Universitas Airlangga Official Website

Memahami Aktivitas Seksual Pasangan Infertil Bayi Tabung

ilustrasi pasangan (Sumber : pixabay.com/@SasinTipcha)

Infertilitas didefinisikan sebagai ketidakmampuan pasangan untuk mencapai kehamilan setelah 12 bulan atau lebih. Meskipun mereka sudah melakukan hubungan seksual secara teratur tanpa menggunakan kontrasepsi. Hal ini dapat disebabkan oleh karena kelainan pada sistem reproduksi baik pada wanita dan atau pria. Hal yang menarik pada pasangan infertil adalah kecenderungan mereka merasakan tekanan psikologis yang berat  dengan infertilitas yang mereka alami. Ini bisa disebabkan faktor lingkungan dan sosial, yang sering sekali menekan mereka untuk segera memiliki keturunan dengan menggunkan bayi tabung. 

Akibatnya, terdapat hubungan yang kompleks antara infertilitas, psikologis, dan aktivitas  seksual. Hubungan seksual dilaporkan seperti kehilangan daya Tarik pada pasangan infertil. Beberapa penelitian melaporkan bahwa pasangan dengan riwayat infertilitas berjuang dengan kehidupan seksual mereka. Usaha mereka untuk mengatasi masalah ini adalah dengan menjalani banyak pemeriksaan. Salah satunya adalah analisis sperma (dalam hal ini melibatkan masturbasi pada pria) atau tes postcoital (pada wanita). Kondisi ini terkadang membuat mereka menyadari adanya gangguan dalam kehidupan seksual mereka. Padahal antara seksual dan reproduksi tidaklah selalu terjadi bersamaan.

Budaya Indonesia sangat memuja-muja keberadaan anak dan menganggap aib jika belum berhasil memiliki anak. Tekanan seperti ini banyak membuat pasangan sangat “metodik” di dalam mendapatkan keturunan. Mereka mengatur segala cara untuk mendapatkan keturunan, mulai dari cara dan waktu berhubungan seks, hingga pada akhirnya mereka sulit menikmati hubungan seksual itu sendiri. Pada titik ini, hubungan seks antara pasangan seperti kehilangan makna, seks yang seharusnya bukan untuk hanya sarana reproduksi mulai kehilangan esensinya. Seharusnya seks antara pasangan adalah sarana membina hubungan, keintiman, dan juga bersenang-senang, namun yang terjadi justru sebaliknya. Tekanan yang sama juga terjadi pada saat pasangan infertil mencari pertolongan hingga mengandalkan teknologi reproduksi berbantu (TRB) atau bayi tabung. 

Serangkaian aktivitas dan pemeriksaan yang mereka jalani membuat mereka terkadang merasa kelelahan dan jenuh hingga berujung pada perubahan suasana hati dan kejiwaan mereka. Selain itu, pasangan juga memiliki ketakutan tersendiri untuk melakukan hubungan seks pada saat menjalani program karena hubungan seks akan menurunkan keberhasilan program bayi tabung yang mereka jalani. Alasan-alasan ini lah yang membuat pasangan enggan untuk melakukan hubungan seks dengan pasanganya. Kami melakukan studi kualitatif untuk menginvestigasi pemahaman dan pengalaman kehidupan seksual pasangan infertil yang menjalani program bayi tabung di salah satu rumah sakit di Surabaya. 

Pemahaman dan pengalaman pasangan bervariasi terhadap hubungan seksual mereka pada beberapa periode yang berbeda, seperti sebelum, selama, dan setelah program bayi tabung. Banyak peserta melaporkan bahwa program bayi tabung sangat mempengaruhi emosi dan suasana hati mereka, sehingga menyebabkan penurunan keinginan untuk menggunakan hubungans seksual pada saat program. Namun,yang menarik  ada juga pasangan yang tetap mengandalkan hubungan seksual sebagai dasar menciptakan optimisme dan percaya diri dalam memiliki keturunan. Mereka meyakini bahwa hubungan seksual bisa menciptakan dampak positif pada kehidupan rumah tangga mereka pada saat menjalani program bayi tabung.  Lebih lanjut, pasangan memahami bahwa tujuan dari hubungan seksual tidak hanya untuk mendapatkan keturunan tetapi juga untuk meningkatkan komunikasi, keintiman, dan mengungkapkan kasih sayang antara pasangan. Dan tidak sedikit juga yang mengungkapkan bahwa hubungan seks menakutkan untuk dilakukan pada saat menjalani program.

Pada dasarnya, pasangan memiliki pemahaman dan pengalaman yang berbeda-beda mengenai hubungan seks dalam kondisi mereka infertile. Namun, positifnya mereka tidak hanya memandang seks tetap bagian dari ibadah dalam sebuah hubungan rumah tangga. 

Oleh: Cennikon Pakpahan, dr., Sp.And

Sumber

Cennikon Pakpahan, Agustinus Agustinus, Ashon Sa’adi, Thi Tu An Nguyen, Pranee Liamputtong, Christantie Effendy, Aucky Hinting. (2024). Lay understanding and experience of sexual intercourse among couples with infertility undergoing an assisted reproduction technology program: A qualitative study. Heliyon. Volume 10, Issue 5. 2024. https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2024.e26879. 

Baca juga: Kenali Beda Gerd dan Asam Lambung serta Langkah Pencegahannya