Ilustrasi AIP (Artikel Ilmiah Populer) (Foto: UNAIR NEWS)

Mekanisme Desensitisasi Alergi Udang

204 Views•5 minutes read

Alergi makanan, khususnya alergi udang, kini menjadi perhatian kesehatan global karena mempengaruhi jutaan orang. Kondisi ini diperkirakan diidap oleh sekitar 10% populasi dunia, dengan tingkat prevalensi 7,7% di Asia dan 2,3% di Amerika Serikat. Secara biologis, alergi udang merupakan reaksi sistem kekebalan tubuh yang dimediasi oleh antibodi IgE. Reaksi ini dipicu oleh tropomyosin, yaitu protein alergen utama pada udang yang merangsang pelepasan histamin dan menimbulkan gejala alergi. Penelitian kami sebelumnya pada model hewan coba (mencit) mengonfirmasi sifat alergi yang bergantung pada IgE ini, yang dibuktikan dengan lonjakan signifikan kadar IgE spesifik-udang setelah sensitisasi menggunakan ekstrak alergen udang (SAE). 

Sebagai alergen utama, tropomyosin memicu sensitisasi pada 23–83% penderita alergi udang. Menariknya, karena 94% dari individu tersebut juga bereaksi terhadap ekstrak udang utuh, ada indikasi kuat keterlibatan jenis alergen lain dari kelompok kerang-kerangan (seafood). Bahaya alergi ini tidak boleh diremehkan; paparan udang dalam jumlah sangat kecil pun dapat memicu reaksi parah. Akibatnya, sebanyak 50% pasien alergi udang terpaksa dilarikan ke instalasi gawat darurat akibat tidak sengaja mengonsumsi atau terpapar udang. Di dalam tubuh, reaksi alergi ini terjadi melalui proses yang sistematis: 1) Alergen makanan masuk ke usus dan memicu aktivitas sel dendritik (sel penyaji antigen). 2) Sel dendritik kemudian mengaktifkan sel T naif (sel imun yang belum terdiferensiasi). 3) Dengan bantuan protein pengikat GATA-3, sel T naif berkembang menjadi sel Th2. 4) GATA-3 memicu rangkaian reaksi alergi lanjutan dengan meningkatkan produksi sitokin Th2 yang krusial, yaitu IL-4, IL-5, dan IL-13. Ketiga sitokin inilah yang menggerakkan seluruh respons alergi di dalam tubuh. 5) Dalam proses ini, antibodi IgE mendorong pelepasan zat kimia (degranulasi) oleh sel mast yang telah sensitif, sebuah proses yang dipicu oleh IL-4. Sementara itu, sitokin IL-5 memperparah peradangan jaringan dengan mendatangkan sel eosinofil, dan IL-13 memperburuk kondisi melalui peningkatan produksi lendir (mukus) serta kerusakan fungsi lapisan pelindung (epitel) usus. 

Secara bersamaan, sel imun bawaan tipe 2 (ILC2)—yang dikendalikan oleh RAR-related orphan receptor alpha (RORα)—turut memperkuat peradangan ini dengan menghasilkan sitokin serupa. Kombinasi seluruh proses tersebut memicu gejala alergi, mulai dari pembengkakan ringan hingga syok anafilaksis yang mengancam jiwa. Penelitian terbaru pada jaringan limfoid usus (GALT) menunjukkan bahwa faktor pengatur imun seperti ILC2, RORα, dan Toll-like receptor 4 (TLR4) memegang peran kunci dalam mengoordinasikan peradangan. Karena fungsinya yang krusial dalam mengatur produksi sitokin, pengendalian sel Th2 dan ILC2 kini menjadi target yang sangat menjanjikan untuk mengembangkan obat baru sekaligus meningkatkan keberhasilan imunoterapi oral. Hingga saat ini, belum ada obat yang dapat menyembuhkan alergi makanan secara total. Namun, imunoterapi alergen (AIT)—khususnya imunoterapi oral (OIT)—kini menjadi metode yang menjanjikan untuk membangun kekebalan dan toleransi tubuh terhadap alergen. Terapi OIT bekerja dengan cara menggeser dominasi respons imun Th2 menjadi respons imun regulatori yang lebih seimbang. Secara spesifik, terapi ini mengubah rasio sitokin Th2/Th1 dan meningkatkan aktivitas sel T regulator (Treg). Peningkatan sel Treg ini memicu sekresi IL-10 dan TGF-β yang berfungsi menekan antibodi IgE berbahaya, sekaligus merangsang produksi antibodi pelindung seperti IgG dan IgA. Selain imunoterapi medis, bukti ilmiah terbaru menunjukkan bahwa beberapa jenis ekstrak alami dan ramuan herbal memiliki efek antialergi serta antiinflamasi. Senyawa alami ini bekerja dengan menekan produksi protein peradangan seperti IL-4, TNF-α, dan IL-6 pada sel imun. Temuan tersebut mendorong minat yang tinggi terhadap pemanfaatan senyawa alami sebagai pendamping imunoterapi spesifik guna mengoptimalkan penanganan alergi. 

Imunoterapi oral menggunakan ekstrak alergen udang (shrimp allergen extract atau SAE) menawarkan metode yang lebih aman dibandingkan imunoterapi subkutan (suntikan bawah kulit). Terapi ini bekerja secara terpusat pada jaringan limfoid terkait usus (GALT) untuk meredakan peradangan akibat alergi. Sebagai sediaan imunoterapi kasar berbasis udang, SAE berpotensi menjadi pengobatan yang efektif karena mampu menargetkan beberapa jenis alergen sekaligus, tidak terbatas pada tropomiosin saja. Keunggulan inilah yang membedakan penelitian kami dari studi lain yang umumnya hanya mengandalkan tropomyosin atau alergen udang rekombinan (buatan). Penggunaan SAE diperkirakan jauh lebih efektif dalam membangun toleransi alergi jangka panjang karena mencakup seluruh jenis alergen yang ada pada udang. Pada penelitian sebelumnya, kami berhasil membuktikan bahwa SAE secara signifikan meningkatkan efek desensitisasi awal pada mencit yang alergi. Namun, mekanisme molekuler yang mendasari tercapainya toleransi imun tersebut belum dipahami sepenuhnya. Oleh karena itu, penelitian ini dirancang untuk menganalisis efek seluler dan molekuler dari SAE. 

Penelitian ini bertujuan untuk melacak mekanisme yang mengubah respons imun dari kondisi pro-inflamasi (didominasi Th2) menjadi kondisi yang lebih toleran. Hasil penelitian kami menunjukkan kabar baik: bahkan setelah terapi dihentikan, SAE mampu mempertahankan toleransi imun dalam jangka waktu yang lama. Temuan ini mengindikasikan potensi besar SAE sebagai solusi penyembuhan permanen, baik untuk alergi udang maupun jenis makanan laut lainnya. Evaluasi difokuskan pada beberapa penanda imun utama, yaitu GATA-3, RORα, TLR4, IL-13, dan IL-5. Eksperimen ini menggunakan hewan coba tikus. Seluruh data hasil pengukuran yang diperoleh dianalisis secara statistik menggunakan uji ANOVA satu arah dengan tingkat signifikansi p ≤ 0,05. 

Pemberian terapi SAE terbukti secara signifikan menurunkan ekspresi GATA-3, RORα, TLR4, IL-13, dan IL-5 pada jaringan ileum tikus. Penurunan ini menunjukkan pola yang bergantung pada dosis (dose-dependent manner), di mana kelompok dengan dosis tertinggi memperlihatkan efek penekanan peradangan yang paling signifikan. Hasil ini menegaskan bahwa SAE memiliki pengaruh kuat dalam menghambat diferensiasi sel Th2 dan mengendalikan respons imun yang memicu peradangan alergi. 

Penelitian ini menyimpulkan bahwa imunoterapi oral menggunakan ekstrak alergen udang (SAE) berhasil menginduksi toleransi imun pada model tikus yang alergi udang. Mekanisme molekuler dari terapi ini bekerja melalui modulasi simultan (bersamaan), yaitu dengan menekan faktor transkripsi utama dan mediator peradangan secara bergantung pada dosis. Hal ini mengalihkan respons sistem imun tubuh dari kondisi pro-inflamasi (alergi) menuju kondisi yang lebih toleran. Secara keseluruhan, temuan ini memposisikan SAE sebagai kandidat terapi baru yang sangat menjanjikan untuk mengatasi alergi udang maupun alergi makanan laut lainnya. Meskipun demikian, penelitian lanjutan berskala klinis masih sangat diperlukan untuk memvalidasi keamanan, efikasi, dan efektivitasnya sebelum dapat diterapkan pada manusia. 

Penulis: Junaidi Khotib

Detail tulisan ini dapat diakses pada: https://www.researchgate.net/publication/404644753_The_Desensitization_Effects_of_Shrimp_Allergen_Extract_on_GATA-3_RORa_TLR4_IL-13_IL-5_Expression_in_a_Food_Allergy_in_Mice

Accessibility ✕
Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia English English
Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top