Universitas Airlangga Official Website

Meluruskan Tulang Belakang yang Bengkok Berat dengan Halo-Pelvic Traction: Masih Relevankah?

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Kelainan bentuk tulang belakang, seperti skoliosis (tulang belakang melengkung ke samping) dan kifosis (punggung membungkuk berlebihan), bukan hanya mengganggu penampilan. Pada kondisi yang berat, kelainan ini dapat menyebabkan nyeri kronis, gangguan keseimbangan, kesulitan berjalan, hingga mengganggu fungsi paru-paru karena bentuk rongga dada ikut berubah. Pada banyak kasus, operasi menjadi pilihan utama. Namun, jika tulang belakang sudah sangat kaku, operasi menjadi lebih sulit dan memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi.

Salah satu metode yang dapat membantu sebelum operasi adalah halo-pelvic traction (HPT). Teknik ini menggunakan alat berupa cincin yang dipasang pada kepala dan dihubungkan dengan penyangga di panggul. Alat tersebut memberikan tarikan secara bertahap selama beberapa minggu hingga bulan untuk meluruskan tulang belakang sedikit demi sedikit. Tujuannya adalah meningkatkan kelenturan tulang belakang sehingga operasi menjadi lebih aman dan hasil koreksinya lebih optimal.

Sebuah penelitian terbaru melakukan tinjauan sistematis dan meta-analisis terhadap 10 penelitian yang melibatkan pasien dewasa dengan deformitas tulang belakang berat. Hasilnya menunjukkan bahwa halo-pelvic traction mampu memberikan perbaikan bentuk tulang belakang yang sangat signifikan. Rata-rata sudut kelengkungan utama atau Cobb angle berkurang sekitar 55 derajat, sedangkan sudut kifosis berkurang sekitar 53 derajat. Perbaikan terbesar terlihat pada pasien yang menjalani HPT sebagai persiapan sebelum operasi.

Temuan ini menunjukkan bahwa HPT sangat efektif dalam membantu meluruskan tulang belakang yang sebelumnya sulit dikoreksi. Dengan bentuk tulang belakang yang sudah lebih baik sebelum operasi, dokter dapat melakukan tindakan bedah dengan lebih mudah serta berpotensi mengurangi risiko perdarahan, cedera saraf, maupun kebutuhan prosedur bedah yang lebih kompleks.

Namun, penelitian ini juga menemukan bahwa perbaikan bentuk tulang belakang belum tentu diikuti oleh penurunan nyeri atau peningkatan kemampuan beraktivitas. Secara keseluruhan, perubahan pada fungsi sehari-hari maupun tingkat nyeri belum menunjukkan perbedaan yang bermakna. Hal ini kemungkinan disebabkan karena sebagian besar pasien telah mengalami kelainan selama bertahun-tahun sehingga otot, sendi, dan saraf sudah mengalami perubahan yang tidak dapat langsung pulih meskipun posisi tulang belakang telah diperbaiki.

Selain manfaatnya, HPT juga memiliki beberapa kekurangan. Pasien harus menggunakan alat traksi dalam waktu yang cukup lama dan dapat mengalami ketidaknyamanan selama terapi. Beberapa komplikasi yang dilaporkan antara lain infeksi pada lokasi pemasangan pin, iritasi saraf di kepala, serta nyeri pada daerah panggul. Oleh karena itu, penggunaan HPT memerlukan pengawasan ketat dari tim medis dan tidak cocok untuk semua pasien.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, para peneliti menyimpulkan bahwa halo-pelvic traction masih memiliki peran penting, terutama pada pasien dewasa dengan deformitas tulang belakang yang sangat berat dan kaku. Meskipun belum terbukti memberikan perbaikan yang konsisten terhadap nyeri maupun fungsi sehari-hari, metode ini terbukti efektif dalam memperbaiki struktur tulang belakang sehingga dapat mempermudah operasi selanjutnya. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk mengetahui manfaat jangka panjang terhadap kualitas hidup pasien, sehingga dokter dapat menentukan siapa yang paling tepat mendapatkan terapi ini.

Penulis : Igin Ginting, Lukas Widhiyanto, Primadenny Ariesa Airlangga, Aries Rakhmat Hidayat

Link     :https://doi.org/10.1007/s43465-026-01692-7