Mahasiswi UNAIR Raih Harapan II lewat Esai Literasi Kesehatan Digital

39 Views•2 minutes read

UNAIR NEWS — Siti Lia Nur Hidayati, mahasiswa Fakultas Farmasi (FF) Universitas Airlangga (UNAIR), raih Harapan II National Essay Competition Capsule UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Ia mengangkat literasi kesehatan digital melalui esai berjudul “Mengubah ‘Dr. Google’ Menjadi Generasi Cerdas Kesehatan: Revolusi Literasi Digital melalui Kurikulum 3T di Sekolah Indonesia”.

Lia menyoroti kebiasaan masyarakat mencari informasi kesehatan melalui internet. Dalam esainya, ia mencantumkan survei APJII 2024 yang menunjukkan 27,79 persen masyarakat Indonesia mengakses informasi kesehatan secara daring. Selain itu, ia juga menggunakan catatan BPOM mengenai sekitar 309 ribu tautan menyesatkan terkait obat, makanan, dan kosmetik di platform perdagangan elektronik sepanjang 2024.

“Kemudahan memperoleh informasi tidak selalu diikuti kemampuan untuk menilai apakah informasi tersebut benar, aman, dan dapat dipercaya,” ujarnya. Menurutnya, siswa perlu belajar memeriksa informasi sejak dini karena mereka tidak hanya menjadi penerima, tetapi dapat menyebarkan informasi kepada keluarga dan teman.

Sebagai solusi, Lia menawarkan Kurikulum 3T, yakni Teliti, Telaah, dan Tindak. “Pendekatan ini mengajak siswa memeriksa sumber informasi, menguji klaim dengan bukti tepercaya, lalu menentukan tindakan yang bertanggung jawab berbasis data,” katanya.

Pada tahap Teliti, siswa memeriksa pembuat konten, sumber, tanggal publikasi, dan kompetensi penulis. Tahap Telaah mengajak mereka membedakan fakta, opini, testimoni, dan klaim. Sementara tahap Tindak mendorong mereka tidak membagikan informasi menyesatkan serta mencari panduan dari sumber resmi.

Sebagai latihan, siswa dapat memeriksa klaim bahwa air lemon menyembuhkan COVID-19 atau iklan suplemen yang menjanjikan penurunan berat badan secara cepat. “Penerapan dari 3T tadi dapat dievaluasi secara berkala dan dapat di diskusikan bersama guru untuk memberikan masukan agar para siswa dapat berpikir lebih kritis,” tuturnya. 

Lia mengusulkan agar Kurikulum 3T tidak menjadi mata pelajaran baru, tetapi diintegrasikan ke pembelajaran yang sudah ada secara bertahap di sekolah. IPA dapat digunakan untuk menilai bukti ilmiah, Bahasa Indonesia untuk menganalisis argumen, dan Informatika untuk memeriksa sumber digital. Selain itu, siswa juga dapat berlatih melalui tantangan 3T dan mencatat hasilnya dalam Kartu 3T.

“Tujuannya bukan menjadikan siswa ‘dokter lewat Google’. Melainkan membentuk generasi yang mampu menggunakan internet secara kritis dan tahu kapan harus mencari bantuan tenaga kesehatan,” ujarnya. Dengan pendekatan ini, siswa harapannya tidak menjadikan hasil pencarian sebagai satu-satunya dasar untuk menentukan diagnosis atau pengobatan.

Penulis: Abraham Chrisanta Putra

Editor: Yulia Rohmawati

Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top