Salah satu metode memasak yang paling populer adalah menggoreng dengan menggunakan minyak. Makanan yang digoreng dengan minyak memiliki rasa yang gurih dan tekstur yang renyah. Masyarakat Indonesia sebagian besar penikmat makanan berlemak, berkolesterol atau gorengan dengan frekuensi konsumsi 1-6 kali perminggu. Minyak goreng diketahui tidak stabil pada suhu tinggi, dan apabila telah terpapar suhu tinggi sekitar 160-200 °C dapat menyebabkan berbagai perubahan fisik dan kimia yang dapat menghasilkan senyawa berbahaya, termasuk efek mutagenik, neurotoksik, dan hepatotoksik (Lopes et al., 2020; Panadare & Rathod, 2015; Rohim et al., 2023; Tsoutsos et al., 2016). Selain itu, pembuangan minyak jelantah yang tidak tepat juga meningkatkan masalah ekologi. Satu liter minyak jelantah dapat mencemari sekitar 500.000 liter air, yang menyebabkan sistem drainase tersumbat, berkurangnya kadar oksigen di dalam air, dan ketidakseimbangan ekologi (Awogbemi et al., 2021; Lopes et al., 2020; Okino-Delgado et al., 2017).
Menurut SNI 7709:2019, kualitas minyak goreng yang baik adalah minyak yang berwarna kuning hingga jingga, memiliki kadar asam lemak bebas maksimum 0,3%, kadar air maksimum 0,1%, dan nilai bilangan peroksida maksimum 10 meq O2/kg (SNI-7709-2019, 2019).
Meregenerasi minyak jelantah bertujuan agar dapat digunakan kembali dengan aman serta dapat mencegah risiko kesehatan dan bahaya lingkungan. Meskipun banyak metode yang digunakan untuk meregenerasi minyak jelantah, adsorpsi merupakan salah satu metode yang sederhana karena memiliki beberapa keunggulan, antara lain ketersediaan adsorben yang beragam, efisiensi yang tinggi, dan biaya yang murah (Akbar & Hasby, 2023). Adsorpsi menggunakan biosorben merupakan metode yang sederhana, hemat biaya, dan berkelanjutan. Selain itu, biosorben dipilih karena ketersediaannya yang melimpah di alam dan karakteristiknya yang dapat digunakan untuk adsorpsi.
Kunyit merupakan tanaman lokal Indonesia yang melimpah. Indonesia memproduksi kunyit sebanyak 205 juta kg pada tahun 2023 (Badan Pusat Statistik, 2024). Kunyit mengandung kurkumin yang memiliki gugus hidroksil yang dapat mengikat asam lemak bebas pada minyak jelantah. Kurkumin juga mengandung senyawa kimia seperti fenol yang dapat dimanfaatkan sebagai antioksidan alami. Senyawa aktif tersebut dapat menghambat proses oksidasi dan menurunkan bilangan peroksida pada minyak jelantah.
Hasil karakterisasi spektrum inframerah dari kunyit menunjukkan adanya gugus hidroksil yang berperan dalam adsorpsi asam lemak bebas, senyawa peroksida, dan kadar air pada minya jelantah. Proses adsorpsi kunyit terhadap asam lemak bebas mengikuti model isoterm Freundlich. Nilai asam lemak bebas, kadar air, dan bilangan peroksida minyak goreng bekas sebelum adsorpsi masing-masing sebesar 1,018%, 0,1350%, dan 11,68 meq O2/kg dimana nilai tersebut diatas ambang batas yang dianjurkan SNI. Setelah dilakukan adsorpsi menggunakan kunyit nilai-nilai tersebut mengalami penurunan hingga di bawah nilai maksimum SNI dengan efisiensi adsorpsi masing-masing 54,03%, 42,89%, dan 48,78%. Adsorpsi terhadap asam lemak bebas terbaik dihasilkan pada saat massa biosorben 20 gram per 100 mL minyak dengan waktu kontak 60 menit. Sedangkan kondisi terbaik untuk mengadsorpsi kadar air dan bilangan peroksida diperoleh pada saat massa biosorben 30 gram per 100 mL minyak dengan waktu kontak 60 menit. Kebutuhan massa biosorben yang berbeda dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah jenis zat yang diadsorpsi.
Dengan tercapainya tujuan penentuan efektivitas kunyit sebagai biosorben pada minyak jelantah, maka penelitian ini berkontribusi dalam pengembangan pendekatan regenerasi minyak jelantah yang ramah lingkungan dan ekonomis, yang sejalan dengan prinsip kimia hijau atau Green Chemistry.
Penulis: Qurrota A’yuni, S.Si., M.Si
Detail tulisan ini dapat dilihat di:
https://jppipa.unram.ac.id/index.php/jppipa/article/view/10201





