Mahasiswa UNAIR Bikin Inovasi Paving Block Ramah Lingkungan dari Limbah Perikanan

23 Views•3 minutes read

UNAIR NEWS – Mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) ciptakan inovasi paving block ramah lingkungan berbahan dasar limbah perikanan. Mereka adalah Chelsea Hani Marcelia Sundawa, Istirarosa Artisa Putra, Ratu Zahra Angelita, yang berasal dari Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK), dan Naila Fatin Afifah dari Fakultas Vokasi.

Mereka membawa inovasi dalam kompetisi internasional MJIIX International Research and Innovation Competition (MJIIX IRIC). Melalui inovasi tersebut, keempatnya berhasil meraih bronze medal (perunggu) pada Senin (28/9/2026).

Kompetisi berskala internasional tersebut terselenggara oleh Malaysia Japan International Institute of Technology (MJIIT) di Universitas Teknologi Malaysia (UTM), Kuala Lumpur. MJIIX IRIC mempertemukan peserta dari berbagai jenjang, mulai dari S1, S2, S3, hingga praktisi dan dosen se-Asia Tenggara.

Chelsea menceritakan bahwa ide tersebut lahir dari kondisi riil beberapa daerah di Indonesia yang belum sepenuhnya memiliki infrastruktur jalan memadai. “Kami mengangkat inovasi ini karena melihat kondisi salah satu daerah di Tuban yang jalannya sangat rusak, becek, dan berair. Dari situ kami terpikir untuk membuat paving block yang tidak hanya kuat menahan air dan beban, tetapi juga ramah lingkungan dengan memanfaatkan limbah lokal,” ungkap Chelsea.

Inovasi tersebut mengombinasikan tepung cangkang kerang kapah dan tulang ikan yang dihaluskan sebagai substitusi parsial semen, serta ditambahkan alginat sebagai bahan perekat (binder). Dengan formula ini, penggunaan semen konvensional dapat berkurang hingga sepertiganya.

Keunggulan lain dari karya tim ini adalah prinsip zero waste dan efisiensi biaya. Chelsea dan tim memperoleh seluruh bahan baku utama berupa cangkang kerang dan tulang ikan secara cuma-cuma dari pedagang perikanan di pasar lokal.

Proses pembuatannya melalui serangkaian tahapan laboratorium di FPK UNAIR. Bahan baku dicuci bersih, kemudian dikeringkan menggunakan oven pada suhu 100°C selama 4 hingga 5 jam. Setelah kering, material dihaluskan (grinder) dan diayak menggunakan ayakan ukuran 100 mesh untuk tulang ikan dan 80 mesh untuk cangkang kerang.

“Satu tahapan penting yang kami lakukan adalah proses kalsinasi pada tepung tulang ikan. Tahap ini bertujuan untuk menghilangkan aroma amis khas ikan, sehingga material paving block yang dihasilkan benar-benar netral dan kokoh seperti semen,” jelas Chelsea. Dalam uji coba skala laboratorium, paving block inovasi mereka mampu mengering dan mengeras dengan padat dalam waktu relatif singkat, yaitu sekitar tiga hari.

Tampil dalam laga final secara luring (offline) di Kuala Lumpur menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi Chelsea dan tim. Pasalnya, mereka harus bersaing ketat tanpa pembagian kategori strata pendidikan. Artinya, penilaian karya mereka bersamaan dengan penilaian riset milik mahasiswa magister, doktor, hingga dosen.

“Awalnya tidak menyangka bisa meraih bronze medal. Mengingat lawannya tidak hanya sesama mahasiswa S1, tetapi ada jenjang S2, S3, bahkan dosen dari berbagai negara di Asia. Ini experience luar biasa bagi kami,” tutur Chelsea.

Penulis: Fauziah Laili Romadhon 

Editor: Yulia Rohmawati 

Universitas Airlangga
Excellence with Morality
If loading takes to long, go back to home by click here .