UNAIR NEWS – Universitas Airlangga (UNAIR) tidak hanya mencetak generasi berprestasi, namun juga mahasiswa berjiwa sosial yang tinggi. Kisah kali ini berasal dari Ilham Baskoro asal Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Reyhan Agung Ramadhan asal Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), serta dua mahasiswa asal Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) yaitu Moch Udhay Yunussabil dan Muhammad Farhan Afif Mauludin. Mereka berempat terlibat dalam Program Pemberdayaan dan Pengembangan Potensi Desa (P3D) wisata di Desa Parang, Kecamatan Karimunjawa, Kabupaten Jepara, pada Rabu (23/8/2023) hingga Kamis (31/8/2023).
Proyek itu merupakan inisiasi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berkolaborasi dengan berbagai pihak. Seperti Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Pemerintah Kabupaten Jepara, Dinas Perhubungan, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kesehatan, dan Pemerintah Desa Parang.
Berawal dari Pengabdian Masyarakat
Proyek ini berawal dari kolaborasi program pengabdian masyarakat oleh Pelita Mengabdi 5 di Pulau Parang. Namun, mahasiswa UNAIR tersebut mendapati beberapa hal yang perlu dikritisi saat tiba di lokasi pengabdian. Salah satunya adalah potensi Pulau Parang yang belum maksimal karena kurangnya kapasitas SDM, pembangunan infrastruktur, dan aksesibilitas yang sulit.
“Selama di sana tim kami membuat film dokumenter perihal potensi Pulau Parang dan sebagainya, yang kami beri judul Harapan Parang. Dari situ muncul diskusi-diskusi yang menyangkut pembahasan tentang pengelolaan SDM dan SDA Pulau Parang,” tutur Baskoro saat wawancara bersama UNAIR NEWS.
“Kami meyakini bahwa Pulau Parang dapat berkembang lebih jauh ke depan. Karena berbagai hal, termasuk aspek geografis dan kekayaan alamnya. Namun, sejauh ini masih dipandang sebelah mata oleh pemerintah maupun pihak swasta. Sehingga hal ini berdampak pada minimnya infrastruktur memadai dan berantai juga berantai pada pengelolaan Pulau Parang sendiri,” imbuh Baskoro.
Dari hasil diskusi tersebut, mereka memetakan permasalahan dan sektor mana saja yang berpotensi dikembangkan. Alih-alih gagasan mereka malah mendapatkan respon positif dari Pemprov Jawa Tengah. Kemudian, mereka ditunjuk sebagai tim eksekutor dalam program pembangunan desa.
Membangun Desa
“Akhirnya, kami dari Likur Production bersama beberapa stakeholder terkait membuat suatu program yang berfokus pada pengembangan di pariwisata dan UKM. Selain itu kami juga kerap melakukan beberapa pelatihan untuk pengembangan SDM selama sepuluh hari,” tutur Udhay salah satu tim Likur Production.
Banyak sekali kegiatan dalam program ini, ungkap Baskoro, yaitu pelatihan SDM untuk menunjang pengembangan pariwisata Desa Parang, Pelatihan UMKM Desa Parang, Sosialisasi Lansia dan Pencegahan Stunting, penanaman pohon bakau, hingga acara puncak yakni peluncuran grand design Desa Wisata Parang.
“Dalam program ini kami juga membangun museum dan pemetaan situs sejarah di Pulau Parang di bawah koordinasi Baskoro sebagai mahasiswa Ilmu Sejarah. Sedangkan saya dan Farhan meluncurkan wisata ekologi dan pembangunan PLTS,” ujar Udhay.
Dalam memastikan sustainability program ini, kami membutuhkan kolaborasi dan pembahasan lebih lanjut dengan beberapa instansi pemerintah serta stakeholder di Pulau Parang.
Pembangunan desa terpencil dengan SDM yang masih kurang memadai menjadi tantangan tersendiri bagi mereka. Maka dari itu, membutuhkan komunikasi yang baik antar tim dan lembaga yang ikut berkolaborasi. Walau demikian, pengalaman ini sangat berkesan bagi mereka, mengingat antusias warga dalam menampung ide-ide mereka.
Mereka berharap program ini dapat bermanfaat bagi masyarakat desa. Lewat program ini, ilmu-ilmu yang didapatkan dari proses pembelajaran di dalam dan luar kampus dapat terimplementasikan secara langsung dan berdampak pada masyarakat.
“Kami berharap seluruh kegiatan pelatihan mengenai pemberdayaan dan pengelolaan potensi Pulau Parang dapat diimplementasikan dengan baik dan mengalami keberlanjutan. Kemudian, dari sini kami harapkan tumbuh rasa ingin maju bersama dari masyarakat desa sendiri,” ujar Baskoro pada akhir sesi wawancara. (*)
Penulis: Aidatul Fitriyah
Editor: Binti Q Masruroh





