilaksanakan di SMPN 02 Kalipuro pada Kamis (15/1/2026). Program itu menyasar siswa yang tergabung dalam ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) sebagai kelompok remaja yang dinilai memiliki potensi besar menjadi penggerak perilaku hidup sehat di lingkungan sekolah. Kegiatan Sekolah CERAH dirancang berlangsung dalam empat kali pertemuan yang berfokus pada upaya promotif dan preventif penyakit tidak menular, khususnya hipertensi, sejak usia dini.
Melalui program CERAH, para siswa dibekali pemahaman mengenai pentingnya menjaga kesehatan sejak remaja, mengingat hipertensi tidak hanya menyerang kelompok usia dewasa dan lanjut usia, melainkan juga dari kebiasaan tidak sehat sejak dini. Edukasi itu harapannya mampu menumbuhkan kesadaran siswa akan pentingnya pola hidup sehat sebagai investasi kesehatan jangka panjang.
Cegah Hipertensi Dini
Pada salah satu sesi edukasi, tim PKL menghadirkan dua materi utama, yakni pencegahan hipertensi sejak dini dan pola konsumsi rendah garam, yang disampaikan oleh Satria Farrely dan Adisty Rizkia. Dalam pemaparannya, Satria menjelaskan bahwa hipertensi kerap tidak disadari karena seringkali tidak menimbulkan gejala yang jelas. Namun demikian, kondisi ini dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius seperti penyakit jantung, stroke, hingga gangguan ginjal apabila tidak dikendalikan dengan baik.
“Hipertensi sering disebut sebagai silent killer karena gejalanya tidak selalu terasa. Oleh karena itu, pencegahan melalui penerapan pola makan sehat dan gaya hidup aktif menjadi sangat penting,” jelasnya.
Satria juga memberikan penjelasan terkait batas tekanan darah normal sebagai bekal pengetahuan dasar bagi siswa. Ia menegaskan, seseorang dapat dikatakan mengalami hipertensi apabila hasil pengukuran tekanan darah menunjukkan angka sistolik lebih dari atau sama dengan 140 mmHg dan/atau diastolik lebih dari atau sama dengan 90 mmHg secara konsisten.
Edukasi Konsumsi Garam
Sementara itu, Adisty Rizkia menyoroti tingginya konsumsi garam dalam pola makan sehari-hari, khususnya pada masakan rumahan, yang sering kali tidak disadari. Menurutnya, kebiasaan tersebut dapat meningkatkan risiko hipertensi apabila dilakukan dalam jangka panjang.
“Mengubah pola makan keluarga tidak harus mahal. Kuncinya ada pada kesadaran dan kemauan untuk mulai mengurangi penggunaan garam sedikit demi sedikit,” ujarnya. Ia juga mendorong siswa untuk berani memulai perubahan dari diri sendiri dan menjadi contoh bagi lingkungan sekitar.
Di akhir sesi, tim PKL membagikan kartu kendali konsumsi garam yang akan dipantau setiap minggu selama satu bulan. Melalui Sekolah CERAH, tim PKL berharap siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mampu membentuk sikap dan perilaku hidup sehat sebagai agen perubahan dalam pencegahan hipertensi sejak dini.
Penulis : Dheva Yudistira Maulana
Editor : Khefti Al Mawalia





