UNAIR NEWS – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) kini tidak hanya dimanfaatkan untuk mesin pencarian atau pemrograman, tetapi turut merambah dunia kearsipan dan pembuatan konten sejarah. Potensi tersebut menjadi materi utama dalam kuliah umum Museum Digital UNAIR bertema AI dan Warisan Budaya di Era Digital pada Sabtu (08/08) di Majapahit Hall, Gedung ASEEC Tower, Kampus B-Dharmawangsa.
Dalam pemaparannya, Deni Adi Santoso selaku pemateri menjelaskan bahwa AI mampu memperbaiki foto lama yang kusam, berjamur, atau sobek hanya dalam hitungan menit. Menurutnya, proses tersebut telah mengalami perkembangan signifikan daripada zaman dahulu yang mengandalkan Photoshop dan memakan waktu hingga dua jam. Selain itu, peserta melakukan praktik langsung cara merestorasi foto lama menggunakan ChatGPT.

Mengenal Perkembangan AI dan Batasan Penggunaan
Meski menawarkan kemudahan dan kecepatan, Deni tetap menekankan pentingnya batasan etis dalam merestorasi foto bersejarah. Ia memberikan garis pembeda antara restorasi dan manipulasi. Restorasi meliputi pembersihan noda kuning, mempertajam resolusi wajah, memperbaiki warna, serta mempertahankan identitas objek foto.
Sebaliknya, manipulasi meliputi mengganti struktur wajah asli atau menambahkan objek baru yang tidak ada dalam foto. Menurutnya, tindakan tersebut merusak sejarah. Ia turut menambahkan bahwa kemudahan tersebut kini memungkinkan setiap orang menyimpan sejarah masing-masing. “Dulu sejarah tersimpan dalam gedung, tetapi zaman sekarang diri kita bisa menyimpan sejarah itu,” ujar Deni. Praktisi sekaligus Filmmaker AI tersebut menyebutkan bahwa teknologi AI seharusnya menjadi alat merawat bukan mengubah sejarah.
Praktek Langsung Penggunaan AI untuk Restorasi dan Arsip
Setelah mendapatkan materi, peserta lalui membuat konten berbasis foto mulai dari artikel budaya, keterangan foto bergaya museum, hingga video pendek menggunakan Google Flow dengan teknologi Veo3. Peserta diajarkan menyusun prompt agar foto dapat berubah menjadi animasi singkat dengan narasi yang sesuai konteks zaman foto tersebut diambil.
Deni memilih membatasi porsi teori dan mengalihkan menjadi praktik langsung. “Saya tidak mau banyak teotri di sini, saya mau mengajak prakter saja”, ujarnya. Selain praktik restorasi, Ia turut membagikan tips digitalisasi arsip keluarga agar tidak mudah hilang atau tercecer. Contoh format penamaan tersebut adalah [Tahun_Keluarga_Bapak Karma Memncuci Motor]. Berkas arsip tersebut dapat disimpan di Google Drive maupun hard disk eksternal.
Penulis: Yongki Eka Cahya
Editor: Ragil Kukuh Imanto





