Komunikasi adalah bagian penting dari kehidupan, tetapi bagi beberapa anak, terutama mereka yang mengalami Gangguan Bahasa Khusus (Specific Language Impairment atau SLI), berbicara dan menyusun kalimat bisa menjadi tantangan nyata. Sebuah penelitian terbaru memberikan wawasan baru tentang bagaimana anak-anak bilingual—khususnya yang berbicara dalam bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia—menunjukkan pola bicara unik ketika mereka memiliki SLI. Penelitian ini menawarkan pemahaman baru yang dapat membantu dalam diagnosis dan pemahaman gangguan bahasa pada anak-anak bilingual.
SLI adalah kondisi yang mempengaruhi kemampuan seorang anak untuk berkomunikasi dan mengembangkan keterampilan bahasa, meskipun mereka tidak memiliki masalah pendengaran, neurologis, atau intelektual. Dengan kata lain, anak-anak ini mengalami kesulitan dalam berbicara dan menyusun kalimat, meskipun kemampuan kognitif lainnya tidak terganggu. Bagi anak-anak bilingual, masalah ini bisa menjadi lebih rumit karena mereka harus menguasai dua bahasa, masing-masing dengan aturan dan struktur yang berbeda.
Salah satu fokus utama penelitian ini adalah bagaimana anak-anak dengan SLI menggunakan jeda (Speech Pauses) dalam bicara mereka. Jeda, yang mungkin tampak seperti istirahat sepele selama percakapan, sebenarnya dapat mengungkap banyak hal tentang bagaimana seorang anak memproses bahasa. Pada anak-anak dengan SLI, jeda cenderung lebih lama dan lebih sering, terutama ketika mereka mencari kata yang tepat atau mencoba menyusun pikiran mereka.
Bagi anak-anak bilingual, pola jeda bisa berbeda tergantung pada bahasa yang mereka gunakan. Tim peneliti mengamati bagaimana anak-anak dengan SLI berhenti saat berbicara dalam bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Mereka menemukan bahwa jeda dalam Bahasa Indonesia umumnya lebih lama dan lebih sering dibandingkan dengan bahasa Inggris.
Dalam penelitian ini, seorang anak berusia 12 tahun yang diduga memiliki SLI dibandingkan dengan anak-anak yang berkembang normal pada usia yang sama, yang juga berbicara kedua bahasa. Para peneliti mengamati bahwa anak dengan SLI berhenti jauh lebih sering daripada teman-temannya—hampir 2,4 kali lebih sering ketika berbicara dalam Bahasa Indonesia dan 1,5 kali lebih sering saat berbicara dalam bahasa Inggris. Ini menunjukkan bahwa anak tersebut mengalami kesulitan lebih besar dalam memproses bahasa dalam Bahasa Indonesia, mungkin karena perbedaan struktur dan kompleksitas bahasa tersebut.
Menariknya, bahkan anak-anak yang berkembang normal juga menunjukkan beberapa perbedaan dalam pola jeda antara kedua bahasa, meskipun jeda mereka jauh lebih pendek dan jarang. Ini menunjukkan bahwa anak-anak bilingual mungkin umumnya lebih sering berhenti di satu bahasa dibandingkan bahasa lain, tergantung pada seberapa akrab atau rumit bahasa tersebut bagi mereka.
Jeda bukan sekadar ruang kosong dalam pembicaraan—mereka dapat memberi tahu kita bagaimana anak-anak dengan SLI memproses bahasa. Jeda yang lebih lama dan lebih sering yang diamati pada anak bilingual dengan SLI menunjukkan adanya kesulitan dalam menyusun kalimat dan menemukan kata yang tepat. Faktanya, lebih dari 60% dari ucapan anak tersebut dalam Bahasa Indonesia terdiri dari jeda, dibandingkan dengan sekitar 50% saat berbicara dalam bahasa Inggris.
Temuan ini menunjukkan bahwa menganalisis pola jeda pada anak-anak bilingual dapat menjadi cara baru untuk mengidentifikasi dan mendiagnosis SLI lebih awal. Semakin lama dan semakin sering jeda tersebut, semakin besar kemungkinan anak tersebut mengalami kesulitan berbahasa.
Penelitian ini membuka pintu bagi metode baru dalam mendiagnosis dan memahami SLI pada anak-anak bilingual. Dengan fokus pada pola jeda dan membandingkan bagaimana anak-anak berbicara dalam kedua bahasa mereka, terapis wicara dan pendidik dapat mengembangkan strategi yang lebih baik untuk mendukung anak-anak bilingual yang menghadapi kesulitan bahasa.
Dalam dunia di mana bilingualisme semakin umum, wawasan ini menjadi semakin penting. Bagi anak-anak dengan SLI, memahami tantangan unik mereka dalam kedua bahasa sangat penting untuk membantu mereka meningkatkan keterampilan komunikasi mereka dan memastikan bahwa mereka dapat mengekspresikan diri dengan percaya diri, apa pun bahasa yang mereka gunakan.
Penulis: Angkita Wasito Kirana, S.Hum., M.Hum.
Link: https://ejournal.iainmadura.ac.id/index.php/okara/article/view/12748/3923
https://doi.org/10.19105/ojbs.v18i1.12748
Baca juga: Perspektif Perawat dalam Mengelola Nyeri dan Stres pada Anak





